Bukan Cuma Kuliah: 15 Skill Hidup yang Harus Dikuasai Mahasiswa Indonesia di Eropa

Table of Contents
Skill hidup mahasiswa Indonesia di Eropa.
Skill hidup mahasiswa Indonesia di Eropa. Foto milik www.jalansitu.

Banyak skill hidup mahasiswa Indonesia di Eropa yang harus diketahui sebelum berangkat. Meski sebagian skill tersebut terlihat remeh penting untuk menjalani keseharian agar tidak mengalami culture shock. Jika kewalahan menjalani kehidupan sehari-hari maka semangat belajar akan kacau.

Begitu mendarat, mahasiswa Indonesia di Eropa akan langsung menghadapi fasilitas, perilaku dan norma yang berbeda. Mahasiswa yang dibiayai oleh beasiswa harus melakukan adaptasi hidup di Eropa secepat mungkin karena masa kuliah dibatasi.

Berikut ini adalah 15 skill hidup yang harus dikuasai mahasiswa Indonesia di Eropa berdasarkan pengalaman menjadi mahasiswa di Boras (Swedia), Praha (Ceko), Delft (Belanda) dan Ghent (Belgia).

1. Memahami Dokumen, Kontrak dan Peraturan

Skill ini bahkan harus sudah dimiliki sejak persiapan karena peraturan untuk mendapatkan visa dan resident permit bagi pelajar berbeda tiap negara. Dormitory atau apartemen juga sudah harus dipesan sebelum berangkat.

Dibutuhkan ketelitian tingkat tinggi untuk mengetahui semua ketentuan dan konsekuensi dari tiap dokumen yang telah disetujui. Hal-hal yang harus dicermati, antara lain:

  • Syarat dan ketentuan.
  • Syarat tambahan atau pengecualian.
  • Masa berlaku.
  • Tanggal kedaluwarsa.
  • Fee dan rincian kondisinya.
  • Denda atau sanksi, dan sebagainya.

Jika tidak paham dengan pemberitahuan yang dibaca atau dokumen ditandatangani, mahasiswa akan terlibat dalam banyak masalah. 

Contoh:

  • Memahami isi kontrak dormitory di Eropa yang berisi daftar fasilitas dan peraturan.
  • Mengetahui dokumen apa saja dan lapor kemana saja begitu sampai di tujuan.
  • Ketentuan cek TBC di Belanda bisa dilakukan di tujuan, sementara untuk negara lain harus dilakukan di Indonesia.
  • Pembukaan rekening penampungan bagi penerima beasiswa dari kampus setempat atau dari negara Uni Eropa lainnya, dan masih banyak lagi.

2. Komunikasi yang Asertif 

Komunikasi yang asertif adalah komunikasi yang lugas dan tegas tapi tidak kasar. Mahasiswa Indonesia harus bisa membuang kebiasaan basa-basi yang berlebihan seperti di Indonesia, bahkan kepada para dosen. Jadi tidak perlu menambahkan emoticon nyembah segala. 

Tanpa skill ini akan banyak urusan yang tidak segera beres. Meski langsung ke pokok masalah, mahasiswa harus tetap menggunakan pilihan kata yang sopan. 

Hafalkan kosakata bahasa Inggris yang akan sering digunakan, misalnya untuk:

  • Minta tolong.
  • Berterima kasih.
  • Tidak setuju.
  • Bertanya. 
  • Memberi usul, dan sebagainya. 
Perlu diketahui bahwa tiap negara di Eropa menggunakan bahasa nasional yang berbeda-beda. Namun tak perlu khawatir karena banyak warganya yang bisa bahasa Inggris. Tapi jika berencana bekerja di negara tersebut maka sisihkan waktu untuk menguasai bahasa nasionalnya agar mendapat peluang lebih besar.

3. Disiplin Mengatur Waktu

Pelajar Asia terkenal sebagai pekerja keras, terutama dari Korea Selatan. Mereka bisa belajar nonstop seharian di perpustakaan dan datang di kelas paling awal untuk meneruskan belajar sebelum ujian. Mereka sudah terbiasa dengan iklim kompetisi di Korea Selatan yang sangat ketat sejak kecil.

Pelajar Indonesia tidak perlu meniru jika belum terbiasa tapi juga tidak boleh biasa-biasa saja. Frekuensi belajar harus ditingkatkan dengan memerhatikan waktu istirahat dan olahraga yang cukup. Mereka punya berkomitmen untuk lulus tepat waktu.

Kepandaian mengatur waktu juga terkait dengan disiplin dan tepat waktu. Memang benar, dibandingkan dengan beberapa wilayah di Eropa, ketepatan waktu kereta di Jakarta malah lebih baik. 

