20+ Kuliner Lebaran di Jogja

Table of Contents
Kuliner Lebaran di Jogja
Kuliner Lebaran di Jogja. Foto milik www.jalansitu.com.

Kuliner Lebaran di Jogja 2026 kami tulis di blog jalansitu sebagai kenang-kenangan dan untuk berbagi pengalaman dengan teman-teman. Jogja memiliki pesona kuliner yang rumit. Di satu sisi, banyak yang kangen atau sudah lama berkeinginan kulineran di Jogja dan hanya bisa berkunjung ke Jogja ketika libur nasional. