Dua Kali Mengunjungi Jabal Uhud Madinah: Pengalaman, Sejarah, dan Pelajaran yang Kami Dapatkan
![]() |
| Pelataran Jabal Uhud di Madinah. Foto milik www.jalansitu.com. |
Dari sekian banyak destinasi city tour di Madinah, Jabal Uhud menjadi salah satu yang paling membekas bagi kami. Tempat ini bukan hanya sebuah pegunungan batu berwarna kemerahan di pinggiran kota, tetapi juga saksi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam. Kami berkesempatan mengunjunginya dua kali, yaitu pada tahun 2023 dan 2025, dan masing-masing kunjungan meninggalkan kesan yang berbeda.
Ketika city tour umroh tahun 2023, si papah paling antusias dengan jadwal ke Jabal Uhud. Papah sangat hafal dengan sejarah Jabal Uhud. Sedangkan si mamah baru paham setelah di-briefing papah sesaat sebelum dimulainya city tour ke destinasi terkenal tersebut.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2025, kami kembali mengunjungi Jabal Uhud bersama rombongan umroh. Meskipun ini adalah kunjungan kedua, perasaan yang muncul ternyata tidak sama. Ini karena para mutowif yang membimbing kami di dua kunjungan tersebut mengambil fokus yang berbeda.
Pengalaman Mengunjungi Jabal Uhud
Tadinya si mamah berpikir bahwa ini merupakan city tour sebagaimana objek bersejarah lainnya yang banyak terdapat di Makkah dan Madinah. Tapi si papah berusaha meyakinkan bahwa Jabal Uhud jauh berbeda.
Kunjungan Tahun 2023
Kunjungan ini dilaksanakan setelah rombongan kami sholat sunah di Masjid Quba sekitar jam 10.00. Sebetulnya kami mau ke percetakan Al-Quran lebih dahulu setelah dari Masjid Quba. Namun melihat parkiran yang sudah penuh dan antrean masuk percetakan sudah sangat panjang, mutowif memutuskan agar kami langsung ke Jabal Uhud daripada tidak mendapat keduanya sebelum waktu zuhur.
Kami melihat sebuah dataran luas yang dibentengi dengan gunung batu berwarna kemerahan. Di salah satu sisi daratan tersebut terdapat bukit batu yang mirip Jabal Rahmah tapi lebih kecil. Jabal Rahmah di Arafah tentu lebih dikenal umat Islam yang pernah umroh dan haji. Selain bukit, terdapat pula kios-kios, beberapa bangunan dan sebuah masjid.
Kami datang pada akhir November sehingga udaranya sejuk meski matahari memancarkan cahayanya. Ustadz Saifuddin (Udin) sebagai mutowif kami mengajak seluruh rombongan merapat ke sebuah lahan berpagar besi. Ternyata itu adalah makam para syuhada.
Ustaz Udin yang sudah senior ini paham betul dengan makam yang pernah kebanjiran ini. Dengan adanya pagar tersebut, Makam Syuhada akan menjadi pengingat tentang tragedi Perang Uhud untuk waktu yang lama tanpa berubah menjadi tempat pemujaan.
Kunjungan Tahun 2025
Kami kembali lagi pada tahun 2025 di pagi hari. Namun karena kami datang di awal April 2025, maka cuacanya lebih panas dari kunjungan tahun 2023. Kami datang masih pagi, mendapat tempat parkir yang lebih dekat ke Jabal Uhud.
Kali ini kami datang dengan travel yang berbeda. Kami duduk di tangga Masjid Al-Syuhada sehingga dapat melihat Jabal Uhud, Bukit Pemanah dan Makam Syuhada. Dengan begini kami dapat menyimak seluruh kisah di Jabal Uhud yang dibawakan dengan heroik oleh Ustaz Ahmad Zakir.
Kami beruntung karena dua kali ke Jabal Uhud mendapatkan mutowif yang sangat menguasai sejarah dan pandai menyampaikannya dengan detail.
