Bukittinggi 2011 vs 2023: Kota Wisata Sejuk yang Selalu Ingin Kami Kunjungi Lagi
![]() |
| Menara Jam Gadang ikon wisata Bukittinggi. Foto milik www.jalansitu.com. |
Bukittinggi adalah salah satu kota wisata di Sumatra Barat yang paling membekas di ingatan kami. Kami beberapa kali ke Bukittinggi, tapi yang paling kami ingat adalah kunjungan pertama dan terakhir, yaitu tahun 2011 dan 2023. Menariknya, suasana kota ini masih terasa khas, yaitu udara sejuk, kuliner Minang yang menggoda, dan tempat wisatanya tetap ramai dikunjungi wisatawan.
Bukittinggi merupakan destinasi favorit warga Riau. Biasanya, warga Riau sudah berebut booking hotel jauh sebelum liburan agar mendapatkan penginapan yang nyaman dekat dengan Jam Gadang. Buat kami, Bukittinggi bukan hanya tentang Jam Gadang. Kota ini punya kombinasi lengkap antara wisata sejarah, alam, budaya, dan kuliner dalam jarak yang relatif dekat.
Kenangan Pertama ke Bukittinggi Tahun 2011
Saat pertama kali datang ke Bukittinggi tahun 2011, kami langsung merasa kota ini berbeda dibanding kota lain di Sumatra yang pernah kami kunjungi. Udaranya dingin, jalannya naik turun, dan suasananya terasa hidup.
1. Objek Wisata Dekat Pusat Kota Bukittinggi
- Tahun 2011 itu kami mengunjungi beberapa tempat terkenal berikut ini.
- Jam Gadang.
- Taman Panorama Ngarai Sianok.
- Taman Lobang Jepang (tidak masuk gua).
- Benteng Fort De Kock dan Kebun Binatang.
2. Menginap di Hotel Parai Resort Bukittinggi (Bintang 3)
Pada masa itu masih sulit mencari informasi online sehingga kami booking penginapan yang agak jauh dari pusat keramaian, yaitu: Hotel Parai Resort. Kami hanya satu malam di sini karena pindah ke hotel yang lebih dekat pusat kota.
Hotel ini sebenarnya bagus dan lingkungannnya alami (pada saat itu). Apalagi sarapannya di lantai atas ditemani dengan pemandangan bukit dan lembah yang menawan. Namun letaknya sangat jauh dari pusat kota Bukittinggi, padahal objek wisata banyak berkumpul di situ.
3. Hotel Yuriko Bukittinggi (Melati 1)
Agar lebih dekat dengan pusat keramaian, kami pindah hotel. Tentu saja mencari hotel dadakan di Bukittinggi pada musim liburan itu nyaris mustahil. Alhamdulillah kami mendapatkan hotel ini dengan segala keterbatasannya sebagai hotel melati. Harganya tentu saja tidak normal. Sempat terjadi miskomunikasi dengan reseptionis karena yang kami telepon dan menerima kedatangan kami adalah orang yang berbeda.
Pelajaran dari tahun 2011 itu, jika mencari hotel di Bukittinggi di musim liburan, usahakan jauh-jauh hari agar mendapat penginapan yang dekat pusat kota dengan harga tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan hari biasa. Sebagian objek wisata di Bukittinggi memang berkumpul dekat dengan pusat kota, yang berupa alun-alun.
Kembali Lagi ke Bukittinggi Tahun 2023
1. Bukittinggi yang Lebih Ramai
Pada tahun 2023 tersebut, di alun-alun tempat Jam Gadang berdiri terdapat area khusus untuk berjualan yang cukup besar untuk menampung perkembangan wisata Bukittinggi. Beberapa spot wisata juga terasa lebih tertata, tetapi suasana khas Bukittinggi tidak hilang.
Karena hanya menginap semalam, maka kami hanya mengunjungi:
- Taman Lobang Jepang (tidak masuk gua).
- Ngarai Sianok.
- Taruko Café.
- Los Lambuang Pasar Lereng Bukittinggi.
2. Menginap di Grand Rocky Hotel Bukittinggi (Bintang 4)
Pada kunjungan terakhir ini, kami menginap di yang letaknya dekat dengan Fort de Kock. Dulu, waktu hotel ini pertama kali dibuka tahun 2012 terasa tidak terjangkau oleh tabungan kami. Alhamdulillah kami bisa menginap di hotel mewah ini 11 tahun kemudian.
Hotel ini terletak di ketinggian dengan pemandangan pemukiman penduduk yang mengikuti kontur tanah. Paling suka suasana menjelang subuhnya yang syahdu dengan alunan suara orang mengaji yang terdengar lembut dari masjid sekitar ketika membuka jendela.
Wisata Favorit di Bukittinggi
![]() |
| Pemandangan sungai di Taruko Cafe. Foto milik www.jalansitu.com. |
Dari 2 kunjungan di Buktinggi ada banyak objek wisata menarik, yang bisa kami ceritakan seperti di bawah ini.
