Itinerary Melaka Malaysia 3 Hari 2 Malam yang Perlu Diperhatikan

Table of Contents

itinerary melaka
Itinerary Melaka. Foto milik Jalnsitu: temple di Jl Hang Jebat.

Itinerary Melaka (Malaysia) 3 hari 2 malam ini harus kami ceritakan meski kejadiannya sudah lama agar teman-teman dapat membuat perencanaan yang lebih baik. Waktu itu memang pertama kali kami ke Melaka, itupun secara spontan sehingga risetnya kurang.

Sebenarnya kami sudah lama pengin ke Melaka karena dari Dumai (Indonesia) hanya perlu waktu 2 - 2,5 jam naik kapal feri. Masalahnya, kami bingung mau titip mobil dimana. Kami tinggal di kota sebelah, sementara informasi tentang penitipan mobil di Dumai sangat minim. Alhamdulillah, ada teman yang bersedia mengantar dan menjemput kami.

Yang Wajib Diperhatikan Ketika Menyusun Itinerary Melaka

Dari riset kilat kami ketahui bahwa daya tarik utama Melaka adalah sejarah, susur sungai menggunakan kapal boat wisata dan Jonker Walk night market. Karena itu, kami mencari hotel di sekitar Jonker Walk sebagai pusat keramaian untuk satu malam. 

Namun, yang luput dari perhatian kami adalah ternyata night market yang terkenal di Jonker itu tidak diselenggarakan tiap malam. Jadwal night market Jonker hanya pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu. 

Tadinya kami berangkat pada hari Minggu dan berencana pulang hari Senin. Karena kami mendapat pengalaman yang menyenangkan pada hari Minggu itu, maka kami tidak jadi pulang Senin dan memperpanjangnya hingga hari Selasa. 

Akhirnya kami plonga plongo karena pada Senin siang, suasana kota mendadak senyap. Pada malam hari, suasana pecinannya sepi dan temaram seperti di film-film horor vampir Hongkong zaman Lam Ching-ying, Ng Man-tat dan Sandra Ng. 

Itinerary Melaka 3 Hari 2 Malam

Sebenarnya, jika teman-teman suka suasana yang tenang dan sepi, tidak apa-apa juga datang selain weekend. Tapi kalau ingin memaksimalkan melihat semua atraksi, maka harus datang pada saat weekend.

Sebagai catatan, jam di artikel ini menggunakan waktu Malaysia, yaitu 1 jam lebih awal dari WIB (Waktu Indonesia Barat).

Berikut ini adalah itinerary kami di Melaka selama 3 hari 2 malam yang banyak penyesuaian. Oya, kami di artikel ini maksudnya si papah dan si mamah saja ya. Jadi harap bersabar jika pergerakan itinerary-nya pelan. Maklum jelang lansia tapi mereka hobi jalan. Heheheee ....

Minggu 12.38: Tiba di Pelabuhan Melaka

Kami datang dengan kapal feri Indomal. Jadwal feri ini memudahkan penyusunan itinerary karena berangkat dari Dumai pagi, sampai Melaka siang pas jam check-in hotel. Sedangkan baliknya ke Dumai setelah jam check-out hotel. Jadi nggak rugi bayar hotelnya.

Tarif kapal feri Indomal dan imigrasi dapat dilihat melalui artikel Dumai Melaka PP ini.

Dari Pelabuhan Melaka, kami naik taksi Grab menuju ke penginapan. Jadi, pastikan sudah instal Grab di Hp. Namun perlu diketahui bahwa saldo OVO rupiah tidak bisa langsung dikurskan ke Ringgit sehingga kami bayar cash. Tapi kalau di Kuala Lumpur, sebaiknya pembayaran cashless. Kalau tidak ada saldo OVO Ringgit, bisa pakai kartu kredit agar lebih mudah dapat taksi. Tarif taksinya tidak ingat tapi sekitar RM15.

Minggu 13.30: Tiba di TheBlanc Boutique Hotel

Sebenarnya kawasan hotel ini dekat dengan pelabuhan sekitar 1,5 km tapi ada jalan tembus yang ditutup. Jadi kalau jalan kaki agak muter. Lagipula kami memang malas jalan kaki. Butuh waktu satu jam untuk sampai hotel ini bukan karena jauh tapi ada proses imigrasi dan menunggu taksi.  Perlu diketahui, Melaka itu panasnya minta ampun. Jangan lupa pakai topi atau payung di siang hari. 