Suasana Yang Kami Rasakan
Kondisi Jabal Uhud lebih nyaman di pagi hari, terutama untuk umroh di musim panas. Selain udaranya belum terlalu menyengat, bus juga bisa parkir lebih dekat. Jika datang mendekati musim dingin, teman-teman dapat datang lebih siang.
Suasana heroik menyelimuti kawasan ini karena umumnya jamaah datang dalam kelompok yang dipandu oleh mutowif. Rombongan sebelah kami berasal dari Asia Utara. Mutowif-nya benar-benar seorang story teller yang penuh penghayatan. Tanpa mutowif, tempat ini akan tampak sebagai bukit batu biasa.
Kedua kunjungan tersebut sangat membekas di hati kami sehingga kami merekomendasikan agar teman-teman tidak melewatkannya. Perjalanan kita ke Makkah dan Madinah adalah untuk meningkatkan ketakwaan dan memperbaiki diri. Apa yang terjadi di Jabal Uhud dapat menjadi pelajaran sepanjang masa bagi yang masih hidup.
Kondisi Lokasi Terakhir
Pada tahun 2025, kondisi Jabal Uhud lebih tertata dengan adanya tambahan taman parkir yang dilengkapi dengan banyak pohon. Dari parkiran bus, kita akan melewati sekumpulan burung merpati. Jika siang hari, ada beberapa orang yang membagikan air minum.
Namun kami tidak melewati kios-kios yang dulu menjual oleh-oleh, suvenir dan buah-buahan sehingga tidak tahu perkembangannya. Pada tahun 2023 dulu, ada beberapa teman satu travel yang membeli anggur dan makanan kering di kios-kios tersebut.
Sejarah Singkat Jabal Uhud
![]() |
| Peta ilustrasi kawasan Jabal Uhud di Madinah yang menampilkan posisi Jabal Rumat (Bukit Pemanah), Makam Syuhada Uhud, dan Masjid Al-Syuhada. |
Sejarah Jabal Uhud ini lebih mantap jika disampaikan secara langsung. Namun kami ingin menuliskannya sedikit sebagai pengantar agar Jabal Uhud masuk dalam itinerary umrah teman-teman.
Lokasi dan Karakteristik Jabal Uhud
Jabal artinya gunung, sedangkan uhud artinya menyendiri. Nama ini merujuk pada posisi Gunung Uhud yang tampak menyendiri dibandingkan dengan gunung-gunung lain di Madinah yang sambung-menyambung.
Dikutip dari website Kemenag, letak Jabal Uhud sekitar 6 km di utara Masjid Nabawi. Gunung ini memanjang sejauh 7 km dengan ketinggian 1050 meter sehingga menjadi gunung terbesar di Madinah. Konturnya berbatuan dengan wujud yang tampak seperti gabungan gunung-gunung kecil sehingga seolah menjadi benteng Madinah.
Warna merah pada gunung tandus yang mirip Jabal Magnet ini disebabkan oleh adanya kandungan granit, marmer merah dan batu-batu mulia. Dari kejauhan, warna merahnya seperti memudar memudar.
Waktu tempuh dari kompleks hotel sekitar 15-20 menit dengan kecepatan sedang. Jika mendapatkan hotel di tepi luar kompleks perhotelan yang mengelilingi Masjid Nabawi, teman-teman akan dapat melihat gunung ini di kejauhan. Ketika kami menginap di Shaza Regency Plaza Hotel tahun 2023, kami selalu menyempatkan diri memandang gunung ini tiap keluar hotel.
Hubungannya dengan Perang Uhud
Jabal Uhud merupakan tempat terjadinya perang antara kaum Muslimin dan kafir Quraisy pada tanggal 15 Syawal 3H, yang dikenal sebagai Perang Uhud. Perang Uhud dipersiapkan kaum Muslimin dengan matang setelah kekalahan dalam Perang Badar.
