Cara Agar Lansia Tidak Hilang Saat Umroh, Persiapan yang Sering Dilupakan
![]() |
| Lansia berjalan di area Masjidil Haram saat umroh. Foto milik www.jalansitu.com. |
Saya pernah bertemu seorang nenek yang tersesat saat umroh. Nomor tour leader memang ada di tasnya, tetapi beliau tidak membawa HP dan tampaknya tidak bisa mengoperasikannya.
Lansia hilang atau tersesat sering terjadi ketika umroh dan haji. Sebagian beruntung dapat kembali ke rombongannya karena bertemu dengan jemaah Indonesia dari daerah lain yang bertebaran di berbagai sudut Makkah dan Madinah. Namun ada pula yang belum ketemu hingga waktu yang lama.
Jemaah lansia memang berisiko tinggi. Tapi mereka tetap berhak untuk umroh dan haji selama diizinkan petugas. Kebanyakan mereka berangkat di usia senja karena tabungan yang baru terkumpul atau antrian haji yang sangat lama. Yang penting, keluarga harus membantu lansia melakukan persiapan secara detail sebagai tindakan pencegahan.
Mengapa Lansia Lebih Rentan Tersesat Saat Umroh?
Memberangkatkan orang tua ke tanah suci, baik sendiri maupun bersama keluarga, merupakan impian kebanyakan umat Islam. Meski risikonya tinggi, tapi umroh sudah menjadi cita-cita kami. Apalagi haji memang wajib dilakukan bila mampu.
Namun sebelum memutuskan untuk memberangkatkan lansia, berikut ini adalah penyebab lansia lebih rentan tersesat saat umroh yang perlu diketahui.
1. Faktor usia dan kondisi fisik
Secara fisik, manusia mencapai puncak kebugaran pada usia 30 tahun. Setelah itu, kebugaran akan sedikit demi sedikit berkurang. Banyak jamaah baru bisa berangkat di usia 50 tahun, bahkan di atas 60 tahun, karena harus menabung bertahun-tahun atau menunggu antrean haji yang sangat panjang.
Berikut ini adalah kondisi fisik yang sering dialami lansia, yaitu:
- Mudah lelah.
- Jalan lebih lambat.
- Sulit konsentrasi.
- Sulit mengikuti arus jamaah.
- Mudah tertular penyakit.
- Sering ke toilet.
2. Faktor kebingungan lingkungan
Orang bingung di tempat baru itu biasa. Tapi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi bukanlah tempat baru yang biasa.
Berikut ini yang dihadapi jemaah ketika berada di Makkah dan Madinah.
- Makkah dan Madinah sangat luas dengan jalan yang saling terhubung sehingga bisa membuat orang kebingungan dan tersesat.
- Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sangat megah sehingga saking besarnya, tiap bangunan seolah dekat tapi ketika didatangi ternyata jauh.
- Masjidil Haram dan Masjid Nabawi bertingkat-tingkat dengan banyak pintu sehingga bisa membingungkan.
- Banyak pintu dan gerbang dengan tampilan mirip sehingga membingungkan meski ada nomor-nomornya.
- Jalan keluar dan masuk Masjidil Haram bisa berubah karena askar menyesuaikan dengan kepadatan pengunjung.
- Kepadatan jamaah dari berbagai negara yang bisa membuat lansia panik, apalagi jika mereka hanya bisa bahasa daerah.
3. Faktor teknologi
Tidak semua lansia terbiasa memakai HP, terutama yang sudah berusia sangat lanjut, tidak berpendidikan atau berasal dari pedesaan. Bahkan tak sedikit lansia yang tidak membawa HP.
Hal seperti ini pernah terjadi di grup umroh kami. Lansianya berangkat sendiri, sedangkan grup Whatsapp justru dipegang anaknya di Indonesia.
Persiapan Penting agar Lansia Tidak Hilang Saat Umroh
Jika lansia akan berangkat umroh maka anak atau saudaranya wajib membantu persiapan dengan menyesuaikan itinerary umroh dari travel. Jika lansia berangkat sendiri maka persiapannya harus sangat teliti.
1. Jangan Hanya Mengandalkan HP
Meski lansia bisa menggunakan HP tapi lansia mudah lupa sehingga bisa saja tertinggal atau bahkan hilang. HP memang sangat penting tapi harus ada cadangan.
2. Siapkan Kartu Identitas yang Mudah Dibaca
Biasanya, travel menyediakakan hangtag sebagai penanda tas dan koper. Tanda pengenal tersebut wajib diletakkan di koper besar, koper kecil, ransel, tas untuk bepergian, tas selempang dan leher (kalung/lanyard). Sedangkan untuk haji masih ditambah dengan gelang khusus dari Kemanhaj.