Alamat TheBlanc Boutique Hotel di Jalan Kubu tapi letaknya di ujung Jalan Hang Jebat sebagai salah satu pusat keramaian. Hang Jebat ini kental dengan suasana kota tua dengan toko dan restoran khas pecinan di kanan dan kiri jalan. Sepintas mirip Malioboro di Yogyakarta tapi jalannya lebih kecil.

Di ujung Jalan Hang Jebat satunya merupakan pusat kota, yang disebut 0 km Melaka. Jadi ini sebenarnya juga kurang riset karena kalau mau ke 0 km atau jeti (untuk river cruise) harus jalan kaki sekitar 800 meter lebih. Waktu hunting hotel pertimbangannya karena TheBlanc terlihat paling bagus dan bersih di sepanjang Jalan Hang Jebat.

Hotel bintang 3 ini seperti baru tapi mungkin hotel lama yang barusaja direnovasi karena ini kawasan cagar alam sehingga tidak bisa sembarangan bikin bangunan baru. Rate-nya tidak ingat tapi sekitar Rp750.000 di OTA (Online Travel Agent), tidak termasuk sarapan karena kami mau wisata kuliner. Resepstionisnya ramah. 

Kami mendapat kamar double bed di lantai 3. Kamarnya tidak luas tapi menatanya pintar sehingga cukup untuk menata barang-barang dan sajadah untuk sholat. Isi kamarnya juga lengkap selayaknya hotel berbintang, yaitu peralatan mandi, peralatan bikin minuman hangat, TV, safe deposit box, shower dan sebagainya. Sepertinya roof top bisa untuk nongkrong, tapi kami nggak ke atas.

Sedikit info, wisatawan di Melaka pelit kasih review sehingga cari hotel dengan rating di atas 4.5 itu  langka meski bangunan dan layanannya bagus. Hotel di pusat keramaian ini umumnya kecil dan tidak tinggi karena aturan pelestarian kawasan khusus. Bagi yang datang bersama keluarga, kami tidak menyarankan menginap di sepanjang Sungai Malaka karena terdapat banyak bar dan kafe sehingga suasananya ramai sampai larut malam.

Minggu 15.11: Makan Siang di Peranakan Place

Kami makan telat karena setelah check-in sholat dan istirahat dulu di hotel. Jika teman-teman beragama Islam, perhatikan tulisan "No Pork, No Lard" lebih dulu sebelum makan. Jonker atau Hang Jebat ini kawasan pecinan lama jadi tentu saja ada menu babinya. Karena wisatawan yang datang ke Melaka banyak yang Muslim maka tulisan tersebut sangat membantu.

Setelah itu jalan kaki di bawah terik matahari di sepanjang Hang Jebat. Resto ini terletak di antara hotel dan 0 km Melaka. Makanannya menu peranakan atau pecinan lama. Harganya memang sedikit lebih tinggi dari tempat lain tapi menurut kami sesuai dengan penyajian dan rasanya.

Di sini kami makan:

  • Nasi ayam berempah RM17.90.
  • Nyonya Laksa RM13.90.
  • Baba Durian Cendol RM11.90.

Menunya nikmat semua jadi ludes. Sebenarnya di sini ada jajanan tradisional tapi sudah habis karena kami datang kesorean.

Minggu 16.07: Melaka River Cruise

Setelah makan, kami langsung jalan kaki sekitar 500 meter menuju jeti untuk naik boat. Sebenarnya ada beberapa jeti tapi kami naik dari jeti yang paling dekat dengan 0 km (Jeti Quayside). Kondisi kami lemes karena cuacanya sangat panas. Heheheee. 

Alhamdulillah kondisi kami segar kembali begitu sampai jeti. Tiket kapal bisa dibeli secara online di OTA Indonesia, tapi waktu itu kami beli on the spot. Harga tiket untuk wisatawan asing RM50 per orang. Lumayan juga ya. 

Tapi kami puas. Sepanjang perjalanan ada pemandu wisata yang memutarkan rekaman sejarah tempat-tempat di sepanjang sungai. Sungainya bersih tidak ada sampah secuil pun meski tidak jernih karena bawahnya gambut. Durasi Melaka River Cruise ini sekitar satu jam.

Sebelum naik, kita akan disuruh foto. Foto itu akan ditawarkan setelah tur selesai dan wisatawan turun dari kapal. Kalau tidak mau beli tidak apa-apa. Kalau beli harganya sekitar RM25.

Minggu 17.10: Nongkrong di 0 km Melaka

Di sini ada beberapa tempat duduk untuk nongkrong melihat wisatawan lalu lalang ke berbagai arah. Obyek wisata yang terkumpul, antara lain Surau Warisan, Stadthuys, benteng peninggalan Portugis, museum dan sebagainya. Banyak banget pokoknya, ngumpul di sini. 

