5 Hari 4 Malam di Jakarta: Menginap di Mana dan Ke Mana Aja?
![]() |
| Bersantai di Land's End PIK Jakarta. Foto milik www.jalansitu.com. |
Minggu lalu, kami ke Jakarta untuk menghadiri acara pernikahan saudara. Berhubung kami datang dari jauh, rasanya sayang kalau cuma datang ke acara ijab dan resepsi yang hanya memakan waktu beberapa jam lalu pulang. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Jakarta lebih lama, yaitu 5 hari 4 malam.
Pernikahan diselenggarakan di Masjid Al Wustho, Jakarta Timur. Tapi kami memutuskan untuk menginap di lokasi yang agak jauh, yaitu di Cikini, Jakarta Pusat. Pertimbangannya, Cikini merupakan daerah yang dikelilingi berbagai sajian kuliner dan dekat pusat kota.
Berikut ini adalah sekilas pengalaman kami berada di Jakarta selama 5 hari 4 malam. Sub topik yang menarik akan kami bahas lebih detail di artikel tersendiri.
Hari Pertama
1. Menginap di Alden by Kozystay Menteng Park Apartment
Unit-unit di apartemen ini dikelola oleh beberapa operator. Salah satunya adalah Kozystay dengan produk bernama Alden. Foto-fotonya terlihat meyakinkan jadi kami putuskan untuk booking selama 2 malam dulu. Jika nyaman, baru kami akan extend 2 malam lagi.
Kami mendapatkan kamar di Tower Diamond lantai 7. Unitnya tidak terlalu luas dengan 2 kamar. Tapi yang bikin si mamah senang adalah perabotannya yang lengkap, dari kulkas, alat masak, microwave, alat makan, alat cuci piring (tidak disediakan di apartemen lain yang pernah kami inapi), hair dryer, dispenser panas dingin, setrika hingga jemuran lipat. Mesin cucinya juga masih tergolong teknologi baru dan mudah dioperasikan. Kurangnya hanya tidak ada meja kursi makan karena luas ruangan tidak mendukung.
Tower ini berada di ujung belakang sehingga buat lansia kurang mendukung untuk jalan kaki ke depan atau ke Taman Ismail Marzuki (TIM) yang sebenarnya sebelahan persis. Tapi enaknya, di lantai dasar ada minimarket yang sangat lengkap.
Harga unit di Alden by Kozystay Menteng Park Apartement untuk 2 malam Rp2.439.283. Karena extend 2 malam lagi, kami mendapat bonus cleaning service gratis. Padahal kalau tidak gratis, harga jasa cleaning Rp440.000.
Oya, air sempat mati dan keruh ketika mengalir lagi. Tapi itu tidak lama karena segera ada tindakan setelah kami lapor pengelola.
2. Makan Sore di Warung MJS (Mbah Jingkrak Sudirman)
Kami sampai Jakarta di waktu yang nanggung, yaitu sore. Kami putuskan untuk makan di MJS karena menunya mengenyangkan. Dari depan, rumah makan ini tampak sangat biasa. Tapi dalamnya cukup luas dengan interior vintage yang dipenuhi oleh barang antik dan memorabilia. Pada jam tertentu ada yang memainkan musik untuk menghibur pengunjung.
Menunya sangat banyak dan mayoritas merupakan hidangan Nusantara. Penyajiannya menggunakan sistem prasmanan yang dibantu untuk dihidangkan. Kami memilih paru, sotong, ayam goreng, oseng-oseng daun pepaya, sambal goreng krecek, lidah, dan nasi putih. Sedangkan minumnya hanya ingat es air mata buaya (lidah buaya, jeruk dan selasih), sedangkan minuman lainnya tidak ingat.
Kami bertiga total menghabiskan Rp392.900. Kami merekomendasikan warung ini untuk didatangi ketika benar-benar lapar.
3. Menicure di Bulu Eyes Cikini
Agar besoknya tampil memukau, si denok mentraktir mamah menicure di Bulu Eyes. Untuk ke sini harus booking dulu dan datang sesuai jadwal. Kami mendapat jadwal pada jam 09.00. Letaknya agak tersembunyi, yaitu di lantai 3 Gado-gado Boplo yang terkenal itu.
