Cara Mengatasi Kesepian Mahasiswa Indonesia di Eropa

Table of Contents
cara mengatasi kesepian mahasiswa di Eropa
Cara mengatasi kesepian mahasiswa di Eropa. Foto milik www.jalansitu.com.

Artikel ini terinspirasi dari konten mahasiswa Indonesia di Instagram yang muncul di feed kami sebagai suggested post. Beliau mengatakan bahwa salah satu tantangan terberat kuliah di luar negeri pada umumnya dan di Eropa pada khususnya adalah bagaimana cara mengatasi kesepian. Mahasiswa di negeri orang tidak bisa mengandalkan teman untuk menghibur, dari sesama WNI sekali pun, karena masing-masing sibuk dengan target studi.

Sebenarnya, kuliah di mana pun jika jauh dari keluarga dapat menimbulkan perasaan sepi. Namun di artikel ini kami khususkan untuk Eropa sesuai dengan pengalaman si emesh. Perasaan sepi perlu diatasi karena dapat menimbulkan suasana gloomy terus-menerus, menurunkan semangat belajar atau malah bisa menyebabkan mahasiswa tersebut melakukan tindakan bodoh.

10 Cara Mengatasi Kesepian Mahasiswa Indonesia di Eropa

Disclaimer, cara-cara di bawah ini sesuai untuk si emesh. Jika tidak sesuai  dengan kepribadian teman-teman, silakan mencari cara baik lainnya. Yang penting, jangan pernah merasa buntu agar target belajar tercapai. Jika merasa kehabisan akal, coba buat list kegiatan-kegiatan yang menyenangkan. Tak ada salahnya juga tanya teman, keluarga, bahkan Chatgpt.

Berikut ini adalah 10 cara mengatasi kesepian mahasiswa Indonesia di Eropa yang bisa dicoba:

1. Whatsapp Setiap Hari

Keep in touch dengan orang lain adalah salah satu cara untuk mengusir kesepian. Whatsapp merupakan media komunikasi paling fleksibel. Kita tidak akan mengganggu kesibukan orang lain karena penerima tidak perlu langsung menjawab. Mereka dapat merespon kapan saja punya waktu luang. 

Pilih teman yang benar-benar mengapresiasi keberadaan kita karena kita tidak bisa menuntut sembarang orang untuk mengerti kebutuhan kita. Memberi kabar pada keluarga, terutama orang tua, akan membuat rasa kangen kedua belah pihak sama-sama terobati. Tak perlu menunggu kabar besar atau penting untuk menghubungi. Cerita keseharian, seperti cuaca, makanan hari itu, bangun kesiangan dan sebagainya akan membuat kehidupan sehari-hari mengalir.

2. Video Call Setiap Hari

Selain Whatsapp, sempatkan untuk VC setiap hari dengan keluarga atau sahabat. Bahkan jika sama-sama ada waktu luang dan dalam posisi aman, utamakan VC dibandingkan Whatsapp. Berbicara langsung dengan tatap muka akan mendatangkan rasa lega dan membuat rasa sepi itu terangkat sebagian.

3. Langganan Channel Hiburan

Mahasiswa memang diharapkan rajin belajar tapi belajar terus justru tak baik bagi kesehatan mental. Salah satunya mendatangkan perasaan sepi dan merasa berjuang sendiri. Lakukan break di sela-sela waktu belajar dengan menonton film, drama atau penyanyi kesayangan. Emosi yang teraduk, baik senang maupun sedih, diperlukan agar suasana hati tidak hanya datar dan membosankan.

4. Membuat Konten

Banyak mahasiswa Indonesia di Eropa yang akhirnya menjadi konten kreator serius. Mereka fokus pada kegiatan sehari-hari sebagai mahasiswa, jalan-jalan keliling Eropa, dan tips mendapatkan beasiswa. Bahkan ada pula yang mengunggah promosi kelas pendampingan beasiswa yang mereka dirikan. Tapi jika hanya untuk mengatasi rasa kesepian, tak perlu membebani diri dengan target konten tertentu.

Konten yang dikumpulkan bisa saja sebatas menata memori untuk dikenang lagi jika sudah lulus kelak. Konten-konten tersebut juga bisa dilihat ulang jika sedang kesepian untuk mensyukuri perjuangan yang telah dilalui, memandang wajah orang-orang tersayang, cuci mata dengan foto atau video pemandangan yang cantik dan sebagainya.

5. Berteman dengan Mahasiswa Lain Tanpa Memandang Negara

Banyak penerima beasiswa yang berasal tidak berasal dari keluarga kaya, termasuk si emesh. Hidup kami memang tidak kekurangan tapi bukan keluarga yang punya budget lebih untuk menyekolahkan anak. Bahkan saat pertama kali si emesh mendapat beasiswa skripsi S1 di Swedia, kami tak mampu membelikan ponsel yang proper untuk memotret indahnya Swedia, Denmark, Norwegia, Hungaria hingga Prancis. Karena itu, banyak penerima beasiswa seperti si emesh yang memilih membatasi pertemanan.

Padahal, pertemanan di masa kuliah itu penting untuk membahas tugas, mencari informasi, jalan bareng ke kota atau negara tetangga, melewati musim dingin yang gloomy (bahkan memunculkan perasaan sedih yang berlebihan untuk sebagian orang) dan sebagainya. Alhamdulillah, si emesh yang merupakan satu-satunya WNI di programnya dapat bersahabat cukup dekat dengan teman-teman satu program. Mereka sering bepergian bersama-sama. Seru banget!

