Itinerary Melaka Malaysia 2 Hari 1 Malam Pas Idul Adha

Table of Contents
itinerary melaka 2 hari 1 malam
Itinerary Melaka 2 hari 1 malam. Foto milik www.jalansitu.com.

Di artikel sebelumnya, kami telah menceritakan tentang itinerary Melaka, Malaysia, untuk 2 hari 1 malam yang berakhir membagongkan. Teman-teman harus membacanya agar tidak salah dalam membuat perencanaan. Setelah peristiwa itu, kami kembali lagi ke Melaka yang kebetulan bertepatan dengan Idul Adha.

Begitulah jika suka spontan yang berakibat banyak kejutan. Jika dulu kejutannya tiba-tiba Ramadan dimulai, maka kali ini tiba-tiba sholat Idul Adha di Melaka.

Idul Adha di Malaysia

Dalam menentukan hari-hari besar agama Islam, kami selalu ikut pemerintah. Kesalahan kami adalah langsung menyambar hari libur tanpa menunggu hasil sidang isbat. 

Dari pengalaman pertama sebelumnya, kami tahu kalau Jonker Walk Night Market hanya ada di hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Maka ketika melihat tanggal merah, kami langsung booking tiket untuk Jumat. Pada hari Kamis malam, sidang isbat memutuskan bahwa Idul Adha jatuh pada hari Jumat.

Tentu saja kami galau. Apalagi letak masjid cuma di depan rumah. Kalau kami tak jadi berangkat, maka uang kapal feri dan hotel akan hangus. Tak lama kemudian, kami mengetahui bahwa Idul Adha di Malaysia ditetapkan pada hari Sabtu. Akhirnya kami putuskan tetap pergi dengan tak lupa berpamitan pada panitia kurban dan menyatakan ikhlas tidak mengambil bagian kurban kami.

Itinerary Melaka Pas Idul Adha

Perjalanan naik kapal feri ke Melaka dari Dumai sudah kami ceritakan di artikel terdahulu. Jadi itinerary ini dimulai dari Pelabuhan Melaka. Oya, "kami"di sini bertiga, yang terdiri dari si papah, mamah dan denok. 

Berikut ini adalah itinerary Melaka selama 2 hari 1 malam menggunakan catatan jam di ponsel. Sebagai catatan, hitungan waktu Malaysia satu jam lebih awal dari WIB (Waktu Indonesia Barat).

Jumat 11.50: Tiba di Pelabuhan Melaka

Kami tiba lebih cepat beberapa menit dibandingkan dengan kedatangan sebelumnya. Padahal cuaca agak mendung sehingga membuat si denok tidak mau melihat ke luar. Urusan imigrasi juga lebih cepat karena pesiapan kami lebih baik dari sebelumnya.

Jumat 12.42: Makan Siang di Klebang Original

Warung ini jauh dari kawasan Jonker tempat kami menginap, sekitar 7 km naik taksi. Kami kesini gara-gara papah melihat TikTok. Mamah terlihat cemberut sepanjang perjalanan karena tidak diberitahu rencana tersebut. Tiba-tiba saja papah pesan Grab ke Klebang. Sudah gitu, papah bilang dekat tapi nggak segera sampai tujuan. 

Ini warungnya besar dan bersih tapi semi permanen. Jualannya mirip angkringan modern di Jogja, baik jenis, cara mengambil, antri dan rasanya. Hanya saja beberapa jenis makanannya disesuaikan dengan menu khas setempat. Harganya murah sih.

Kata papah, yang terkenal di sini coconut shake-nya. Sehabis dari Melaka dulu, papah memang suka banget dengan coconut shake. Ternyata, coconut shake di sini berbeda dengan Madam Yap. Kalau Madam Yap dulu cuma kelapa dan pemanis, di Klebang ini banyak rasanya. Bahkan ditambah topping es krim. Ini bukan tak enak ya, cuma masalah selera saja. Kalau anak-anak muda sepertinya lebih suka yang ini. Kalau kami lebih suka yang simpel.

Harga coconut shake spesial RM4.60, nasi lauk RM7.50, nasi lemak 1.50 dan jajanan RM1.00-8.50. Semua ada harganya kok, jadi pastikan sudah cek harga dulu supaya tidak salah ambil yang mahal supaya irit. Kecuali memang tidak mau mengirit karena mau menikmati liburan.

