Apartemen atau Domitory Mahasiswa di Eropa, Mahal tapi Butuh

Table of Contents
dormitory mahasiswa di Eropa
Domitory mahasiswa di Gent, Belgia. Foto milik www.jalansitu.com.

Apartemen atau dormitory mahasiswa di Eropa memang mahal tapi mutlak dibutuhkan. Beberapa konten di media sosial memperlihatkan bagaimana mahasiswa Indonesia harus bertahan di kamar yang sempit, bahkan tidur di sofa. Kondisi tersebut mungkin benar tapi tidak dialami oleh si emesh. Karena itu, kami ingin menceritakan pengalaman si emesh.

Selama di Eropa, si emesh telah menempati 4 dormitory dan 1 apartemen di Swedia, Ceko, Belanda dan Belgia. Semuanya nyaman, bahkan sebagian terlalu bagus untuk mahasiswa. Perlu digarisbawahi bahwa pengalaman ini berkat jalan yang diberikan Allah Swt dan rajin mencari informasi.

Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Menyewa Dormitory atau Apartemen bagi Mahasiswa di Eropa

Sewa apartemen atau dormitory (dorm) di Eropa sudah jelas mahal untuk kebanyakan mahasiswa Indonesia. Tapi seberapa mahalnya tergantung dengan stipend yang diperoleh. Untuk beasiswa Erasmus Mundus, umumnya awardee mendapatkan 1400 Euro per bulan. Sedangkan harga sewa dorm di Praha sekitar 230 Euro atau 20-25% dari uang bulanan tersebut. 

Mahasiswa Indonesia akan berusaha mengirit uang bulanan itu untuk makan, ditabung, jalan-jalan mumpung di Eropa, bahkan ada yang mengirimkan sebagian uang tersebut ke keluarganya. Banyak awardee yang berasal dari negara miskin atau berkembang dengan kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan. Namun ada kondisi kamar minimal yang perlu dipikirkan untuk mendukung keberhasilan perkuliahan sebagai bentuk tanggung jawab kepada pemberi dana.

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menyewa apartemen atau dormitory, antara lain:

1. Jendela Kamar

Usahakan kamar tersebut memiliki jendela yang cukup lebar untuk pertukaran udara. Pada musim panas, banyak dormitory yang tidak ber-AC. Jika kamar tersebut sharing, usahakan dipan yang akan ditempati dekat dengan jendela. Selain itu, akan lebih baik lagi jika meja belajar dekat dengan jendela agar tidak jenuh belajar.

2. Luas Kamar

Luas kamar harus memadai untuk musim dingin. Semua kamar dorm di Eropa memiliki pemanas karena orang-orang lebih banyak di dalam ruangan. Dengan luas kamar yang memadai, mahasiswa  tidak akan merasa penat. 

3. Kasur

Mungkin beberapa mahasiswa memang terpaksa tidur di sofa. Tapi jika dana beasiswa cukup, jangan menyisihkan terlalu banyak untuk jalan-jalan. Utamakan kamar dan kasur yang nyaman untuk istirahat karena akan memengaruhi kondisi fisik selama masa perkuliahan.

4. Fasilitas Umum

Biasanya ada mesin cuci dan pengering di fasilitas umum tiap gedung. Sedangkan dapur umumnya terdapat di tiap lantai atau tiap beberapa kamar. Meski fasilitas tersebut sudah umum di dormitory mahasiswa di Eropa, tapi sebaiknya dipastikan keberadaannya dulu. Sementara itu apartemen sudah termasuk dapur, mesin cuci dan mesin pengering. 

5. Sendiri atau Sharing

Banyak mahasiswa yang harus sharing, baik sharing kamar dormitory maupun unit apartemen, untuk berbagi biaya. Ketika memutuskan untuk sharing, pastikan tiap orang mendapat privacy yang cukup karena kuliah dengan beasiswa itu tanggung jawabnya besar. Masing-masing perlu waktu belajar dan istirahat yang cukup. Belum lagi kondisi mental yang harus terjaga. Jika tidak memungkinkan kamar terpisah dalam satu unit, buatlah peraturan yang disepakati sebelum mulai sharing kamar.

Tips Mendapatkan Dormitory Mahasiswa yang Terjangkau di Eropa

Salah satu hal yang memenuhi pikiran awardee baru adalah bagaimana cara mendapatkan dormitory yang nyaman karena belum pernah kesana. Apakah sama dengan cara mencari kamar kos di Indonesia? Berikut ini adalah beberapa tips mencari dormitory di Eropa.

