Pengalaman Tawaf dan Sai Pakai Skuter Saat Umroh, Sebelum Digantikan Buggy Car

Table of Contents
Skuter yang digunakan jamaah umroh untuk sai di Masjidil Haram.
Skuter yang digunakan jamaah umroh untuk sai di Masjidil Haram. Foto milik www.jalansitu.com.

Waktu itu kami tidak berpikir sedang mencoba sesuatu yang nantinya akan berubah. Kami hanya memanfaatkan fasilitas skuter saat tawaf dan sai karena memang memerlukannya. Baru belakangan saya menyadari bahwa pengalaman itu menjadi kenangan tersendiri karena sistem yang kami gunakan kini sudah berganti.

Umroh memang membutuhkan kondisi fisik yang cukup prima. Meski kami melakukan persiapan sebelumnya, cedera lama pada kaki papah kambuh. Pada umroh wajib pertama, seluruh prosesi masih diselesaikan dengan berjalan kaki. Skuter baru digunakan pada umroh kedua dan ketiga yang bersifat opsional. 

Mamah sebenarnya ingin berjalan kaki seperti jamaah lain, apalagi tawaf dekat Kabah adalah impian banyak orang. Tapi melihat kondisi papah yang sudah benar-benar kepayahan, akhirnya keputusan menggunakan skuter terasa sebagai pilihan paling realistis.

Selain sebagai kenangan berharga, kami menuliskannya di sini karena pengalaman tersebut juga merupakan bagian dari sejarah Masjidil Haram.

Sekilas Tentang Pengalaman Umroh Kami

Pengalaman naik skuter itu terjadi pada umroh tahun 2023. Waktu itu, kami mendapat jatah 3 kali prosesi umroh dari travel Riau Wisata Hati dengan bimbingan Ustadz Udin. 

Pada umroh pertama atau umroh wajib, kami berhasil menyelesaikan seluruh prosesi dengan berjalan kaki. Meski begitu, papah dan mamah membuat rombongan menunggu lama hingga ada anak-anak yang tertidur setelah sai. Masalahnya, kaki papah yang memang sudah lama cedera kambuh sehingga papah harus puluhan kali berhenti ditemani mamah. 

Pada umroh kedua yang opsional, papah masih sanggup menyelesaikan tawaf tapi jelas terlihat bahwa papah kesakitan dan wajahnya pucat pasi. Akhirnya, papah ditemani mamah naik skuter di lantai atas untuk sai.

Pada umroh ketiga yang juga opsional, papah dan mamah langsung menuju ke lantai atas untuk tawaf dan sai menggunakan skuter.

Pertama Kali Mencoba Skuter Saat Sai

Sebelum prosesi umroh kedua yang merupakan opsional (anggota rombongan boleh tidak ikut), kami memberi tahu ustaz lebih dulu bahwa kami akan menggunakan skuter jika tidak kuat sai. Alih-alih langsung mengiyakan, ustaz memberi semangat pada kami untuk mencoba jalan kaki lebih dulu. Namun karena melihat keringat papah yang menetes sebesar biji jagung, mamah bersikeras agar sai dilakukan dengan naik skuter.

Untuk itu, kami harus keluar rombongan setelah menyelesaikan tawaf untuk mencari elevator ke lantai 3. Kebetulan ustaz juga belum pernah naik skuter. Tapi ustaz, yang bahasa Arabnya lancar, membantu mencarikan jalannya dengan bertanya ke askar. Karena pasrah saja sama ustaz, kami tidak begitu mengingat arah ke lantai 3 ini.

Di lantai 2 ini ada loket untuk membeli tiket. Tarif skuter untuk sai 1 orang 57,5 SAR sehingga tarif untuk 2 orang menjadi 115 SAR. 

Meski musim sejuk, waktu itu tempat sai cukup lancar. Tak banyak jamaah Indonesia yang menggunakan fasilitas ini. Kebanyakan yang tidak mampu jalan kaki memilih kursi roda karena khawatir tidak bisa mengendalikan skuter. 

Di media sosial ada beberapa video ibu-ibu yang membuat kekacauan ketika mengendarai skuter. Karena itu, mamah menyerahkan setir ke papah. Kata papah, cara menyetirnya mudah banget kok. Tapi si mamah tetap takut menabrak.

Apalagi jalur skuter untuk sai ini hanya cukup untuk 2 skuter berjejer. Itu pun jika pengemudinya tidak terampil bisa bergesekan. Karena areanya terbatas maka kami agak buru-buru sehingga selesainya cepat sekali. Kekurangan lainnya, Bukit Safa dan Marwah tidak tampak jelas. Untuk tahalul, kami dibantu oleh jamaah dari Brunei yang baik hati. 

Kami juga sempat jeda waktu sholat. Kalau tiba waktu sholat, petugas akan mempersilakan kami berhenti di sudut-sudut tertentu untuk turun dari skuter dan ikut sholat berjamaah. 

Pengalaman Tawaf Menggunakan Skuter

Pada umroh ketiga yang juga opsional, papah dan mamah memutuskan untuk langsung menggunakan skuter sejak awal prosesi. Setelah minta izin ustaz, mereka langsung keluar dari rombongan untuk naik ke lantai 2 karena elevator ke arah tempat tawaf berada tepat setelah pintu masuk Masjidil Haram.