Jumat, 13.48: Tiba di Styles Hotel Melaka

Pada artikel sebelumnya kami bilang bahwa wisatawan Melaka itu pelit banget kasih bintang. Jadi, dalam pencarian hotel ini kami mengandalkan visual, yaitu foto-foto yang minim edit terbaru dan jarak ke pusat keramaian di Google Map.

Kami senang dapat hotel bintang 3 ini karena benar-benar dekat dengan Titik 0 Melaka. Hotel ini compact tapi bersih dan terlihat seperti bangunan lama yang habis direnovasi. Liftnya juga kecil, cuma muat buat sekeluarga. Kami memang cuma butuh tidur aja sih, bukan untuk menikmati fasilitas lain di luar kamar karena akan banyak jalan-jalan.

Kami memesan satu kamar untuk bertiga, yang isinya 1 double bed dan 1 single bed. Kamarnya bersih dan modern, serta tidak sesempit bagian luarnya. Jadi kami masih bisa menggelar sajadah dengan leluasa. Hanya saja, saya lupa pesan yang ada jendelanya (street view). Harga per malam sekitar 1,3 juta rupiah pesan di OTA (Online Travel Agent).

Penjaga hotelnya yang terlihat hanya 2, yaitu mas-mas dan seorang tante (mungkin pemiliknya). Dua-duanya ramah. Pintu depan selalu terkunci supaya aman karena sangat dekat dengan keramaian. Kalau tidak ada orang di resepsionis, jangan panik, ada video interkom di dekat pintu. Pencet saja tombolnya untuk berbicara dengan pengelola agar dibukakan pintu.

Jumat, 15.00: Naik Melaka River Cruise

Setelah istirahat sebentar, kami langsung ke jetty yang berjarak 300 meter dari hotel. Tidak ada antrian seperti dulu meski penumpang tetap satu kapal penuh. Harga tiket untuk wisatawan asing tetap RM50 per orang, ditambah RM25 per foto kalau mau beli suvenir dengan foto kita.

Jika dulu tidak berhenti di tengah jalan karena antrian ramai maka kali ini kapal sempat berhenti di suatu taman bermain. Rupanya disitu juga ada jetty dan ada potongan harga buat yang singgah di sana yang nantinya dijemput kapal lain lewat. Namun kami merasa bahwa kapal yang sekarang lebih ngebut dari sebelumnya.

Jumat 15.46, Naik Menara Taming Sari

Kali ini kami langsung ke Menara Taming Sari karena dari pengalaman lalu kami menemukan bahwa dari tempat turun kapal ada jalan tembus melewati Samudera Musem untuk ke Taming Sari sehingga lebih dekat.

Harga tiket dewasa untuk wisatawan internasional siang hari tetap sama, yaitu RM26 dengan bonus sebotol air mineral. Untuk sunset dan night view RM31. Di sini juga diminta foto dulu yang bisa dibayar ketika turun dari menara. Tapi jika tidak berminat tidak apa-apa.

Tinggi  menara Taming Sari 80 meter dan ber-AC. Tempat duduk pengunjung akan berputar 360° dengan lambat sehingga akan memberikan pengalaman yang seru tanpa pusing sehingga seluruh anggota keluarga bisa ikut. 

Jumat, 16.49: Makan Sore di Jonker 88

Kedai di Jalan Hang Jebat (pusat pertokoan dan resto) ini viral di kalangan wisatawan Indonesia. Jaraknya 290 meter dari hotel. Sayangnya, waktu liburan ke Melaka sebelumnya, antrian cukup panjang. Padahal kami tim yang ogah antri lama demi makanan meski amat sangat terkenal sekali pun. Tapi di sini tetap tertib kok karena ada nomor antrian sambil berdiri dan berbaris.

Sebenarnya pada liburan kali ini masih ramai juga, tapi karena bukan jam makan, jadi ada meja kosong sedikit. Itu pun nyempil di belakang. Enggak apa-apa deh, yang penting makan sambil duduk. Kedai ini dihiasi banyak benda kuno, dari hiasan dinding hingga uang.

