24 Jam Keliling Payakumbuh Hingga Harau di Sumatera Barat
![]() |
| Keliling Payakumbuh hingga Harau di Sumatera Barat. Foto milik www.jalansitu.com. |
Sebenarnya, 24 jam keliling Payakumbuh hingga Harau itu tidak cukup karena keduanya merupakan daerah-daerah unggulan pariwisata Sumatera Barat. Namun kami datang bukan pada saatnya liburan panjang, melainkan karena ada undangan pesta pernikahan teman kantor. Karena jaraknya cukup jauh dari Riau, maka sedapat mungkin kami memanfaatkannya untuk sekalian berwisata.
Kami berangkat pada hari Sabtu menggunakan 10 mobil yang masing-masing berisi 4-6 orang (satu mobil untuk 1-2 keluarga) heheheee. Rombongan yang cukup besar, bukan? Koordinasi dilakukan oleh para ayah melalui Whatsapp voice call. Koordinasi dengan banyak orang itu ternyata tidak mudah karena ada nyasar, antri BBM, kena macet, tidak kebagian parkir di restoran dan sebagainya.
Namun perjalanan tersebut menghasilkan berkah baru karena mendekatkan anggota keluarga karyawan yang sebagian tak saling mengenal. Berikut ini adalah tempat-tempat yang kami kunjungi.
1. Menghadiri Pesta Pernikahan di Payakumbuh
Lokasi pestanya jauh dari pusat Kota Payakumbuh. Mungkin termasuk daerah perbatasan dengan kabupaten lain. Lokasinya di dataran tinggi sehingga udaranya sejuk dan pemandangannya menyenangkan. Dari sini tampak Marapi, gunung paling aktif di Sumbar. Kami terpesona melihat banyak rumah dengan atap seperti tanduk kerbau sehingga daerah ini termasuk wilayah Minangkabau.
Orang Riau dan Sumbar menyebut resepsi pernikahan sebagai pesta pernikahan. Umumnya, pesta diadakan di rumah pengantin wanita dari siang hingga malam hari. Pengantin akan turun dari pelaminan tiap jam sholat. Sedangkan tamu bebas menentukan jam kedatangan. Saat itu kami datang pada siang hari.
Karena diadakan di rumah, mereka mendirikan tenda yang cukup besar. Tenda pernikahan di Riau dan Sumbar rata-rata diberi banyak hiasan sehingga pemasangannya lama. Tenda di pesta ini juga dipasangi lampu-lampu gantung sehingga terlihat mewah. Hiburannya berupa grup akapela yang merdu dan harmonis dengan menyanyikan lagu-lagu Islami hingga pop barat.
Di Jawa, tamu akan bersalaman dulu dengan pengantin sebelum menikmati hidangan. Di Sumbar, tamu makan dulu, baru kemudian bersalaman dan pulang. Suasana di pesta pernikahan Sumbar dan Riau juga lebih santai dan akrab. Masyarakat Minangkabau memiliki karakter yang terbuka dan hangat.
Hidangan juaranya tentu saja rendang. Nikmat sekali rendang buatan warga asli di daerah asalnya. Dagingnya juga sangat empuk sehingga kami tidak mengalami kesulitan untuk mengunyah. Sebenarnya kami ingin nambah tapi malu.
2. Nyore di Puncak Batu Barigi
Dari pesta, kami menuju ke Puncak Batu Barigi atas usul salah satu anggota rombongan. Lokasinya cukup jauh dari tempat pesta, namun ke arah tempat kami akan menginap, yaitu Harau. Perjalanan ini dimulai dengan sedikit chaos karena mobil kami yang paling depan salah belok. Namun justru karena itu, kami tidak perlu melewati jalan berkelok, melainkan lewat jalan besar dan datar.
Kami sampai di lokasi hampir bersamaan dengan anggota lainnya. Kontur tempat ini cukup unik karena terdapat lapangan sepak bola yang luas di dataran tinggi. Waktu itu juga sedang ada turnamen. Pasti nyaman bermain bola di sini karena hawanya sejuk.
Puncak Batu Barigi merupakan spot untuk menikmati pemandangan atau panorama lembah yang membentang luas. Jalan menuju tempat ini merupakan sebuah jalan yang menanjak di ujung lapangan. Mobil bisa naik kok, asal sopirnya berpengalaman. Warga sudah mengatur arus naik dan turun mobil sehingga tidak berpapasan. Kami mengambil banyak foto. Di dekat spot tersebut ada beberapa kedai yang dapat digunakan untuk menikmati keindahan alam sambil minum kopi.