Harga tiket skuter paket tawaf dan sai untuk 1 orang 115 SAR sehingga untuk 2 orang 230 SAR. Oya, di loket ini antrian untuk laki-laki dan wanita dipisah tapi petugas tiketnya laki-laki. Petugasnya bisa bahasa Inggris. Jika bingung mau ngomong apa, cukup tunjuk saja paket yang diinginkan.

Sebenarnya, naik skuter untuk tawaf itu bisa lebih khidmat karena lebih leluasa. Tempat tawaf lebih luas daripada lantai untuk sai. Kita juga boleh berhenti di beberapa spot air zam-zam. Kekurangannya, pandangan ke arah Kabah terhalang pagar sehingga hanya bisa melihat kemegahan Kabah di beberapa area.

Biasanya dekat spot zam-zam ada petugas yang membantu mengambilkan minum. Kita juga bisa ambil sendiri kok. Kami melihat beberapa jamaah memberi tips kepada petugas yang membantu mengambil air zam-zam, meski tentu ini bukan kewajiban. Dari tawaf ke sai tidak perlu ganti skuter karena ada jalan tembusannya. Dari lantai 2 ke lantai 3 hanya menanjak sedikit karena sebenarnya lantai 2 ini mezzanine. 

Karena skuter dipakai terus-menerus dari tawaf ke sai, ada kemungkinan baterai habis. Jamaah tidak perlu khawatir karena petugas yang tersebar di beberapa tempat akan membantu. Tapi usahakan agar sampai di spot penukaran skuter sebelum baterai benar-benar habis dengan memperhatikan indikatornya.

Apa yang Berbeda Dibanding Berjalan Kaki?

Umroh 2023 itu memberikan kenangan yang luar biasa karena kami bisa merasakan jalan kaki dan naik skuter. 

1. Dari Sisi Tenaga

Buat papah, perbedaannya terasa sekali karena tubuhnya tidak lagi terlalu terbebani. Jamaah harus bisa mengukur kekuatan dan tidak memaksakan diri agar tetap sehat sampai kembali ke rumah masing-masing.

2. Dari Sisi Kenyamanan

Tentu saja naik skuter lebih nyaman karena tidak perlu jalan kaki dan berdesak-desakan. Tempatnya juga teduh sehingga tidak kepanasan dan kehujanan. Jamaah juga dengan mudah berhenti untuk minum air zam-zam di beberapa spot.

3. Dari Sisi Suasana

Saat melihat Kabah, hati rasanya tenang. Beda banget dengan ketika melihat Kabah di jalur jalan kaki yang membuat kami terpancing untuk menumpahkan semua perasaan yang selama ini terpendam.

4. Dari Sisi Kekhusyukan

Sebenarnya, naik skuter itu minim gangguan, baik dari bersenggolan dengan jamaah lain maupun suara berisik. Kecepatan skuternya juga bisa kita atur sendiri dan bisa berhenti sekejap. Tapi kami justru merasa lebih khusyuk meski berdesak-desakan di depan Kabah atau berjalan penuh keringat ketika sai.

Hal-Hal yang Saya Ingat Sampai Sekarang

Selain hal-hal utama di atas, ada beberapa detail kecil yang masih kami ingat selama tawaf dan sai menggunakan skuter, yaitu:

  • Papah dan mamah punya momen untuk dikenang berdua, sekalian merenungi perjalanan rumah tangga mereka.
  • Suasana yang tenang membuat kami dapat merenungi kasih sayang Allah yang begitu besar pada keluarga kami.
  • Sebelum turun, kami sempat gamang ketika melihat padatnya Masjidil Haram dari TV kamar hotel. Ternyata kita cukup mengikuti arus jamaah dan semuanya baik-baik saja, termasuk ketika harus mencari akses ke tempat skuter.
  • Kebanyakan pengguna skuter yang bersamaan dengan kami adalah jamaah Arab dan Brunei.
  • Jalur tawaf relatif lengang, sedangkan jalur sai padat.
  • Di jalur skuter tidak ada askar, adanya petugas ketertiban saja. Jadi suasananya lebih santai karena tidak ada suara askar yang meneriaki jamaah bandel.

Sekarang Layanannya Sudah Berubah

Sekarang skuter tidak ada lagi karena sudah digantikan buggy car. Pertimbangannya, buggy car dapat mengangkut jamaah lebih banyak sehingga lebih efisien. Kami juga sudah mencoba buggy car pada umroh 2025, yang akan kami tulis di artikel selanjutnya.

Artikel ini merupakan dokumentasi bahwa pada masanya, Masjidil Haram pernah menggunakan skuter sebagai alat bantu jamaah yang kesulitan bergerak, misalnya untuk jamaah umroh lansia dan disabel. Pembaca blog Jalansitu yang belum pernah naik skuter untuk tawaf dan sai akan mengetahui seperti apa rasanya dari cerita kami.

Penutup

Papah bilang, Allah menjanjikan bahwa di setiap kesulitan ada kemudahan. Mungkin inilah salah satu bentuk kemudahan yang Allah berikan. Saat tenaga sudah tidak sanggup dipaksakan, selalu ada jalan agar ibadah tetap bisa dijalani.

Maka kita tidak perlu merasa kurang karena terpaksa harus naik skuter. Berkat kemudahan itu pula, kami tidak khawatir dengan kondisi fisik kami (terutama papah dan mamah) di umroh selanjutnya.

Waktu itu kami menganggap skuter hanya alat bantu. Sekarang setelah melihat layanannya sudah berubah, kami baru menyadari bahwa perjalanan itu menyisakan kenangan yang jauh lebih besar daripada sekadar kendaraan yang kami gunakan.

Post a Comment