Cara pesannya unik. Di tempat kecil ini, ternyata ada 2 atau 3 stan di dalam. Maaf kami nggak eksplor karena bingung. Heheheee. Kami hanya ke stan laksa karena menu paling terkenal dan es cendol khas Melaka. Jadi, teman-teman antri di stan yang diinginkan. Pada saat giliran teman-teman, sebutkan pesanan kalian, tunggu, bayar di stan tersebut, dan angkat nampan sendiri ke meja. Kalau soal begini si mamah paling sat set, jadi si papah dan denok menunggu di meja.

Pesanan kami:

  • Nyonya asam laksa kahwin baba laksa RM12.00.
  • Baba Laksa RM12.00.
  • Baba cendol RM7.00.
  • Baba cendol durian RM9.00.
Di bagian laksa itu ada macam fish cake dan gorengan (entah apa namanya) yang bisa ditambahkan ke laksa dengan biaya tambahan. Tapi teman-teman jangan buru-buru nambah ya karena porsinya besar. Sebaiknya, makan dulu setengah kalau kira-kira kurang, baru antri lagi buat beli tambahannya. Kuahnya itu awet panas, jadi aman buat yang mau nambah. Tapi buat si mamah yang gigi dan gusinya sensitif, agak nyiksa juga sih. Heheheee ....

Jumat 17.18: Mampir Jajan di Madam Yap

Sebelum balik ke hotel, kami mampir di Madam Yap. Senang banget karena toko kesayangan kami ini cuma 21 meter dari hotel. Tentu saja kami coconut shake kesukaan papah, serta aneka pastry, puff dan egg tart kesukaan mamah.

Jumat 20.56: Jalan-jalan di Jonker Walk Night Market

Kami bungkus banyak makanan untuk makan malam di hotel, antara lain tiram, kwetiau, kentang goreng tusuk, mango sticky rice dan masih banyak lagi. Meski tetap penuh, tapi pengunjung dan penjual tak seramai dulu. Mungkin banyak yang mudik ke kampung, ya.

Jumat 21.41: Lihat Takbiran di Titik 0 Melaka

Takbir keliling itu budaya mana sih? Tidak hanya di Indonesia, di Melaka pun ada takbir keliling. Tapi takbiran mereka dalam kelompok-kelompok kecil saja. Kalau di Indonesia kan meriah, ya. Apalagi di Yogyakarta yang diorganisir pemerintah kotanya dan dilombakan. Ini lumayan sih buat mengobati rasa rindu kampung.

Sabtu 06.45: Perjalanan Sholat Id ke Masjid Kampung Kling

Masjid kuno ini harus dikunjungi wisatawan Muslim yang akan sholat dan istirahat sebentar. Masjid lain yang dekat Jonker adalah Surau Warisan dekat Titik 0. Masjid Kampung Kling lebih besar, tenang dan kami pernah ke sini sebelumnya. 

Sehari sebelumnya, kami sudah bertanya ke mas resepsionis (orang Melayu) tentang jam dimulainya sholat Id. Beliau mengatakan jam "delapan setengah". Si papah dan mamah tidak terlalu paham jawaban si mas yang bicara dengan logat kental Melayu. Untungnya ada si denok yang bekerja di perusahaan Malaysia.

Si denok bertanya pada si mamah tentang jam berapa akan berangkat dari hotel sementara sholat Id jam dimulai jam "setengah delapan". Mamah menjawab jam "06.45" supaya bisa jalan santai dan antisipasi kalau jemaahnya banyak. Jalan Hang Jebat masih sepi dan banyak burung gagak hitam yang mendarat di tengah jalan. 

Jam 06.58 kami sampai di masjid. Ada bapak-bapak yang sedang menggelar karpet. Beliau diam saja melihat kami datang. Kondisi masjid masih sepi dan hanya ada kami! Lalu si papah mengucapkan salam dan bertanya kapan sholat Id dimulai. Beliau menjawab jam "delapan setengah". 