Jika kurang, buatlah hangtag sendiri dari kertas yang kaku lalu dilaminating agar tidak mudah basah. Berikut ini adalah informasi yang wajib ada di tanda pengenal tersebut:
- Nama lengkap.
- Nama hotel.
- Nama travel / KBIH.
- Nomor HP tour leader / ketua regu.
- Nomor HP pendamping keluarga.
3. Pastikan Lansia Mengingat Informasi Paling Dasar
Banyak lansia yang mengalami kesulitan mengingat kata-kata yang rumit atau angka yang panjang. Namun setidaknya lansia harus dilatih untuk mengingat hal-hal di bawah ini:
- Nama sendiri.
- Nama hotel.
- Nama travel.
- Cara memencet kontak darurat di HP.
4. Gunakan Penanda yang Mudah Dikenali
Banyak orang muda yang tidak mau mengenakan seragam atau aksesoris travel karena dianggap kurang menarik. Apalagi jika warnanya gonjreng. Tapi khusus untuk lansia, wajib mengenakannya setiap meninggalkan hotel, meski sekedar ke toko sebelah hotel.
Penanda yang sering diberikan travel, antara lain:
- Syal warna mencolok.
- Tas seragam.
- Baju seragam.
- Badge rombongan.
- Topi tertentu.
5. Ajarkan Titik Patokan Sederhana
Google Map merupakan aplikasi wajib untuk mengetahui posisi kita di Makkah dan Madinah. Namun ini tidak berlaku bagi lansia yang sudah gagap atau bahkan tidak mengenal teknologi sama sekali.
Karena itu, lansia wajib diberi breafing dulu tentang patokan-patokan sederhana untuk jaga-jaga jika mereka terpisah dari rombongan. Penanda yang umum digunakan jemaah umroh, antara lain:
- Nomor WC, misalnya WC3 yang terkenal di kalangan jemaah Indonesia untuk titik kumpul setelah umroh.
- Halaman depan Clock Tower.
- Nomor pintu atau gate.
6. Briefing Sebelum Berpisah
Ada beberapa pesan dari mutowif kami sebelum tawaf atau sai dimulai untuk berjaga-jaga jika terpisah dari rombongan. Pesan ini bisa juga teman-teman beritahukan ke orang tua atau saudara yang akan umroh, yaitu:
- Jika terpisah, tetap tenang dan ikuti arus tawaf dan sai sambil mencari penanda rombongan karena lokasi tawaf dan sai di situ-situ saja.
- Jika terpisah, jangan berjalan ke luar dari lokasi tawaf dan sai sampai ketemu rombongan atau dijemput tour leader.
- Jika terpisah dan kebingungan, menepi, jangan berubah posisi dan video call tour leader agar dijemput.
- Tunggu di lokasi yang sudah disepakati.
7. Jangan Membiarkan Lansia Jalan Sendiri Saat Kondisi Sangat Ramai
Perlu dipahami bahwa tour leader dan mutowif siap membantu kapan saja dibutuhkan tapi bukan berarti bisa menemani 24 jam. Ada saat tertentu jemaah diberi jam bebas. Biasanya jemaah akan istirahat, berlama-lama di masjid atau belanja.
Pendamping dari pihak keluarga harus mengawasi lansia dengan ketat, terutama di Makkah. Di Makkah, jemaah sangat padat tiap waktu sholat fardlu dan sholat Jumat di Masjidil Haram. Jika lansia umroh tanpa pendamping keluarga maka lansia tersebut harus selalu diingatkan untuk tidak bepergian tanpa ditemani tour leader atau mutowif.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Lansia Terlanjur Hilang?
Meski segala pencegahan telah dilakukan, tapi tetap ada saja lansia yang hilang. Berikut ini yang harus dilakukan keluarga jika tidak dapat menemukannya.
- Tetap tenang.
- Hubungi tour leader secepatnya agar identitas lansia segera disebarkan di kalangan mutowif yang berada di satu lokasi.
- Datangi petugas di tempat-tempat yang mungkin dilewati lansia dengan menunjukkan fotonya.
- Sebarkan melalui media sosial jika tidak segera ketemu.
Penutup
Umroh bersama lansia memang membutuhkan perhatian ekstra. Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membantu perjalanan ibadah menjadi lebih aman dan tenang. Persiapan yang matang bisa mencegah kepanikan besar di Tanah Suci.

Post a Comment