5 Cara Mudah Menabung Uang Kita Agar Tidak Numpang Lewat

Secara teknis, cara mudah menabung uang kita itu tidak perlu dijelaskan. Cukup datang ke bank, buka rekening, lalu menabung. Tapi prakteknya, banyak kendala untuk menyisihkan uangnya. Makin besar gaji atau invoice, makin cepat habisnya. 

cara-mudah-menabung-uang-kita
Photo by bongkarn thanyakij from Pexels

Sebelum pandemi, banyak sekali yang terbayang sebelum terima gaji atau bayaran antara lain, biaya rumah tangga rutin, sekolah, hiburan, hobi, jalan-jalan dan sebagainya. Di masa pandemi, pengeluaran tidak otomatis berkurang. Bekerja atau sekolah dari rumah berarti bertambahnya biaya konsumsi dan akomodasi. Belum lagi keranjingan pesan makanan online seolah itu steril padahal sama saja memiliki kemungkinan terkontaminasi virus COVID19 karena kita tidak tahu siapa yang memasak dan seperti apa perjalanannya dari penjual sampai ke meja kita.

Rekomendasi Kuliner Jogja Murah: Preksu Deresan Jogja Favorit Cowok-cowok

Tabungan terbukti sangat menolong banyak orang untuk menjalani hari-hari berat selama pandemi. Banyak perusahaan yang telat menggaji karyawannya karena kantor-kantor tutup. Banyak usaha yang bangkrut. Berapa tabungan darurat yang harus kita miliki? Banyak pakar yang menyebutkan harus cukup untuk sekian bulan tanpa gaji. Tapi itu tidak valid dengan kondisi sekarang karena kita tidak tahu sampai kapan pandemi berlangsung. 

Berikut cara mudah menabung uang kita yang bisa teman-teman coba. Yang terbaik tentu saja sambil menabung, kita harus terus bekerja keras dan bekerja cerdas agar pendapatan terus masuk dan meningkat.

1. Tertib Anggaran


Gaji belum sampai tapi dalam pikiran uangnya sudah habis? Coba hela napas dulu, lalu ambil pensil, kertas dan kalkulator. Hmmm tunggu, buka laptop dan excel saja lah biar praktis dan cepat. Buat anggaran kewajiban-kewajiban yang ada, biaya-biaya rutin dan rencana-rencana lainnya. Tulis dahulu kewajiban-kewajiban seperti KPR, asuransi, listrik, wifi, pdam, pendidikan, iuran kompleks dan sebagainya. Setelah itu, masukkan permintaan-permintaan anggota keluarga. Buat prioritas, tidak hanya berdasarkan penting atau tidaknya, tapi juga keadilan. Tidak semua keinginan anak-anak harus dituruti. Mereka bisa bergiliran ke bulan selanjutnya. Meski uang ada, tapi harus sisakan untuk tabungan dana darurat. Besarnya dana darurat adalah sebesar mungkin. Pandemi mengajarkan pada kita bahwa perekonomian dunia bisa terpuruk untuk waktu yang tidak diketahui. Hilangkan semua permintaan atau rencana yang bisa ditunda, diganti yang lebih murah atau bahkan dihapus sama sekali. Anggaran ini harus ditaati dan dibuat secara berkala untuk menyesuaiakan dengan keadaan keuangan rumah tangga dan situasi perekonomian negeri.

2. Sisa Setelah Biaya Rutin


Kalau bisa ditunda, mengapa bayar cepat-cepat? Begitu kata beberapa orang. Padahal menunda tidak membuat biaya tersebut turun atau dapat diskon. Biaya tersebut tetap ada, bahkan berpotensi menumpuk. Selagi uang ada, segera sisihkan. Segera bayar, begitu gaji masuk. Idealnya, gunakan auto debet. Tapi ada yang merasa kok uangnya diambil begitu saja tanpa permisi. Heheheee. Sebenarnya permisi sudah dilakukan ketika kita tanda tangan di bank untuk menggunakan fasilitas autodebet. Hanya perasaan kita saja. Jadi, terpulang kepada teman-teman akan membayar dengan cara bagaimana, yang penting jangan ditunda. Jika kita tipe yang suka menunda-nunda, sebaiknya pakai auto debet saja.