Namun di aspek lain, ini tidak bisa ditawar karena konsekuensinya merugikan bagi mahasiswa internasional, misalnya terkena denda yang besar, dari legal menjadi ilegal, dari eligible menjadi not eligible dan sebagainya. Daripada tanggung, lebih baik disiplin di semua aspek.

Di hari libur, tidak ada salahnya mengeksplorasi berbagai sudut Eropa. Kebanyakan netizen yang nyinyir dengan aktivitas traveling mahasiswa Indonesia di Eropa tidak mengetahui bahwa untuk pergi ke negara tetangga cukup naik kereta atau bus dengan harga tiket yang tidak terlalu mahal untuk ukuran uang bulanan LPDP atau Erasmus Mundus.

4. Mengatur Keuangan

Jika pandai mengatur keuangan, beasiswa dari LPDP (1500 Euro per bulan di Belanda) atau Erasmus Mundus (1400 Euro per bulan di Belanda) cukup untuk:

  • Biaya rutin bulanan.
  • Piknik jarak dekat sebulan sekali.
  • Piknik jarak jauh di libur panjang.
  • Konser setahun sekali.
  • Menabung. 

Sedangkan biaya yang wajib ditekan adalah beli makanan di restoran atau kafe dan nonton bioskop karena sangat mahal. Ditekan ini bukan berarti tidak boleh ya karena kadang mahasiswa membutuhkannya untuk mengatasi rasa bosan atau stres.

Banyak mahasiswa S2 Indonesia yang baru pulang ke Indonesia setelah lulus karena waktu 2 tahun dianggap tanggung. Tapi jika berencana mudik pada liburan musim panas atau musim dingin, maka harus mengurangi piknik untuk menabung lebih banyak.

5. Belanja

Belanja adalah survival skill mahasiswa internasional di Eropa agar tidak tekor dan badan sehat terus. Jika selama ini kalian pasif dengan urusan rumah, sebaiknya mulai giat mengantar ibu belanja. Amati bahan makanan yang dibutuhkan tiap hari dan yang digunakan sesekali saja agar tidak salah membuat stok.

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang cara belanja di Eropa:

  1. Merek Indonesia. Di Belanda, banyak merek bahan makanan yang sama dengan yang beredar di Indonesia. Biasanya kalau mengunjungi teman-temannya di Belanda, si emesh akan sekalian belanja bahan makanan dan bumbu-bumbu Indonesia. 
  2. Adaptasi dengan merek lokal. Di luar Belanda mungkin lebih sulit menemukan merek Indonesia. Hindari rewel untuk urusan makanan agar lebih dapat menikmati keseharian di Eropa sehingga tidak mengganggu semangat belajar.
  3. Tetap bisa makan nasi. Beras kemasan banyak di Eropa. Herannya, harga per kilogramnya sama saja dengan di Indonesia. Hanya saja perlu waktu untuk mendapatkan merek yang cocok karena jenis berasnya macam-macam.
  4. Daging halal. Mahasiswa Muslim bisa membeli daging sapi halal di toko-toko Muslim yang biasanya dikelola penjual keturunan Turki dan Timur Tengah lainnya. Selain lebih segar, tidak ada daging babi dalam satu etalase pendingin seperti di supermarket. Di supermarket biasanya si emesh hanya membeli ayam yang sudah dikemas.
  5. Cara bayar. Sudah banyak supermarket di Eropa, baik besar maupun kecil, yang menerapkan scan barang sendiri lalu tap untuk bayar. Petunjuknya ada kok dan tidak sulit. Hanya perlu pembiasaan saja. Jadi, jangan takut mencoba ya agar urusan keseharian lebih mudah.
  6. Bawa tas belanja sendiri. Jangan lupa untuk selalu membawa tas lipat di dalam ransel atau tas kuliah untuk jaga-jaga jika tiba-tiba ingin belanja karena tidak ada kresek.

6. Memasak

Beda dengan di Indonesia yang banyak warung murah, mahasiswa wajib memasak sendiri di luar negeri untuk konsumsi sehari-hari, meski sedang sibuk sekali pun. Beli makanan jadi itu sebaiknya untuk jenis jajanan, yang kalau buat sendiri perlu mengeluarkan banyak uang untuk membeli bahan dan prosesnya membutuhkan waktu yang lama.

Agar aktivitas sehari-hari tidak habis untuk memasak, biasanya si emesh masak pada hari Minggu dalam jumlah banyak, lalu dikemas per hari dan disimpan di kulkas. Jika ingin makan, tinggal memanaskannya di microwave atau air fryer

Kebetulan dormitory si emesh di Belgia menyediakan kulkas di tiap kamar. Sedangkan microwave ada di dapur bersama. Kalau malas ke dapur, si emesh memanaskan makanan di air fryer yang dibeli second dari seniornya yang telah lulus. Si emesh juga punya rice cooker mini yang dibawa dari Indonesia.