Namun, kaum Muslimin kembali menderita kekalahan sehingga jatuh korban 70 orang (64 orang dari kaum Anshar dan 6 orang dari kaum Muhajirin) gugur serta 150 orang luka-luka. Meski menang, ada 22 orang tentara Quraisy yang tewas.
Korban tewas dari kaum Muslimin disemayamkan di Makam Syuhada. Makam Syuhada bisa teman-teman lihat di bagian tengah kompleks Uhud ini yang diberi pagar besi. Menurut Ustaz Udin, makam ini pernah kebanjiran.
Bukit Pemanah dan Pelajaran Strategis dari Peristiwa Tersebut
Awalnya, Rasulullah memperkirakan pasukan Muslimin yang berjumlah 700 orang akan kewalahan menghadapi 3000 pasukan Quraisy. Rasulullah menempatkan 50 pemanah di sebuah bukit, yang dikenal dengan Bukit Pemanah (Ar-Rumah/Jabal Rumat) untuk menyergap pasukan musuh yang lewat di bawah bukit sebanyak mungkin. Rasulullah memerintahkan pasukan pemanah untuk tetap di posisi masing-masing sampai ada perintah selanjutnya dari Rasulullah.
Sebenarnya, strategi tersebut sudah membuahkan hasil sehingga pasukan Quraisy yang dipimpin Panglima Abu Sufyan berhasil dipukul mundur. Sayang, pasukan Muslimin terburu-buru turun begitu melihat pasukan musuh meninggalkan harta benda mereka.
Pemimpin pasukan berkuda Quraisy, Khalid bin Walid, melihat bukit sudah kosong sehingga segera memerintahkan pasukannya untuk berbalik ke arah bukit. Akhirnya, pasukan Quraisy dapat menguasai bukit dan menghancurkan pasukan Muslimin yang berada di bawah. Pasukan Muslimin kalah karena tidak mematuhi perintah Rasulullah.
Di antara para syuhada yang tewas adalah Panglima Perang Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad. Rasulullah sangat berduka tapi tetap harus bergerak karena terus dikejar musuh hingga terluka. Bahkan musuh mengira bahwa Nabi Muhammad telah tewas. Hamzah dimakamkan satu liang lahat dengan keponakannnya, yang berarti juga sepupu Rasulullah, yang bernama Abdullah bin Jahsy. Rasulullah dan para sahabat secara rutin melakukan ziarah ke makam para syuhada.
Pelajaran yang Kami Dapatkan dari Jabal Uhud
Pelajaran yang paling membekas bagi kami adalah pentingnya menaati arahan pemimpin. Pasukan Muslimin sebenarnya hampir memenangkan Perang Uhud. Namun ketika sebagian pemanah meninggalkan posisi yang telah ditentukan Rasulullah SAW, keadaan berbalik dengan sangat cepat. Peristiwa ini mengingatkan kami bahwa keberhasilan sering kali bukan hanya soal kemampuan, tetapi juga disiplin dalam menjalankan amanah.
Selain itu, menahan diri dari godaan duniawi, baik harta maupun hawa nafsu sangat penting untuk diperhatikan karena dapat melumpuhkan kewaspadaan. Akibat godaan tersebut, pasukan Muslimin tidak menyadari bahwa pasukan musuh telah berbalik arah.
City tour ke Jabal Uhud berbeda dengan destinasi lain karena mengajarkan umat Islam akan pentingnya strategi, akal sehat dan pengendalian diri. Prinsip-prinsip tersebut sangat penting untuk dipegang hingga sekarang.
Ketika meninggalkan kawasan Jabal Uhud, kami membawa pulang lebih dari sekadar foto dan kenangan perjalanan. Tempat ini mengingatkan bahwa kemenangan tidak selalu ditentukan oleh jumlah pasukan, melainkan juga oleh ketaatan, kesabaran, dan kemampuan mengendalikan diri. Mungkin itulah sebabnya Jabal Uhud selalu menjadi salah satu lokasi yang paling kami ingat dari perjalanan umroh.


Post a Comment