Yang penting untuk diingat adalah harus tahu batas. Apalagi di Eropa banyak mahasiswa yang tidak beragama. Ada pula yang beragama tapi kadang mabuk. Di program si emesh ada 2 orang yang berhijab, yaitu si emesh dan mahasiswi dari Bangladesh. Mereka tetap bisa have fun tanpa mengorbankan nilai-nilai dalam Islam.

6. Bergabung dengan Komunitas Masyarakat Indonesia

Beberapa konten kreator di media sosial mengungkapkan bahwa mereka enggan bergabung dengan WNI di luar negeri (bahkan sekedar menyapa) karena banyak yang galak dengan sesama WNI. Namun, umumnya lingkungan akademis yang melingkupi mahasiswa lebih kondusif. Biasanya mahasiswa Indonesia di Eropa bergabung dengan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) dan keluarga Muslim Indonesia (nama bisa berbeda tiap kota).

Bergabung dengan komunitas masyarakat Indonesia dapat mengobati rasa kangen terhadap tanah air dan keluarga. Sering kali, para anggota membawa potluck masakan Indonesia, terutama anggota dari kalangan ibu-ibu karena banyak mahasiswa S2 dan S3 yang membawa keluarga. Si emesh, yang kebetulan memang pandai memasak, pernah membawa piscok, oreg tempe, bihun goreng dan sebagainya.

7. Punya Hobi

Hobi merupakan salah satu jalan untuk keluar dari kesepian. Tak perlu ragu menuruti hobi meski sibuk ujian atau tugas. Luangkan waktu sejenak untuk menekuni hobi. Hobi makin bermanfaat di musim dingin ketika suasananya memang lebih sendu. Apalagi jika berada di negara-negara Skandinavia dan wilayah utara lainnya.

Si emesh yang sewaktu kuliah S1 merupakan pemain gitar GMCO (Gadjah Mada Chamber Orchestra) UGM, membeli gitar second di Belgia. Meski masih absen mengisi akun Youtube dan Spotify-nya karena banyak tugas, si emesh meluangkan waktu bermain gitar untuk menghibur dirinya sendiri dan juga teman-temannya satu program. Bahkan si emesh pernah meminjam gitar dosennya sebentar untuk dimainkan di kelas.

Hobi si emesh lainnya adalah memasak. Sewaktu di Delft, beberapa kali si emesh memasak dan mengundang-teman-teman satu programnya makan bersama karena dapurnya luas dan hanya digunakan oleh 2 orang.

8 Jalan-jalan

Tidak ada salahnya menggunakan aji mumpung ketika berada di Eropa dengan jalan-jalan ke beberapa negara. Negara-negara Uni Eropa menerapkan satu visa, yaitu Schengen. Artinya, jika salah satu negara anggota Uni Eropa menyetujui visa kita, kita bisa pergi ke negara-negara lain di Uni Eropa dengan visa tersebut. Apalagi pemegang kartu pelajar atau resident permit mendapatkan banyak kemudahan dan diskon layanan transportasi serta gratis masuk di banyak museum.

Memang, saran ini disikapi dengan hati-hati lantaran banyak kecaman terhadap penerima beasiswa LPDP, BPI dan beasiswa-beasiswa lain dari pemerintah Indonesia. Mereka menuduh penerima beasiswa terlalu banyak jalan-jalan dengan biaya dari pajak. Padahal biaya jalan-jalan sebagai pelajar termasuk murah berkat kemudahan-kemudahan dari pemerintah negara-negara Uni Eropa, asal tidak sering makan di restoran atau kafe. 

Menurut kami, tetaplah jalan-jalan karena momen tersebut belum tentu dapat terulang. Jika khawatir dengan nyinyiran netizen maka bagi saja dokumentasinya di grup keluarga. Jika diunggah di media sosial, gunakan caption yang humble dan tidak melebih-lebihkan informasi. Si emesh sendiri menggunakan beasiswa Erasmus Mundus dari Uni Eropa sehingga malah disediakan studi ekskursi untuk mengenal kehidupan masyarakat setempat.

9. Memasak

Memasak merupakan basic skill yang harus dimiliki oleh mahasiswa semua gender. Kegiatan memasak bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mengisi waktu luang daripada pikiran kemana-mana dan dapat menjadi modal dalam pergaulan. Untuk program S2, Erasmus Mundus memberikan 1400 Euro per bulan. Itu cukup banget untuk sewa kamar dormitori, makan makanan bergizi, sewa sepeda, jalan-jalan ke negara lain hingga menabung. Padahal uang bulangan LPDP lebin tinggi dari Erasmus Mundus.

Tapi beasiswa itu tak akan cukup jika membeli makanan di restoran. Harga makanan di resto atau kafe di Eropa sangat mahal karena penghargaan mereka terhadap tenaga kerja sangat tinggi. Sebaliknya, harga bahan makanan di Eropa dan Indonesia sama saja, termasuk daging ayam yang halal. Bahkan buah-buahan di Eropa bisa lebih mudah dan beragam dibandingkan dengan di Indonesia.

10. Menata Kamar

Membersihkan, menata kamar atau mengubah dekorasinya akan mengembalikan mood untuk produktif kembali. Agar lebih bebas, usahakan habis-habisan ikut war domitori agar mendapatkan kamar sendiri (1 kamar untuk 1 orang) di lingkungan kampus. Punya kamar sendiri juga penting untuk me time dan energy recharge agar ceria kembali.

Kami tidak menyarankan mengambil kerja sambilan untuk menambah kesibukan karena tidak semua pemberi beasiswa dan visa mengizinkannya. Teman-teman harus benar-benar teliti dengan syarat dan ketentuannya agar tidak melakukan pelanggaran karena dapat berakibat fatal terhadap kelangsungan beasiswa. Semangat, ya. Semoga bermanfaat.

Post a Comment