Sebelum matahari terbenam, kami turun menuju Harau. Kami sempat berhenti di tengah perjalanan karena ada acara budaya masyarakat lokal. Mereka melepas beberapa itik lalu menari dan menyanyi diiringi alat musik tradisional.
3. Menginap di Aura Homestay Harau
Homestay ini disewa seluruhnya oleh rombongan kami jauh-jauh hari setelah sempat kesulitan mendapatkan penginapan yang dapat menampung kami semua beserta mobil-mobil kami. Waktu itu bertepatan dengan libur semester genap. Sebagai informasi, hampir mustahil mendapatkan penginapan dadakan di Harau.
Tampilan luar penginapan ini unik, berupa beberapa cottage bertingkat dan ada pula yang terpisah. Di seberang penginapan terdapat tebing vertikal yang tinggi. Penginapan ini juga dekat dengan Harau Sky Waterpark dan salah satu air terjun. Kami beruntung karena air terjun pas ada airnya karena di bulan tertentu airnya kering.
Harga sewanya Rp350.000 per kamar dengan fasilitas sederhana tapi bersih, berupa kamar yang luas dan berkarpet, kamar mandi dalam dengan air yang bersih dan deras, kipas angin, TV tapi kami tidak menemukan remote-nya, kasur busa lebar dan kasur busa kecil tanpa dipan dan jemuran handuk. Tamu harus membawa handuk dan sabun sendiri.
Kami juga meminta penginapan menyediakan makan malam berupa nasi, ayam bakar dan jagung bakar. Untuk sarapan, kami beli di warung sebelah berupa lontong sayur, nasi goreng, mi goreng dan mi rebus. Saran kami, pilih lontong sayur saja karena untuk menu yang harus dimasak butuh waktu yang terlalu lama.
Sambil menunggu pesanan sarapan saya, yaitu mie rebus instan yang entah mengapa lama banget masaknya, mamah melihat-lihat Leven Coffee and Eatery. Kafe ini memiliki fasilitas outdoor seperti panggung dengan pemandangan yang menakjubkan. Dari sini, kita dapat melihat air terjun dan tebing-tebing vertikal. Tebing-tebing tersebut merupakan latar foto yang menawan. Sayang waktu itu kafe masih tutup dan baru akan buka pada jam 09.00.
Di bawah Leven ada glamping yang bagus bernama The Edge. Kapan-kapan pengin nyoba glamping di sini.
4. Sekelumit Harau
Harau merupakan destinasi wisata antara Pekanbaru dan Bukittinggi. Pertigaan Harau merupakan sumber kemacetan mulai siang hari dan makin paranh menjelang malam hari di musim liburan. Sepulang dari Puncak Batu Barigi menuju penginapan di Harau sehari sebelumnya, kami juga terjebak dalam antrian yang sangat panjang. Akhirnya kami mengambil risiko belok kiri lewat jalan tikus dengan bermodalkan Google Maps. Kami sempat putar balik karena ada jalan yang tertutup tenda pesta pernikahan. Tiket masuk kawasan Harau Rp5.000 per orang.
Minggu pagi setelah sarapan, rombongan terbagi 4, yaitu ada yang ke Bukittinggi, kembali ke Pekanbaru, keliling Harau dan mencari solar. Mobil kami termasuk yang mencari solar. Sebenarnya, mobil kami tidak lebih boros dari mobil rombongan lainnya. Tapi starting point kami di luar Kota Pekanbaru sehingga sudah terpakai sebagian meski berangkat penuh.
Sebelum keluar area Harau, kami sempatkan melihat air terjun terdekat. Kondisi saat itu masih sepi sehingga kami bisa mendapatkan tempat parkir dengan mudah. Mamah membeli pisang goreng panir dengan harga Rp5.000 per biji. Pisangnya besar dan teksturnya seperti pisang tanduk tapi rasanya manis dan enak. Saran untuk pengelola, kios pedagang sebaiknya diatur tidak terlalu dekat dengan air terjun agar keindahannya terjaga.
Dari air terjun, kami langsung buru-buru ke SPBU. Ternyata antrian solar sudah sangat panjang. Kami perkirakan antrian ini akan lebih dari 2 jam. Jadi kami putuskan untuk membeli Dex agar cukup sampai Pekanbaru. Di antrian Dex hanya ada satu mobil lainnya karena harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan solar.