Si mamah sangat senang melihat kukunya yang berubah bersih, canti dan bercahaya karena belum pernah menicure sebelumnya. Jika tidak digunakan untuk mencuci secara manual, kondisi kuku yang glowing ini dapat bertahan hingga 1-2 minggu.
4. Beli Martabak, Cakue dan Takoyaki
Dari menicure, si mamah dan denok iseng mlipir sedikit ke arah Stasiun Cikini. Tapi belum sampai sana, mereka sudah mengantongi takoyaki, cakue, bolang-baling dan martabak HR Sulaeman. Martabaknya ini kami rekomendasikan. Akhirnya mereka memutuskan untuk langsung kembali ke apartemen dengan naik taksi online.
5. Beli Kopi Tuku Online
Kami semua penggemar kopi. Jadi papah yang tetap di unit selama mamah dan denok menicure memesan kopi Tuku yang sedang digemari di Jakarta secara online agar punya waktu istirahat. Papah membeli kopi ukuran 1 liter dan 250 ml tapi kami lupa jenis yang dipilihnya.
Semua pesanan penghuni apartemen melalui ojol harus diletakkan di sebuah meja khusus yang disediakan pengelola. Penghuni apartemen harus mengambil sendiri pesanannya di meja tersebut.
6. Belanja di Day2Day by Farmers Market
Sekembalinya dari menicure, mamah dan denok menyempatkan diri mampir di Day2Day sebelum naik ke lantai 7. Mereka membeli jeruk yang rasanya manis dan segar, susu, roti-roti jadul dan paket nasi daging teriyaki beku. Tips dari mamah ketika membeli jeruk adalah tanya langsung ke karyawan minimarket tentang jeruk mana yang pasti manis. Heheheee ....
Hari Kedua
1. Sarapan Nasi Daging Teriyaki Beku
Untuk menghindari kerepotan karena harus berdandan sendiri (tidak pakai MUA) maka malam sebelumnya mamah sudah membeli paket nasi frozen tersebut di Day2Day. Paket nasi itu disimpan di kulkas unit kami dan dicairkan menggunakan microwave. Microwave penting karena lebih praktis untuk menghangatkan makanan dibandingkan dengan menggunakan kompor.
2. Kondangan di Masjid Al Wustho
Masjid di Jakarta Timur ini memiliki aula yang biaa disewakan untuk acara pernikahan. Alhamdulillah prosesinya lancar dan hanya dihadiri orang-orang dekat. Acara dimulai dengan serah terima calon pengantin, ijab, sambutan, pembacaan ayat suci Al-Quran oleh kakak pengantin pria dan khotbah nikah. Setelah itu, pengantin ganti baju, dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan-makan.
Setelah acara selesai, kami tidak langsung pulang melainkan mengobrol dengan orang tua dan saudara pengantin cukup lama hingga hampir seluruh tamu pulang.
3. Belanja di Day2Day by Farmers Market
Karena sampi apartemen sudah sore dan capek, kami memutuskan untuk tidak kemana-mana. Sebelum naik ke unit, kami belanja makanan dan minuman segar dulu. Kami juga mencari roti jadul yang enak kemarin. Sayangnya sudah habis.
4. Beli Nasi Goreng Online
Untuk makan malam, kami membeli nasi goreng melalui ojek online. Si mamah memilih nasi goreng ayam karena menu lainnya kambing. Mamah takut darah tingginya kumat. Nama restorannya tidak tahu karena pesannya menggunakan aplikasi si papah. Papah selalu malas membuka aplikasi lagi setiap ditanya detail pesanannya.
Hari Ketiga
1. Sarapan di Bakoel Koffie
Cikini terkenal dengan kuliner vintage-nya. Karena itu, kami mencari kafe-kafe yang unik untuk sarapan sekalian WFA (Work From Anywhere). Hidangan Bakoel Koffie bisa dinikmati di 2 tempat, yaitu di lokasi asalnya dan di eks kantor pos (Post Kantoor Koffie). Kami memilih di lokasi asalnya agar suasana kafe jadul lebih terasa.
Untuk interior, dibandingkan dengan MJS, Bakoel Koffie lebih tertata rapi. Yang bikin kami sedikit gaduh karena tertawa adalah piring-piringnya yang segede UFO. Secara keseluruhan, makanannya enak. Hanya saja akan membantu sekali jika ayam di lontong cap gomeh sudah disuwir, bukan utuh.