Kalau capek bisa naik becak odong-odong full musik. Kami tidak kemana-mana. Kami hanya duduk-duduk saja menikmati semilir pohon-pohon besar. Di sekitar kami banyak burung gagak hitam. Kalau pagi, burung gagak ini banyak turun ke Jalan Hang Jebat.

Minggu 17.22: Jalan-jalan Sore di Jalan Hang Jebat

Mulai jam 16.00, orang-orang sudah ramai mempersiapkan lapak di Jalan Hang Jebat. Pemilik mobil mulai menggeser parkir mobilnya. Kami jalan-jalan sambil melihat-lihat jenis jualan mereka. 

Kami juga membeli jus semangka utuh bulat. Isi semangka tidak dikeluarkan, melainkan dihancurkan di dalam semangka dengan memasukkan hand blender. Lucu banget minum jus pakai sedotan sambil membopong semangat utuh.

Minggu 21:03: Makan Malam di Memang Meow Kopitiam

Kopitiam yang menyerupai kafe ini hanya beberapa langkah dari hotel. Kami makan agak kemalaman karena capek sehabis jalan kaki 2 km. Bangunan digunakan merupakan rumah lama yang direnovasi. Tapi sayang, kami lihat di Google Map sudah permanently closed. Padahal makanan dan kopinya enak. Kami makan mushroom chicken chop.

Minggu 21.35: Jalan-jalan di Jonker Walk Night Market

Inilah yang ditunggu para wisatawan. Seluruh Jalan Hang Jebat dan gang-gang di sekitarnya ditutup untuk pasar malam. Jenis-jenis jualannya paling banyak makanan dan minuman. Tapi suvenir, parfum, topi dan sebagainya juga ada.

Macam-macam kulinernya, antara lain seafood, ayam bakar, jajanan Korea, jajanan Jepang, bahkan agar-agar yang biasa dijual di depan sekolah-sekolah SD di Indonesia. Yang wajib dicicipi adalah oyster atau tiram. Tiramnya masih segar dan tidak terlalu mahal. Yang hanya boleh dibeli oleh orang-orang sabar adalah gurita bakar karena memasaknya sangat lama tapi enak. 

Untuk laki-laki, jangan lupa foto di depan patung Datuk Wira Dr. Gan Boon Leong yang merupakan mantan Mr. Melaka, Mr. Malaysia, Mr. Asia, dan Mr. Universe sehingga mendapat julukan The Father of Bodybuilders in Malaysia.

Minggu 22.30: Sampai di Hotel

Kami tidak sampai 0 km karena capek dan mengantuk. Rencananya besok saja kami sampai sana.

Senin 09.24: Sarapan di CSDR

Nyonya restaurant ini di sebelah TheBlanc persis. Semua makanannya enak, yaitu sarapan khas pecinan lama. Ratingnya 4.7 yang sangat jarang terjadi karena wisatawan Melaka juga pelit kasih rating bagus untuk restoran.

Kami memesan:

  • Nasi lemak goreng RM13.90.
  • Butter kaya toast RM3.80.
  • Hot kopi o RM2.50.
  • Soft boiled egg RM3.80.

Senin 10.14: Foto-foto di Dutch Square / Red Square

Mumpung sepi, kami foto-foto sepuasnya di sini.

Senin 10.38: Menara Tamiang Sari

Kami melihat menara ini dari jeti. Jadi kami ke sini karena penasaran. Ternyata jauh juga kalau jalan kaki, yaitu 1,2 km dari hotel. Kalau pulang pergi jalan kaki jadi 2,4 km. Mana cuaca sangat panas. 

Di jalan antara 0 km dan Tamiang Sari terdapat replika kapal raksasa Flor de La Mar milik Portugis. Ini bagian dari Samudera Museum. Posisinya dapat juga diakses dari lokasi turun Melaka River Cruise. Wujudnya seperti kapal bajak laut di film-film Hollywood. Kami tidak mampir tapi hanya memotret saja karena kelelahan dan kepanasan.

Harga tiket dewasa untuk wisatawan internasional siang hari RM26 dengan bonus sebotol air mineral. Untuk sunset dan night view RM31. Di sini juga diminta foto dulu yang bisa dibayar ketika turun dari menara. 

Di Menara Tamiang Sari, wisaatawan akan dibawa naik setinggi 80 meter. Tempat duduk pengunjung akan berputar 360° sehingga akan memberikan pengalaman yang seru. Wisatawan tidak usah takut pusing karena gerakannya cukup lambat karena ditujukan untuk seluruh anggota keluarga dari balita hingga lansia. Oya, di dalam ber-AC jadi tidak panas meski matahari terik.