1. Jam Gadang Masih Jadi Ikon Bukittinggi
Jam Gadang terletak di alun-alun kota Bukittinggi. Gadang merupakan bahasa Minang yang artinya besar. Jadi, Jam Gadang artinya jam yang besar. Jam peninggalan Belanda ini unik karena angka romawi 4 tidak ditulis IV tapi IIII. Atapnya mengadaptasi bentuk Minangkabau yang lancip-lancip sebagai simbol tanduk kerbau (kabau).
Waktu terbaik untuk ke sini adalah pagi dan malam hari. Di pagi, alun-alun masih sepi sehingga lebih leluasa untuk foto-foto dengan latar belakang Jam Gadang. Di malam hari, alun-alunnya sangat ramai seperti pasar malam. Mulai dari mainan anak-anak sampai pelukis diberi ruang disini. Banyak lampu warna-warni yang meriah.
Di tahun 2023, kawasan Jam Gadang terlihat jauh lebih padat, baik oleh pengunjung maupun lapak pedagang. Namun, pengelola sudah melokalisir lapak pedagang di satu area agar lebih tertib. Yang perlu dibenahi adalah pengadaan toilet yang perlu ditambah agar lebih banyak, lebih bersih dan tidak bau.
2. Menikmati Ngarai Sianok yang Selalu Indah
Ngarai Sianok adalah favorit kami karena bentang alamnya yang luar biasa besar berupa tembok batu raksasa. Di bawahnya merupakan lahan persawahan yang subur.
Ada 2 cara terbaik untuk menikmati pemandangan Ngarai Sianok, yaitu dari Taman Panorama dan berkendaraan ke area bawah. View penuh tebing raksasanya dapat dilihat dari Taman Panorama. Gunakan kamera wide angle.
Taman Panorama ini makin bagus dan fasilitasnya makin lengkap. Namun, monyet yang dulunya hanya ada di ujung deretan gerai oleh-oleh, pada tahun 2023 itu bebas berkeliaran di taman. Jumlahnya juga cukup banyak, jadi kami agak takut.
Di Taman Panorama terdapat deretan gerai oleh-oleh yang tertata rapi. Favorit kami sebenarnya adalah mukena border khas Minang dan baju-baju rajut putih ala noni Belanda. Sayangnya pada tahun 2023, gerai seperti itu sudah langka, berganti dengan berbagai oleh-oleh praktis menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Bordir dan rajut memang terkesan mahal untuk oleh-oleh wisata tapi ini adalah hasil karya yang benar-benar cantik.
Kuliner Sianok yang terkenal adalah itiak lado mudo di area bawah, yang pernah disambangi Pak Bondan. Jika teman-teman ingin membawa itik sambal hijau utuh untuk oleh-oleh, penjual menyediakan dalam bentuk beku dan dibungkus koran yang tahan berjam-jam.
3. Lobang Jepang dan Wisata Sejarah Bukittinggi
Pintu masuk Lobang Jepang (Lubang Japang / Goa Jepang) bersebelahan dengan Taman Panorama. Jadi, setelah berkunjung ke Taman Panorama, teman-teman bisa langsung ke Lobang Jepang. Sebelum masuk ke Lobang Jepang, ada taman yang tertata juga, lengkap dengan tempat sholat dan istirahat.
Panjang Lobang Jepang sekitar 6 km, tapi yang bisa dijelajahi pengunjung sekitar 1,4 km saja dengan lebar 2 meter. Pada tahun 2023, lantainya sudah bagus, bersih dan rapi sehingga jalan ke bawah yang curam bisa diatasi. Namun demikian, kami tidak masuk goa karena si mamah fobia terhadap ruangan terbatas.
Bagi teman-teman yang ingin masuk, tidak perlu khawatir harus kembali ke pintu masuk yang berarti menanjak. Pengunjung akan keluar di sisi lain, yaitu Jalan Binuang. Pintu keluar ini berada di jalan antara Taman Panorama ke area bawah Ngarai Sianok. Supaya mendapatkan pengalaman maksimal, sebaiknya teman-teman menyewa pemandu wisata sekaligus mobil penjemput.
4. Benteng Fort De Kock & Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK)
Kedua objek wisata ini satu rangkaian karena dihubungkan dengan Jembatan Limpapeh. Jembatan yang dibangun tahun 1995 ini membentang di atas jalan raya yang ramai sehingga bagus untuk berfoto.
Di Benteng Fort De Kock peninggalan Belanda ini ada gardu pandang untuk melihat Kota Bukittinggi dari empat arah mata angin. Ada pula kuda yang bisa dinaiki anak-anak kecil tapi antri karena anak-anak tersebut sangat antusias.
Sedangkan di TMSBK ada kebun binatang dan rumah adat yang menyewakan baju adat untuk berfoto. Tahun 2011 kami masuk dengan santai ke TMSBK dari Jembatan Limpapeh. Karena pengunjung makin banyak, sekarang pengunjung yang lewat jembatan ini harus antri bergantian demi keamanan. Sekarang pengunjung dibatasi sebanyak maksimal 200 orang sekali jalan dan hanya boleh berfoto selama 3 menit.