Kami bertiga memesan 2 lontong cap gomeh, gado-gado, 3 macam kopi, risoles dan cheesecake. Total yang harus kami bayar Rp644.490. Buat kantong kami, harganya termasuk premium. Heheheee ....
Ketika meninggalkan kafe, ada insiden papah jatuh karena perbedaan tinggi lantai di dekat pintu. Kebetulan karyawan yang biasanya membantu membukakan pintu sedang melayani tamu. Papah tidak memerhatikan lantai karena sambil menyimak HP. Padahal kondisi kaki papah sedang sakit. Alhamdulillah insiden tersebut tidak menambah parah sakitnya, hanya papah terlihat agak shock.
2. Hangout di Mbience
Kami meninggalkan Bakoel Koffie karena sesepuh kami mengajak ngobrol di Mbience Garden Bistro, Jakarta Timur. Tempatnya tersembunyi di belakang Mbience Fitness dan masuk melalui pintu samping yang terpisah.
Suasana semi outdoor dengan banyak tanaman hijau. Meski tidak terlalu besar tapi kehadiran tanaman tersebut menghadirkan nuansa asri.
Ketika kami datang sudah ada tahu isi dan pisang goreng. Tahu isinya diberi taburan cabai sehingga sangat pedas. Mamah tidak bisa makan pedas meski tahunya terlihat enak. Kami menambahkan kopi saja untuk menemani ngobrol yang cukup lama dan intens. Untuk detail harga makanan dan minuman, kami tidak bisa menginformasikan karena ditraktir.
3. Sholat di Masjid Al Ikhlas PIK
Dari Mbience, si denok mengajak kami semua ke PIK (Pantai Indah Kapuk). Berhubung mendekati waktu asar, kami menuju ke Masjid Al Ikhlas lebih dulu untuk ikut sholat berjamaah.
Masjid yang viral ini tidak terlalu luas tapi cantik, rapi, bersih dan modern. Foto-fotonya bisa dilihat di Instagram @jalansitu. Di bagian luarnya terdapat bedug yang besar. Pintu masuk wanita dan pria dipisah.
Di bagian wanita ada rak-rak sepatu yang rapi. Toiletnya bersih dan modern. Mamah sempat kesemprot sedikit karena tidak tahu cara menggunakan keran. Tempat wudhu berada di dalam, di dekat tempat sholat, sehingga terjaga dari najis. Lagi-lagi kerannya aestetik. Jadi gemas. Di atas keran terdapat tulisan bahwa ini merupakan sumbangan dari Grup Paragon yang membawahi kosmetik merek Wardah, Emina, Make Over, Kahf dan sebagainya.
Karpet masjidnya tebal dan empuk. Tentu saja masjid ini ber-AC. Untuk wanita disediakan banyak mukena dengan motif bunga-bunga yang seragam. Si denok sempat bekerja sebentar di sini sambil mengisi baterai laptop.
4. Jalan-jalan di Land's End PIK
Setelah sholat, kami menuju ke Land's End. Kawasan pantai ini ditata menjadi destinasi yang menarik. Pasirnya putih dan bersih. Tidak ada sampah sama sekali. Di sepanjang pantai terdapat kafe dan restoran.
Untuk masuk ke area pantai, pengunjung tidak dipungut biaya alias gratis. Namun sediakan uang saku yang memadai untuk jajan karena harga makanan dan minuman di sini menggunakan standar kafe, bukan seperti warung tepi pantai biasa. Karena sudah kenyang, kami hanya memesan 2 orange juice large dan 1 ukuran small, serta 1 porsi kentang goreng di D'Orange Juices seharga Rp246.000.
Dari Land's End kami memutuskan untuk tidak jadi ke destinasi yang ada pagodanya itu karena papah terlihat sudah kecapekan. Akhirnya kami memesan taksi untuk membawa kami ke Ampera 2 Tak Cikini.
Kami mendapat sopir taksi online yang sangat santai dan hobi ngobrol. Sepanjang perjalanan dari PIK ke Cikini, bapak itu menceritakan masa lalunya yang pernah berkecimpung di industri musik pop dan dangdut tanah air bersama musisi-musisi terkenal.
