Pengalaman Naik Pesawat Dari dan Ke Pekanbaru Saat Kabut Asap
![]() |
| Kelok 9 Sumatera Barat yang menghubungkan Padang-Pekanbaru. |
Kabut asap sudah seperti acara tahunan di Sumatera dalam arti negatif. Bagi masyarakat yang harus bepergian, kabut asap sangat berbahaya karena terbatasnya jarak pandang. Si mamah pernah mengalaminya bertahun-tahun lalu yang mengakibatkan pesawat dari Bandara SSK II Pekanbaru delay dan pesawat menuju Pekanbaru cancel.
Pengalaman ini cukup menegangkan karena waktu itu teknologi komunikasi belum sebaik sekarang. Padahal perjalanan mamah sempat tersendat sehari di Jakarta dan harus mendarat di bandara provinsi sebelah.
Kisah ini kami tulis untuk mengenang pengalaman tersebut dan ternyata hingga sekarang masih ada kabut asap. Bahkan saat ini Sumatera dan Kalimantan tengah dilanda kabut asap yang telah berlangsung hingga 2 bulan.
Delay Bareng Artis Ibukota
Saat itu mamah sedang berdomisili di Pekanbaru (papah dan mamah sering pindah domisili). Mamah harus menghadiri undangan suatu event di Bali seorang diri. Selama beberapa hari, Pekanbaru sudah dilanda kabut asap akibat kebakaran hutan (karhutla). Jadi, mamah memang sudah memperkirakan akan menghadapi delay.
Untungnya, tiket yang diberikan panitia event adalah Batik Air kelas bisnis. Jadi mamah bisa menunggu di lounge Bandara Sutan Syarif Kasim II. Strategi dari maskapai adalah meminta semua penumpang standby tepat waktu dan segera terbang jika kabut asap tersibak. Waktu itu kabut masih datang dan pergi. Pesawat mamah yang berangkat pagi berhasil terbang setelah delay cukup lama. Pada hari itu hanya ada 3 pesawat yang berhasil terbang.
Ketika delay di lounge, mamah berkenalan dengan seorang artis cantik ibukota yang terkenal. Dia barusaja shooting reality show bertema horor di dekat Pekanbaru. Ternyata, artis ramah tersebut lahir di kota yang sama dengan mamah dan mereka hampir seumuran. Tak lupa mereka foto berdua dan saling bertukar nomor telepon. Mamah enggak kalah cantik dengan artis tersebut. Heheheee ....
Besoknya, si artis mengirimkan teks panjang berkali-kali untuk menawarkan produk kecantikannya. Harganya jauh di atas bujet mamah. Karena hal itulah, pertemanan mereka berlangsung singkat karena mamah merasa terganggu dan tidak mau merespon lebih lanjut.
Pesawat Cancel Ketika Transit di Jakarta
Setelah selesai event di Bali, ternyata kabut asap di Sumatera makin tebal sehingga kembali mamah harus bersiap untuk delay. Ternyata, kabut asap jauh lebih parah dari sebelum sehingga semua pesawat ke Sumatera dicancel. Berita itu baru diketahui mamah ketika transit di Jakarta.
Pilihan yang ditawarkan ke penumpang adalah reschedule atau dana dikembalikan. Seluruh penumpang asal Jakarta memilih untuk mengembalikan tiket dan pulang ke rumah. Sementara penumpang transit, termasuk mamah kebingungan. Akhirnya, mamah memilih mengembalikan tiket karena maskapai belum membuka penerbangan ke Pekanbaru untuk keesokan harinya.
Maskapai juga menawarkan untuk membeli tiket ke Padang yang masih dibuka untuk keesokan harinya. Harga juga tidak mereka naikkan. Akhirnya mamah membeli tiket ke Padang dan merencanakan untuk menempuh jalur darat dari Padang ke Pekanbaru.
Menginap di Hotel Antah Berantah
Pada masa itu belum ada OTA (Online Travel Agent) dan belum ada hotel atau hotel kapsul di dalam bandara. Menginap di bandara juga bukan pilihan yang aman karena posisi mamah tidak di dalam ruang boarding dan toko-toko bandara sudah tutup karena tidak ada penerbangan domestik lagi. Taksi online belum ada, sedangkan taksi biasa sudah tidak terlihat. Sementara rumah saudara mamah jauh semua.
Akhirnya mamah mendekati satpam bandara dan menanyakan dimana bisa menginap. Satpam tersebut menawarkan penginapan temannya. Bahkan temannya tersebut bisa antar jemput. Tanpa pikir panjang, mamah setuju karena menurutnya satpam tidak akan menawarkan teman yang jahat.