5. Pasar Atas (Pasar Ateh) Bukittinggi
Letak Pasar Atas tepat di seberang Jam Gadang. Waktu untuk masuk pe pasar adalah siang hari. Jika hari mulai gelap, pedagang akan berjajar di depan pasar. Semua jenis barang ada di sini, dari mulai songket yang indah (toko-toko di depan), oleh-oleh murah meriah, hingga kuliner.
Tahun 2011, kami memborong gantungan kunci murah meriah untuk teman sekelas anak-anak serta aneka kaos untuk dipakai sendiri dan diberikan ke eyang. Kami juga menikmati nasi kapau di bagian belakang pasar. Sayangnya kami kurang informasi tentang dadiah (yogurt ala Bukittinggi). Tahun 2023, kami tidak ke pasar ini karena berencana ke Los Lambuang.
Kuliner lain yang wajib diburu adalah teh talua. Jika penjual teh talua di Riau sudah menggunakan blender, penjual di Bukittinggi masih menggunakan seikat lidi. Kami tidak menikmati teh telur (te talua) di dalam pasar, melainkan di jalan dekat pasar pada sore hari. Cocok banget dengan hawa Bukittinggi yang dingin.
6. Los Lambuang Pasar Lereng Bukittinggi
Kami ke Los Lambuang tahun 2023 untuk berburu nasi kapau karena terpengaruh (secara positif) oleh para food influencer. Sayangnya, mereka tidak menunjukkan cara ke pasar ini, melainkan langsung ke losnya. Akibatnya, kami sempat kebingungan harus parkir di mana.
Akhirnya, kami parkir di pinggir jalan bekas pasar pagi. Entah apa namanya. Agak ragu juga sih karena tidak banyak mobil parkir. Takutnya parkir tak resmi. Untuk ke pasar, kami harus naik tangga yang tinggi.
Los lambuang ini benar-benar membuat lambung kita bahagia. Semua masakannya enak. Meski ada beberapa nama yang viral, tapi sebenarnya semua hampir sama enaknya. Hanya beda selera saja. Nasi kapau lebih cocok bagi kami dibandingkan dengan nasi padang karena rasa pedasnya soft, tidak menusuk seperti nasi padang.
7. Kenangan Taruko Café yang Nyaman Tapi Hanyut Diterjang Banjir
Kafe ini jadi obsesi kami ketika ke Bukittinggi tahun 2023 karena pernah menjadi tempat shooting Gordon Ramsay didampingi William Wongso di program Uncharted. Jalan ke arah Taruko kecil dan agak tersembunyi di antara tumbuhan yang rapat. Waktu itu, Taruko baru perlahan bangkit setelah pandemik COVID.
Kafe ini berupa rumah pohon 2 lantai yang tidak terlalu luas. Namun pengunjung lebih senang berada di rerumputan tepi sungai yang syahdu. Rumputnya tertata rapi jadi cocok banget untuk piknik.
Sebenarnya banyak yang bisa diceritakan dari kunjungan itu.
Tapi rasanya emosional sekali untuk mengingatnya karena Taruko Café termasuk yang hancur terkena banjir bandang Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat pada akhir November 2025 lalu. Foto lama Taruko yang kami bagikan kembali di Instagram @jalansitu untuk mengenang keindahan mendapat sambutan yang mengharukan dari orang-orang yang pernah berkunjung ke sana.
Bukittinggi Tetap Layak Dikunjungi
Setelah kembali lagi ke Bukittinggi tahun 2023, kami tetap menganggap Bukittinggi sebagai destinasi favorit. Kami tetap mencari kesempatan untuk berkunjung lagi ke Bukittinggi. Sementara ini, kami masih terkendala dengan kebugaran untuk menyetir karena untuk mencapai Bukittinggi dari Riau paling nyaman naik mobil pribadi.
Bukittinggi merupakan gambaran destinasi wisata yang ideal, yaitu perpaduan antara wisata alam, sejarah, kuliner dan belanja. Jarak antara objek wisata satu dengan yang lainnya juga tidak terlalu jauh.
FAQ
Apa wisata paling terkenal di Bukittinggi?
Jam Gadang, Ngarai Sianok, Lobang Jepang, Benteng Fort De Kock dan TMSBK (Taman Marga Satwa dan termasuk wisata paling terkenal di Bukittinggi.
Apakah Bukittinggi cocok untuk liburan keluarga?
Menurut kami cocok karena banyak tempat wisata yang lokasinya berdekatan dan mudah dijangkau.
Kapan waktu terbaik ke Bukittinggi?
Pada musim liburan, sebaiknya pesan penginapan dulu sebelum berangkat ke Bukittinggi. Bukittinggi bagus dijelajahi dari pagi hingga malam, tergantung dengan jenis objek wisata yang akan dikunjungi.


Post a Comment