5. Makan Malam di Ampera 2 Tak
Ampera 2 Tak meruapakan rumah makan sederhana yang menyajikan masakan Sunda. Jenis lauknya sangat banyak. Pengunjung bisa mengambil sendiri lauk kesukaannya yang nanti dicatat pegawai penerima pesanan minuman. Nasi dan sayur asem bisa diambil sesuai kemampuan perut (free flow).
Kami mengambil paru, pepes, cumi, tempe, sate-satean dan masih banyak lagi. Kami juga memesan es teh karena paling cocok diminum setelah capek jalan-jalan. Kami membayar tunai karena tidak bisa QRIS. Totalnya lupa, tapi kami ingat bahwa harga-harga di Ampera 2 Tak itu murah banget.
Sayangnya, ketika kami keluar dari rumah makan untuk menunggu taksi, ada beberapa pengemis anak yang mengerumuni. Semoga Dinas Sosial setempat memperhatikan hal itu. Apalagi saat itu sudah terlalu malam bagi anak-anak seusianya untuk berkeliaran di tengah kota tanpa didampingi orang tua.
Hari Keempat
1. Beli Bubur HR Suleman Online
Kami penasaran dengan bubur ini karena sering direkomendasikan di TikTok. Kami memesan melalui aplikasi ojol papah. Mamah meminta papah untuk menambahkan beberapa lauk dan 3 cakue karena kami suka cakue.
Buburnya enak, tapi masalah timbul gara-gara cakue tersebut. Mamah pikir, cakuenya seperti yang pernah dibeli malam-malam di depan rumah makan HR Suleman lalu, yaitu utuh dan rasanya gurih.
Ternyata cakue versi HR Suleman itu tidak gurih dan dirajang alias diiris tipis hingga hancur. Mungkin versinya untuk taburan bubur ya? Masalahnya 1 cakue itu berarti irisan cakue dalam satu plastik besar yang jika ditabur di atas bubur maka buburnya tidak kelihatan. Akhirnya cakue tersebut mubazir.
2. Jalan-jalan ke Grand Indonesia
Kami ke GI karena si denok ingin memperlihatkan tempatnya biasa hangout dengan teman-temannya selepas lelah bekerja. Tadinya si mamah senang sekali tapi kemudian menyadari bahwa tempat ini kurang cocok untuk papah yang kakinya sakit untuk berjalan jauh. Padahal GI ini gede banget dan pengunjung sangat ramai. Akhirnya kami memang cuma makan thok di GI.
3. Beli Kue di Don Bake Shop Grand Indonesia
Si mamah langsung belok begitu melihat toko ini. Waktu mamah melakukan riset tentang bakery di Jakarta untuk sebuah media online, nama Don Bake Shop selalu muncul. Kami membeli 3 macam kue dan 1 roti tawar soft dough dengan total Rp150.700. Mamah dan denok langsung menghabiskan egg tart-nya di apartemen. Sisanya dibawa pulang denok.
4. Makan Siang di Haraku Ramen Halal Grand Indonesia
Tadinya kami berkeliling food court untuk mencari tempat duduk yang masih kosong. Eh begitu dapat, papah pengin ramen. Si denok langsung mengajak kami ke Haraku karena lebih baik makan di restoran khusus ramen.
Outlet Haraku ini tidak telalu luas tapi penataannya lega sehingga nyaman untuk makan dan ngobrol. Suasananya juga tenang meski di dalam mall besar. Kami memesan 3 macam ramen, 3 macam minuman, koro-koro tofu dan caramel milk puding. Semuanya enak dan segar.
Si mamah sempat kaget karena harga-harganya termasuk terjangkau untuk ukuran mall besar di Jakarta. Totalnya kami tidak tahu karena denok yang bayar dan tidak menyimpan resinya.
5. Naik Lift ke Lantai 99 di Up at Thamrin Nine (The Autograph)
Naik ke lantai 99 ini merupakan keinginan papah. Keinginan ini nyaris gagal karena sinyal di GI tiba-tiba hilang sehingga kami kesulitan untuk mencari taksi. Padahal, papah itu kalau punya keinginan bakal disebut-sebut terus. Alhamdulillah akhirnya berhasil dapat taksi.