7. Laundry

Mahasiswa yang selama di Indonesia bajunya dicuci oleh ibu atau ART (Asisten Rumah Tangga) tanpa mesin cuci bisa merasakan betapa sengsaranya pekerjaan ini. Tapi jika berani mencoba mesin laundry di Eropa yang sudah pasti ada di tiap gedung dormitory atau apartemen akan memperingan kegiatan ini.

Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mempermudah urusan baju kotor, yaitu:

  • Jika punya kamar mandi sendiri seperti di dormitory si emesh, baju dalam bisa dicuci tiap hari di kamar mandi.
  • Jangan mencuci baju meski cuma satu di kamar mandi jika fasilitasnya sharing bathroom.
  • Baca peraturan penggunaan atau antrian mesin cuci agar tidak bermasalah dengan penghuni lain karena ada juga yang antriannya diatur dan bisa dipantau secara online.
  • Baca petunjuk pemakaian (umumnya cukup mudah dipahami) agar tidak merusak mesin cuci dan baju.
  • Taruh bahan pakaian yang mudah rusak, misalnya jilbab atau syal, dalam laundry bag atau washing net selama proses mencuci.
  • Proses mencuci di laundry dapat memakan waktu yang lama tapi dapat ditinggal asal tidak lupa mengatur alarm di ponsel.
  • Agar penghuni lain bisa menggunakannya jika kita ketiduran, letakkan tas untuk baju bersih dekat mesin laundry.
  • Jangan lupa mencuci sprei, sarung bantal, handuk dan coat secara berkala.

8. Naik Sepeda

Jika negara tujuanmu adalah Belanda dan Belgia maka bisa gowes merupakan skill wajib. Yang belum bisa naik sepeda, segeralah belajar gowes ketika masih di tanah air. Tanpa skill ini, hidup akan repot sekali, kecuali sudah terbiasa jalan kaki jarak jauh. Bus ada, tapi kadang pemberhentiannya cukup jauh.

Di kedua negara itu, mahasiswa bisa sewa sepeda bulanan yang dapat ditukar jika sepeda rusak. Ketika pindah dari Belanda ke Belgia, si emesh cukup lapor ke provider yang sama agar keanggotaannya ditransfer ke Belgia.

9. Naik Transportasi Umum

Di Eropa taksi mudah ditemui tapi mahal. Karena itu, masyarakat di Eropa terbiasa menggunakan transportasi umum. Bahkan dengan bus dan kereta, mahasiswa Indonesia bisa pergi ke beberapa negara tetangga dengan harga tiket terjangkau menggunakan visa Schengen.

Beberapa negara memberi subsidi atau bahkan menggratiskan tiket transum untuk pelajar, balita dan lansia, termasuk mahasiswa internasional. Contohnya, bus kota dan trem di Praha hanya mengutip biaya langganan 130 CZK per bulan, yang jika dikonversi menggunakan kurs tahun 2025 sekitar 89.000 IDR per bulan. Tapi, jangan lupa membaca ketentuannya secara detail karena jika tidak membawa kartu bus di Praha dan terkena random check akan diberikan denda yang besar.

10. Bersosialisasi 

Bersosialisasi di Eropa berbeda dengan di Indonesia. Bersosialisasi bukan berarti sok akrab dan nimbrung dengan semua orang lain. Bersosialisasi di Eropa artinya bersifat ramah dan approachable, terutama kepada teman, dosen, staf kampus dan staf instansi yang penting. 

Orang Eropa sangat menjaga privasi, jadi hindari bertanya hal-hal yang bersifat pribadi. Banyak kok topik yang bisa dibicarakan, misalnya liburan, makanan, pemandangan, lalu-lintas, tari, sejarah, musik dan sebagainya. Skill ini bermanfaat untuk memperlancar urusan sehari-hari dan menyelesaikan tugas-tugas kuliah.

Bersosialisasi penting untuk memperluas network. Ini bermanfaaat buat yang berencana bekerja di Eropa setelah lulus. Teman kuliah yang akrab, walaupun beda negara, dapat diajak sharing apartemen setelah masa beasiswa selesai.

11. Membaca Peta

Berkat Google Map, si emesh dapat solo traveling untuk pertama kali dari Swedia ke Barcelona (Spanyol), serta Toulouse dan Paris (Prancis). Peta online penting untuk mengetahui letak stasiun kereta api dan metro, serta pemberhentian bus. Peta online juga diperlukan untuk mencari restoran dengan harga terjamin dan suasana yang bersahabat, terlebih karena si emesh berhijab.