Rekomendasi Kuliner Jogja Murah: Soto Lamongan Pak Narto Selokan Mataram

Yang termasuk biaya rutin adalah KPR atau sewa, belanja rumah tangga, listrik, pdam, sekolah, transportasi, asuransi, iuran kompleks dan sebagainya. Sekarang pengeluaran wifi menjadi biaya rutin yang tidak bsia ditunga karena banyak kegiatan yang harus dilakukan secara daring. Setelah semua biaya rutin dialosikan, barulah sisanya untuk tabungan, investasi dan hiburan.

3. Tingkatkan Sisa Biaya Rutin


Ada 2 cara, yaitu dengan menambah penghasilan atau menekan biaya rutin agar uang yang ditabung bisa lebih banyak. Apakah mungkin menambah penghasilan selama pandemi? Yah, ini memang sangat sulit tapi beberapa orang bisa melakukannya, misalnya pengusaha makanan dan bahan makanan siap antar. Banyak orang menghindari kerumunan sehingga tak lagi belanja ke pasar melainkan ke usaha-usaha farming. Di awal-awal pandemi banyak yang mendapatkan keuntungan dari membuat masker kain. Sekarang masker sudah ada dimana-mana dengan harga sangat terjangkau.

Menekan biaya rutin berusaha dilakukan orang-orang dengan menanam sayuran sendiri dan beternak lele. Mereka juga mulai menghentikan pesanan-pesanan online dan memasak sendiri. Memang, biaya internet dan listrik justru naik. Karena itu, harus dilakukan pengaturan agar lebih terkendali, misalnya matikan AC sampai siang hari. Ketika cuaca mulai panas di siang hari, barulah nyalakan AC. Contoh lain, matikan TV jika menyalakan laptop. Tonton satu per satu satu saja. jangan menyala semua. Jika nonton K-drama, tontonlah bersama-sama. Jangan sampai malam ini si ibu marathon, besok ganti anak gadisnya dengan judul yang sama.

4. Jadikan Pandemi Sebagai Pelajaran


Pandemi ini momen untuk mengingat bahwa tabungan itu wajib ada, jadi jangan dihabiskan untuk hal-hal yang tidak darurat. Banyak yang gajinya telat dan usahanya bangkrut. Tabungan adalah penyambung hidup, tidak lagi sekedar simpanan. Katakanlah sekarang punya dana sisa biaya rutin sebesar Rp 2.000.000,- dan perlu sekali membeli ponsel. Jangan semua dihabiskan. Turunkan spesifikasi agar tetap ada yang ditabung. Selama menahan diri di rumah saja, hiburan menjadi penting karena kita hanya manusia biasa yang mudah bosan. Tak masalah membayar hiburan, misalnya langganan channel tertentu, agar tetap waras. Tapi, lagi-lagi pilih paket yang masih menyisakan tabungan cukup berarti.

5. Pisahkan Peruntukan Tabungannya


Banyak yang menyarankan untuk membuka tabungan yang berbeda untuk setiap tujuan. Misalnya tabungan untuk kebutuhan sehari-hari, tabungan usaha, tabungan haji dan tabungan pendidikan. Sebaiknya buka satu tabungan lagi untuk dana darurat. Seringkali kita berharap tabungan untuk kebutuhan sehari-hari akan bersisa. Kenyataannya, kita selalu merasa nyaman ketika tahu di tabungan masih ada uang dan timbul keinginan untuk pesan makanan yang lebih istimewa dari biasanya atau  jalan-jalan ke mall. Tabungan pendidikan tidak sama dengan dana darurat. Ketika gaji telat akibat pandemi, diharapkan tabungan pendidikan tetap tidak tersentuh.

Pilih bank yang memudahkan transaksi elektronika dan tentu saja minim biaya administrasi agar transfer ke rekening-rekening yang sesuai dengan peruntukannya bisa segera dilakukan ketika gaji masuk. Ada yang masih memisahkan peruntukannya dalam amplop-amplop atau celengan? Sebaiknya segera beralih ke bank. Ini bukan karena bunga, tapi demi keamanan. Biaya-biaya sekarang mahal, butuh amplop yang lebih besar dari dulu untuk biaya sekolah misalnya.  Belum lagi di masa pandemi begini kriminalitas naik karena banyak yang kehilangan pekerjaan dan nekad. Selain itu, frekuensi bersinggungan dengan uang konvensional harus dikurangi demi kesehatan.

Post a Comment

0 Comments