Lift ini pernah viral ketika pertama kali dibuka dan menjadi berita heboh karena saat itu sempat macet. Perasaan kami ketika akan naik lift ini biasa saja, tidak ada rasa khawatir. Mungkin karena kami pernah naik Twin Towers Petronas yang lebih tinggi. Selain itu, petugas-petugasnya sangat membantu dan bikin hati tenang.
Kami membeli tiket hanya sampai Sky View dengan harga Rp481.719 untuk 3 orang. Jika ingin benar-benar sampai puncak harus membayar biaya tambahan Rp66.000 per orang. Kami juga mendapat kesempatan masuk studio immerse sebelum naik lift.
Ketika lift naik, kami disuguhi visualisasi gedung-gedung di bawah. Sedangkan ketika turun, kami dapat melihat kerangka lift di bagian atas yang diberi lampu warna-warni. Kami juga dapat memantau kecepatan lift. Di Sky View, pengunjung dapat foto sepuasnya di atas anjungan atau di atas lantai kaca tembus pandang. Jika pemberani, pengunjung dapat bermain ayunan. Kami tidak menunggu hingga sunset karena makin mendekati sunset makin ramai.
6. Su Wah Agora
Setelah naik lift hingga lantai 99, kami merasa perlu untuk ngopi-ngopi dulu sebelum kembali ke apartemen. Kami memilih Su Wah di Agora Mall (masih di Thamrin 9) yang bernuansa oriental dengan mengusung Hongkong flavors. Pengunjung dapat memilih tempat duduk indoor atau outdoor.
Kami hanya memesan 3 macam kopi dingin dan beberapa snack, seperti brown sugar toast, dumpling chives, salted egg bao dan prawn spring roll. Jumlah yang harus kami bayar Rp347.655. Kami merekomendasikannya untuk bersantai di sore hari.
Kami juga melihat Founder Ruang Guru, Adamas Belva Syah Devara, sedang menikmati hidangan bersama istrinya, Sabrina Anggraini, di seberang tempat duduk kami. Namun kami tidak mau mengganggu mereka. Sabrina ini aslinya cantik banget.
7. Beli Makan Malam Solaria Online
Untuk makan malam, kami memesan makanan dari Solaria secara online. Kami juga sekalian membeli makanan untuk sarapan keesokan harinya. Solaria selalu menjadi solusi kami jika bingung mau makan apa di kota lain. Kami memesan nasi goreng, mie ayam, pangsit kuah dan 3 menu lainnya.
Hari Kelima
1. Sarapan Solaria
Pagi-pagi si mamah sudah menghangatkan menu Solaria yang kami beli malam sebelumnya dengan microwave. Porsi Solaria yang mengenyangkan untuk makan malam ternyata kurang sesuai untuk sarapan sehingga sisa banyak. Denok mengumpulkan sisa nasi goreng untuk makan siang.
2. Berangkat ke Stasiun Gambir
Kami berangkat ke Gambir sambil mampir ke satu tempat. Karena bertepatan dengan jam orang berangkat kerja maka beberapa kali kami terjebak macet. Untungnya kami menyediakan waktu cukup banyak sehingga masih sempat ngemil di Gambir.
Catatan khusus buat Stasiun Gambir, ruang tunggu di lantai 1 tapi toilet di lantai dasar. Udah gitu elevator hanya untuk naik. Merepotkan sekali untuk lansia.
3. Beli Hokben, Krispy Kreme dan Kopi Point
Untuk bekal di dalam kereta, kami Hokben ada di lantai 2 dan naiknya pakai tangga. Kalau bareng lansia, sebaiknya lansia tersebut menunggu di bawah saja. Kami juga membeli kopi Point dan Krispy Kreme di lantai dasar. Tekstur Krispy Kreme sekarang kok beda ya dengan dulu?
Sebenarnya kami sudah bookmark banyak tempat di Instagram. Tapi ketika sampai di Jakarta malah enggak dibuka. Kami searching lagi di media sosial dan memilih secara spontan. Itu pun kami tidak memaksakan diri, melainkan sedapatnya saja. Santai. Semoga pengalaman 5 hari 4 malam di Jakarta ini bermanfaat buat teman-teman.

Post a Comment