Karena curiga, kami membuka internet dengan untuk mencari maksud jam "delapan setengah".  Ternyata "delapan setengah" itu artinya "jam delapan lebih setengah" alias "setengah sembilan". Kami pun tertawa ngakak, terutama si denok. Tentu saja ini bukan salah dia karena dalam pekerjaan lebih banyak menggunakan bahasa Inggris. Kami juga baru tahu kalau sholat Id di Melaka sesiang itu.

Sabtu 07.10: Ngopi di ZUS Coffee

Alih-alih balik ke hotel, kami memutuskan untuk ngopi saja di Jalan Heng Jebat. Ini satu-satunya tempat ngopi yang buka sepagi itu. Kami tidak ingat apa saja yang kami pesan, tapi salah satunya adalah ZUS Signature Curry Puff Combo seharga RM7.90. Ternyata ini enak dan kami bisa rekomendasinya untuk membangkitkan mood di pagi hari.

Sabtu 07.57: Sholat Id di Masjid Kampung Kling

Kami tiba lagi di masjid dan sudah ada beberapa jemaah yang datang. Tempat untuk jemaah wanita tidak banyak dan ternyata jemaah wanita yang datang juga tidak banyak. Kami baru ingat kalau kawasan wisata Melaka ini merupakan daerah pecinan sehingga letak masjid-masjid yang ramai agak jauh. Jadi tidak perlu mencadangkan waktu terlalu lama seperti di Indonesia.

Sholat dan khutbahnya tidak terlalu lama. Khutbah-nya ada jeda seperti sholat Jumat. Setelah itu, kami diajak makan bareng. Ada banyak nampan yang telah dipersiapkan. Masing-masing nampan bisa dimakan oleh 4-5 orang. Menunya seperti nasi mandhi ala Arab tapi rempahnya Melayu. Minumnya teh leci hangat.

Kami sangat bersyukur mendapatkan keramahan di negeri orang seperti ini. Kami mengelilingi nampan bersama ibu-ibu muda dari Belgia dan Prancis. Masya Allah mereka cantik-cantik banget mengenakan hijab, tinggi dan glowing seperti model. Ternyata mereka keturunan Timur Tengah. Cara mereka bicara halus dan sopan. Si mamah sampai terpesona. 

Setelah makan, pengurus masjid mengajak tamu-tamu asing untuk melihat penyembelihan kurban. Kami sendiri langsung balik ke hotel. Tak lupa kami berterima kasih atas sambutan yang hangat tersebut.

Sabtu 09.26: Jajan di The Butter

Letaknya di depan Masjid Kampung Kling. Sudah lama kami penasaran dengan isinya karena dari luar tampak mungil, kemas, dan lucu. Di Melaka ini walaupun Lebaran Haji semua toko tetap buka, pahadal pegawainya banyak yang Islam.

Jualannya kesukaan si mamah semua, yaitu kue-kue pastry, cheesecake dan egg tart yang dibuat on the spot, jadi masih fresh

Selain itu, mereka juga menjual teh diseduh per order. Pembeli bisa memilih dengan mencium aroma jenis-jenis tehnya. Tipe teh di sini teh bunga. Dari interior hingga penyajiannya cantik. Jelas ini jadi favorit si mamah di Melaka. Di sini juga ada kopi dan matcha. Kami tidak pesan kopi karena paginya kami sudah minum kopi.

Sabtu 09.42: Beli Oleh-oleh di Beryl's Chocolate

Beryl's adalah merek coklat yang terkenal di Malaysia dan sering dijadikan oleh-oleh wisatawan Indonesia. Si denok beli oleh-oleh untuk teman-teman kantor. Si papah dan mamah cuma nemenin heheheee .... Dari Beryl's kami lanjut balik ke hotel.

Sabtu 11.34: Tiba di Pelabuhan Melaka

Akhirnya kami harus kembali ke Indonesia lewat Pelabuhan Dumai. Enaknya liburan ke Melaka itu karena keberangkatan kapal ferry memudahkan penyusunan itinerary, yaitu tiba di Melaka pada jam check-in dan berangkat dari Melaka setelah jam check-out.

Semoga itinerary Melaka (Malaysia) 2 hari 1 malam ini bermanfaat. Untuk video dan foto-foto yang lebih banyak dan jelas bisa dilihat di Instagram, YouTube dan TikTok Jalansitu.

Post a Comment