5. Gagal Makan Sate Danguang-danguang
Sate ini merupakan obsesi papah. Sate danguang-danguang mirip sate padang tapi lebih kaya rempah dan tidak terlalu pedas. Dagingnya lebih besar dan empuk karena ada campuran kelapanya. Sebenarnya, sate ini ada di kota kami. Tapi makan sate danguan-danguang di daerah asalnya tentu akan berbeda.
Terakhir ke Payakumbuh pada tahun 2023, kami melewatkan membeli sate ini karena sudah makan. Ketika tiba di penginapan di Harau, papah terus terbayang kelezatannya. Ketika memutuskan untuk balik lagi, ternyata jalan ke kedai sudah ditutup polisi karena macet total.
Kali ini kami niatkan harus berhasil makan sate danguang-danguang asli yang terdapat di Pasar Payakumbuh. Jadi setelah membeli BBM, kami langsung menuju Pasat Payakumbuh mumpung jalanan masih lengang. Papah kembali harus kecewa karena kedai ini dan kedai-kedai lain di dekatnya belum buka. Menurut informasi orang-orang di sekitarnya, sate ini buka sore.
Kami juga berusaha mencari kedai lain yang jauh dari pasar mengikuti petunjuk Google Maps. Menurut Gmaps, kedai-kedai tersebut buka pagi. Tapi sampai di titiknya, kedai-kedainya tersebut tidak ada.
6. Mengunjungi Padang Mengatas, New Zealand van Sumbar
Jadwal rombongan kami selanjutnya adalah ke Padang Mengatas. Karena gagal makan sate, maka kami tiba lebih dulu di lokasi. Anggota rombongan lain masih mengeksplorasi Harau. Rutenya cukup mudah, yaitu dari tengah Pasar Payakumbuh lurus saja ke atas dengan bantuan Gmaps.
Padang Mengatas merupakan padang rumput yang sangat luas di kaki Gunung Sago yang digunakan untuk memelihara sapi unggulan. Pengelolanya adalah Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.
Sebelum masuk, pengunjung wajib melewati lorong untuk disemprot dengan disinfektan. Setelah itu, terdapat kantor, showroom dan Miniranch Sijawi, serta rumah potong hewan di kejauhan. Jenis sapi di sini bukan perah, jadi tidak ada susu. Ketika kami datang tidak ada sapi karena sedang dikarantina. Menjelang kami pulang, barulah muncul beberapa sapi yang segera makan rumput di miniranch.
Padang rumput di sini tinggi-tinggi sehingga tidak aman untuk dijelajahi. Lagipula akan mengganggu sapi-sapinya. Tapi pengelola telah menyediakan pedestrian dan tempat duduk untuk istirahat. Dari kejauhan juga terlihat ada kafe kecil. Pengunjung dapat mengambil foto sebanyak-banyaknya dengan latar belakang rumput hijau terhampar dan Gunung Sago.
Pengelola juga menyediakan mobil terbuka untuk tour masuk jauh ke dalam padang rumput. Ketika akan mendaftar, kami diberitahu kalau harus menunggu 2 putaran lagi. Satu putaran memakan waktu satu jam, sedangkan jumlah mobil hanya satu seukuran angkot. Karena terlalu lama, kami memutuskan untuk menghabiskan waktu di miniranch saja.
Ternyata, kami harus menunggu sisa rombongan dari Harau cukup lama. Kami menyesal tidak mendaftar ikut tour saja sambil menunggu sisa rombongan. Apalagi karena banyak pengunjung, pengelola mempersingkat tour menjadi 15-30 menit saja dan dibantu mobil patroli polisi. Ketika sisa rombongan tiba pada jam 12.00, tour berhenti selama satu jam karena waktunya istirahat siang.
Akhirnya kami menyerah dan bersiap untuk kembali ke Riau. Jika teman-teman mengunjungi Padang Mengatas, jangan lewatkan tour-nya, ya. Sepertinya seru sekali.
Provinsi Sumatra Barat terkenal memiliki berbagai destinasi wisata alam kuliner yang menakjubkan. Karena itu, sayang sekali jika tidak sekalian healing. Namun karena itu juga, jalur Riau - Sumbar sering macet panjang di beberapa titik, yang berimbas pada antrian di SPBU sepanjang Payakumbuh.
Kami mendapat undangan pesta pernikahan lagi dua minggu yang akan datang. Kali ini, kami akan memastikan BBM mencukupi sebelum memasuki wilayah ini.

Post a Comment