Mamah tidak tahu dimana letak penginapan tersebut tapi kata mamah tidak jauh dari bandara. Hanya saja mereka melewati persawahan yang gelap sehingga mamah deg-degan bukan main. Tampak depan penginapan tersebut seperti rumah warga biasa tapi terdiri dari kamar-kamar. Kamarnya bersih dan cukup nyaman, tapi kamar mandinya sangat sempit dan airnya tidak lancar. Alhamdulillah satpam dan temannya amanah dan tarifnya pun murah.
Namun demikian, jika kejadian lagi, mamah sama sekali tidak menyarankan keputusan berisiko tinggi ini. Apalagi sekarang sudah ada OTA, taksi online dan hotel kapsul di bandara. Pilih hotel dengan alamat yang jelas dan bisa ditrack secara online oleh keluarga. Selain itu, sekarang banyak pula orang yang menginap di bangku-bangku bandara.
Mengalihkan Penerbangan ke Bandara Minangkabau Padang
Akhirnya, mamah terbang ke Padang. Dari Padang, papah mengusulkan untuk naik travel saja untuk ke Pekanbaru. Papah membantu mencarikan travel tersebut. Ini merupakan pertama kalinya mamah mendarat di Padang. Sebelumnya, kami pernah roadtrip ke Padang.
Semua berjalan lancar tapi ada masalah ketika mamah keluar bandara. Masalah ini diingat terus karena mamah belum pernah hilang kendali seperti itu sebelumnya. Ceritanya, mamah dilarang naik ke travel oleh petugas bandara. Alasannya, travel plat hitam hanya diperbolehkan menurunkan penumpang. Penumpang hanya boleh menaiki kendaraan yang mendapat izin khusus pengelola bandara.
Antara takut tidak bisa pulang ke Pekanbaru malam itu dan capek luar biasa, mamah pun meledak. Mamah membanting berjalan ke luar bandara sambil teriak-teriak dan sempat membanting koper. Tentu saja banyak orang yang menonton.
Sopir travel hanya diam saja tapi memberi kode akan menunggu di luar bandara. Mamah tidak paham bagian luar mana tapi terus berjalan dan marah-marah. Bahkan mamah tidak memikirkan apa langkah selanjutnya. Tiba-tiba ada bus umum yang mendekat dan membuka pintu. Kondektur meminta mamah naik dan mengatakan akan mengantar mamah ke tempat travel menunggu.
Ketika sudah naik ke bus, emosi mamah langsung hilang dan mamah hanya diam. Ternyata tempat travel menunggu agak jauh. Untung ditawari bus dan mamah langsung naik. Kalau dipikir, enggak perlu juga mamah hilang kendali seperti itu karena ternyata masih banyak orang baik yang mau menolong. Lagi pula plat travel tersebut memang hitam, bukan kuning. Entah sekarang setelah ada ojek online.
Naik Travel Padang - Pekanbaru
Ketika senja, perjalanan dari Padang ke Pekanbaru menggunakan travel dimulai. Mobil berjalan santai. Jika tidak macet atau ada tanah longsor (sering terjadi), waktu tempuh Padang - Pekanbaru sekitar 7 jam. Sopir sempat menghentikan kendaraan di pusat oleh-oleh. Mamah tidak beli apa-apa karena bawaannya sudah banyak, termasuk oleh-oleh yang dibelikan panitia event di Bali. Meski begitu, ada penumpang yang membeli banyak sekali oleh-oleh hingga memenuhi kursi belakang yang kosong.
Suasana di dalam mobil sangat sunyi. Tidak ada yang bercakap-cakap dan tidak musik. Sepertinya seluruh penumpang terpengaruh oleh kondisi di luar mobil. Hampir semua lampu di sepanjang jalan menyala tapi sinarnya sangat redup karena diselimuti kabut asap. Biasanya kabut asap makin tebal pada sore hingga pagi. Lampu mobil justru membuat suasana makin horor karena sinarnya seolah membentuk sebuah lorong tak berujung.
Untunglah mamah yang benar-benar capek secara fisik maupun mental banyak tertidur sepanjang perjalanan. Akhirnya mamah sampai rumah dini hari dengan selamat dan bertemu dengan anak-anak kembali. Kondisi sekitar rumah masih kabut asap tebal sehingga sekolah anak-anak diliburkan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana kabut asap dapat membuat hidup seseorang kacau balau. Bayangkan kondisi orang-orang yang kurang beruntung sehingga tidak mampu membeli AC tapi harus menutup seluruh pintu, jendela dan ventilasi. Bayangkan juga para pekerja yang tetap harus beraktivitas demi menafkahi keluarga dengan mengenakan masker seadanya.
Semoga ada penanganan yang lebih masif dan efektif sehingga kabut asap tidak hanya dapat dipadamkan sekarang tapi juga dapat dicegah di tahun-tahun mendatang.

Post a Comment