Senin 11.27: Jajan di Yap Siew Kin Enterprise (Madam Yap)

Kedai kecil ini di tikungan Jalan Hang Jebat. Tapi jualannya enak-enak sehingga kami selalu ke sini tiap ke Melaka. Yang wajib dibeli adalah coconut shake seharga RM5. Coconut shake di sini segar banget dengan bahan-bahan asli, tidak pakai coconut essense seperti di Indonesia. Kami juga selalu beli aneka kue ala Portugis, terutama egg tart. Di sini juga dijual aneka jajanan tradisional dengan harga murah. Kami selalu borong.

Dari Madam Yap, kami langsung ke hotel dan tidur karena kecapekan.

Senin 15.27: Makan Siang di My Rice Chicken

Letaknya di Jalan Hang Jebat, sektiar 350 meter dari hotel. Di tengah perjalanan, kami sempat beli aneka minuman herbal di Five Flower Tea. Tapi sampai rumah tidak kami habiskan karena bingung rasanya.

Sebelumnya, kami membayangkan akan mendapat hidangan seperti Nasi Ayam Hainan Chee Meng di Kuala Lumpur. Namun ternyata berbeda jauh. Sebenarnya nasi ayam di sini bukan tak enak, hanya saja tampilan ayamnya kurang menggugah selera dan terlihat kering. 

Kami pesan chicken rice ball seharga RM11.00. Penyajiannya nasinya unik karena dibentuk bulat-bulat.

Senin 15.56: Mengunjungi Masjid Kampung Kling

Masjid ini kami kunjungi tiap ke Melaka. Letaknya sekitar 400 meter dari hotel di Jalan Tukang Besi yagn sejajar dengan Hang Jebat. Masjid Kampung Kling dibangun pada tahun 1748 dan serupa dengan masjid-masjid di Sumatra lama. Arsitekturnya mendapat pengaruh dari Inggris, Cina, Hindu dan tentu saja Arab.

Kami mengobrol cukup lama dengan ibu-ibu pengurus masjid. Mereka sangat terbuka dengan wisatawan asal sopan.

Senin 16.20: Nongkrong di Coyami

Ketika akan kembali ke hotel dengan menempuh jalur lain, yaitu Jalan Tokong. Namun barusan kami cari di Google Map sudah tidak ada. Di Instagram pun yang ketemu adalah konten kami sendiri. Ini sangat disayangkan karena tempatnya mungil dan cantik. Kami jajan es cendol khas Melaka dan es krim sambil nongkrong cukup lama.

Setelah itu, kami duduk-duduk di depan hotel sambil keheranan karena tidak ada pergerakan pedagang yang melakukan persiapan untuk night market.

Senin 20.13: Jalan-jalan di Jonker Walk Tanpa Night Market

Malam tiba dan kami harus menerima kenyataan bahwa night market hanya ada di hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Itu belum cukup karena sidang isbat memutuskan bahwa besok (Selasa) merupakan tanggal 1 Ramadan yang berarti puasa. Seharusnya malam itu kami tarawih tapi sudah kemalaman untuk ke masjid. Lagipula kami tidak tahu apakah besok Melaka juga puasa.

Di Jalan Hang Jebat yang sepi dan temaram itu, kami berusaha mencari nasi atau mi yang mengenyangkan dekat hotel untuk makan malam dan sahur. Ternyata, banyak tempat makan yang hanya buka sampai senja sehingga banyak yang tutup. Hadeh ....

Akhirnya kami beli chicken rice dan kwetiau di Famosa Kopitiam. Harganya tidak ingat karena buru-buru mau tutup juga. Kami beli bungkus. Ternyata rasanya enak meski bentuknya tidak karuan karena dibungkus. Di sini ada beberapa restoran dengan nama Famosa dan ada yang menjual menu babi. Jadi kalau tidak menemukan tulisannya, tanya saja apakah halal atau tidak.

Selasa 12.15: Tiba di Pelabuhan Melaka

Karena puasa, kami tidak jalan terlalu jauh, hanya beli oleh-oleh sedikit di dekat hotel. Jam 12.15 kami sudah berada di ruang tunggu pelabuhan untuk kembali ke Dumai.

Demikian, semoga itinerary Melaka (Malaysia) 3 hari 2 malam yang kami alami bermanfaat untuk teman-teman. Foto dan video yang lebih banyak dan bagus bisa dilihat di Instagram, TikTok atau YouTube jalansitu. Selamat liburan! 

Post a Comment