1. Ikut Dormitory War

Setelah mendapat kepastian menjadi awardee, segeralah menelusuri website universitas yang bersangkutan. Umumnya mahasiswa di Eropa tinggal di kompleks dormitory, baik yang berada di dalam kampus maupun di luar kampus. Pengelola dormitory berbeda dengan pengelola kampus, namun biasanya keduanya ada kerja sama promosi untuk memudahkan mahasiswa.

Dalam satu dormitory ada beberapa kategori harga yang menjadi sumber persaingan. Semua peserta war ingin mendapatkan kamar yang paling murah, paling luas, paling lengkap, paling mudah diakses, hingga paling bagus pemandangannya. Tidak ada campur tangan kampus maupun pengelola dormitory dalam war kamar. Siapa yang cepat, dialah yang dapat.

2. Riset Harga Kamar

Sebelum ikut war, wajib riset dulu harga sewa kamar lengkap dengan fasilitas yang disediakan dan posisinya. Manfaatkan video room tour yang biasanya diunggah di website tersebut atau akun YouTube pengelola dormitory dan para mahasiswa untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. Cari nomor atau letak kamar yang diincar untuk mempercepat pengisian formulir ketika waktunya war.

3. Jika Kalah Dormitory War

Jika kalah war maka mahasiswa harus mencari kamar di dormitory lain. Biasanya fasilitasnya tidak jauh berbeda dengan dormitory dekat kampus. Suasananya mungkin sedikit berbeda karena dihuni masyarakat umum. Namun suasananya masih kondusif karena kebanyakan yang tinggal di kawasan tersebut juga akademisi atau keluarga muda.

Pilihan lain adalah dengan menyewa unit di apartemen di dekat kampus. Harga sewanya tentu paling tinggi tapi fasilitasnya paling lengkap. Jika terlalu mahal, mungkin bisa mencari teman sharing. Tapi pastikan semua mendapat tempat tidur yang memadai untuk istirahat. Suasana di apartemen lebih heterogen tapi biasanya tidak sampai hiruk pikuk.

Pengalaman Tinggal di Apartemen dan Dormitory Mahasiswa di Eropa

Jika teman-teman sudah follow akun Instagram @jalansitu, teman-teman akan melihat foto-foto 4 dormitory dan 1 apartemen yang pernah ditinggali si emesh di Boras, Praha, Delft, Gent dan Leeuwarden. Foto dan video memang sengaja tidak diunggah di blog untuk menghemat kapasitas penyimpanan media.

Berikut ini adalah dormitory dan apartemen tersebut.

1. Dormitory di Boras, Swedia

Ini merupakan dormitory pertama si emesh karena untuk pertama kalinya si emesh ke Eropa. Untungnya, dosen pembimbing dari Indonesia benar-benar mendampingi tiap langkah, termasuk memberitahu bahwa si emesh dan 2 temannya harus ikut war. Mereka segera mencari informasi dengan intensif.

Dorm ini dibagi berdasarkan unit. Tiap unit terdapat 2-3 kamar terpisah yang semuanya di-war-kan sehingga bisa saja mendapat teman baru dalam satu unit. Tiap kamar dilengkapi dengan kamar mandi tapi dapur dan ruang makan sharing. Sedangkan ruang laundry ada di gedung sebelah. Konsepnya seperti apartemen double atau triple rooms. 

Alhamdulillah, si emesh mendapat kamar dengan harga 250 Euro, yang termasuk murah di gedung tersebut. Sedangkan temannya dari Indonesia mendapat kamar dengan harga lebih tinggi tapi kamarnya lebih luas. Namun berhubung teman satu unit si emesh dari negara lain batal datang, teman si emesh dari Indonesia itu bisa pindah kamar di unit tersebut.

Masing-masing kamar di dorm ini dilengkapi tempat tidur, meja belajar, kursi santai, lemari, kulkas dan pemanas ruangan. Tidak ada AC.

2. Dormitory di Praha, Ceko

Kali ini kamar dormitory sudah diatur oleh pihak kampus atas permintaan pemberi beasiswa, termasuk siapa saja yang sekamar. Namun praktiknya ada awardee dari negara lain yang minta tukar agar bisa sekamar dengan temannya dari negara yang sama. 