Selain peta online, peta di stasiun-stasiun besar mungkin agak membingungkan. Tak perlu buru-buru mengikuti perasaan, apalagi jika peta tersebut menggunakan bahasa nasional setempat. Gunakan waktu sebaik-baiknya untuk memahami arah peta agar tidak tersesat.

12. Mengelola Homesick

Bayangan akan rumah yang ramai, keluarga yang hangat, ayam kremes yang lezat, naik motor keliling kota, beli cilok di pinggir jalan dan sebagainya merupakan kenangan yang sering membuat mahasiswa di Eropa kangen kampung halaman. Hal ini harus dikelola agar suasananya tidak murung terus-menerus.

Cara mengelola homesick, antara lain:

  • Membuat jadwal rutin harian meski tidak tiap hari harus ke kampus.
  • Punya hobi, misalnya si emesh yang membeli gitar second karena pandai memainkan gitar klasik.
  • Bergaul dengan teman-teman yang sefrekuensi (tidak harus sama-sama dari Indonesia).
  • Datang ke acara-acara komunitas Indonesia karena biasanya berlimpah makanan khas Indonesia.

13. Memahami Budaya Setempat

Umumnya, mahasiswa Indonesia tidak banyak berinteraksi dengan warga lokal di luar urusan akademik karena tinggal di dormitory milik kampus, kecuali yang mendapatkan program magang kerja di kota lain. Meski tidak banyak, tapi interaksi pasti terjadi, terutama di transum dan supermarket.

Mahasiswa Indonesia harus peka melihat sekitar agar dapat menghargai budaya setempat dengan benar. Menghormati budaya setempat bukan berarti harus kehilangan jati diri dengan menjadi "lebih Eropa dari orang Eropa itu sendiri".

Contoh:

  • Tidak berisik di transum.
  • Menggunakan headphone untuk mendengarkan musik di tempat umum.
  • Tidak menyerobot antrian.
  • Tidak menatap orang lain tanpa bermaksud menyapa, dan sebagainya.

14. Menghargai Privasi dan Hak Milik

Dalam pelajaran bahasa Inggris di sekolah, kita diajarkan untuk mengucapkan "How are you?" atau "How do you do?" jika bertemu orang lain. Dalam praktiknya di Eropa, memang cukup sampai disitu saja kalimat yang perlu diucapkan untuk basa-basi pertemuan.

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tidak melanggar privasi atau hak milik orang lain:

  • Jika tidak benar-benar akrab, setelah menanyakan kabar tidak perlu diteruskan dengan mananyakan hal-hal yang lebih pribadi, seperti usia, sekolah anak, status pernikahan dan sebagainya karena bukan sesi interogasi polisi.
  • Hindari mampir begitu saja ke dormitory atau apartemen orang lain tanpa pemberitahuan.
  • Hindari mengarahkan kamera ke orang yang tak dikenal.

15. Memotivasi Diri Sendiri

Bosan dan kangen sangat wajar dirasakan mahasiswa yang sedang merantau sendirian. Hal itu bisa coba diatasi dengan berbagai cara. Kondisi yang paling sulit untuk diatasi adalah kehilangan motivasi diri karena hanya motivasi diri yang dapat mengangkat seseorang dari rasa bosan dan kangen.

Apa pun keadaannya, jangan sampai kehilangan motivasi hingga lulus. Ada beberapa cara untuk menjaga motivasi diri agar tetap tinggi, antara lain:

  • Rajin beribadah dan berdoa.
  • Untuk yang Muslim dan mungkin jauh dari masjid, atur kamar (karena banyak yang sempit) agar bisa meletakkan sajadah untuk salat wajib dan sunah.
  • Hubungi sahabat-sahabat secara berkala untuk memperbaharui semangat.
  • Hubungi keluarga sesering mungkin untuk terus mengingatkan diri tentang bagaimana bangganya mereka dengan prestasi kalian.
  • Pilih circle yang asyik tapi tetap fokus belajar.

PENUTUP

Hidup di Eropa seorang diri sebagai mahasiswa sangat tidak mudah. Apalagi bagi yang baru pertama kali ke luar negeri dan langsung jauh ke Eropa. Belum lagi ada target lulus yang harus dicapai.

Namun hidup di Eropa bukan cuma soal akademik. Urusan sehari-hari dan interaksi dengan banyak orang dengan latar belakang yang sangat berbeda tak kalah penting. Meski awalnya terlihat menakutkan, tapi pengalaman hidup justru membentuk kedewasaan.

Selain persiapan inti seperti visa, ijazah, dormitory, tiket pesawat dan sebagainya, berbagai skill sederhana bisa menentukan kenyamanan hidup abroad. Menurutmu, dari 15 sklill hidup mahasiswa Indonesia di atas, mana yang paling sulit dipelajari sebelum tinggal di luar negeri?

Post a Comment