Kamar di sini tak beda dengan kamar kos di Indonesia yang berisi 3 tempat tidur. Masing-masing penghuni mendapatkan meja belajar. Karena itu, kamarnya terbilang lebih sempit tapi luasnya masih memadai dan nyaman untuk bergerak dan sholat. Di luar ada balkon kecil. Karena sharing dalam satu kamar, maka kebutuhan privacy memang kurang terpenuhi.

Untuk dapur sharing juga dengan teman sekamar. Sedangkan laundry ada di lantai lain. Letak dormitory cukup jauh dari kampus dan merupakan kawasan umum sehingga harus naik bus setengah jam dengan kecepatan sedang. Untungnya bus umum di Praha sangat memanjakan pelajar karena sangat murah seperti bayar administrasi kartu langganannya saja, frekuensinya banyak dan tepat waktu. Tidak ada AC.

3. Dormitory di Delft, Belanda

Delft merupakan salah satu kota pelajar utama di Belanda. Banyak pelajar Indonesia di sini. Meski dorm-nya berada di kawasan umum, yaitu sekitar 15 menit gowes dari kampus. Namun dorm ini isinya mahasiswa atau akademisi. Dorm-nya sangat besar dan kamar-kamarnya sangat luas. Bahkan ada balkon yang nyaman untuk nongkrong. Sebenarnya kamar di sini terlalu luas untuk dihuni seorang diri.

Fasilitas kamarnya, antara lain tempat tidur, meja belajar, sofa, kulkas, pemanas ruangan dan kamar mandi. Tidak ada AC. Meski kamar terpisah (tidak dibagi per unit), tapi dapur harus sharing dengan kamar sebelah. Untungnya kamar sebelah dihuni teman emesh dari program beasiswa yang sama. Inilah kamar terbesar dan ternyaman untuk ketegori dormitory yang pernah dihuni si emesh di Eropa sebagai mahasiswa.

4. Dormitory di Gent, Belgia

Pemilihan dorm ini cukup menantang karena yang terdekat dengan kampus memiliki jarak yang cukup jauh dengan kontur jalan yang naik turun. Transportasi si emesh di Belgia adalah sepeda sehingga cukup melelahkan.

Bangunan dorm ini paling compact di antara dorm lain di atas tapi kamar dan kamar mandi tidak perlu sharing. Fasilitas kamarnya antara lain, tempat tidur, meja belajar, lemari, kulkas dan pemanas ruangan. Tidak ada AC. Jendela juga lebar meski tidak ada balkon sehingga masih bisa buat cuci mata ketika belajar. Sementara dapur merupakan fasilitas umum untuk satu lantai. Sedangkan ruang laundrynya besar karena digunakan oleh satu gedung.

5. Apartemen di Leeuwarden, Belanda

Leeuwarden merupakan sebuah kota kecil di Belanda. Si emesh datang ke kota ini untuk magang kerja, berdua dengan temannya yang sesama Muslimah. Kali ini si emesh dan temannya tidak melakukan war karena tidak ada aktivitas akademis di kampus-kampus sekitar.

Mereka mendapatkan satu unit apartemen yang tampilannya terbilang mewah untuk penerima beasiswa. Untung harga sewanya tidak semewah tampilannya. Penataan ruangannya juga artistik sehingga cantik sekali untuk konten media sosial, baik foto maupun video. Unit ini lebih cocok digunakan oleh pasangan eksekutif muda dan merupakan hunian terbaik yang ditinggali si emesh selama di Eropa.

Apartemen ini tidak terlalu besar, sekitar 4 unit saja (atau lebih?) dan dikelola oleh pemiliknya sendiri. Uniknya, pemilik apartemen ini pernah ke Indonesia dan saat ini anaknya sedang jalan-jalan di Sumatra. Rupanya keluarga pemilik  apartemen ini hobi traveling sehingga tak heran jika banyak hiasan berbau etnik di apartemen ini. 

Fasilitas yang tersedia dalam satu unit adalah kamar tidur, ruang tamu (ya betul), sofa panjang, ruang TV, dapur dengan kitchen bar yang keren, ruang laundry, kamar mandi, peralatan masak, kulkas besar, pemanas ruangan, peralatan saji hingga bumbu-bumbu. Unit ini dibersihkan tiap Senin ketika si emesh dan temannya sedang magang.

Demikianlah gambaran apartemen dan dormitory untuk mahasiswa di Eropa. Dari pengalaman di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ada 3 cara untuk mendapatkan hunian yang memadai, yaitu rajin riset, ikut war dan memohon kemudahan dari Allah Swt. Semoga pengalaman ini bermanfaat bagi teman-teman.

Post a Comment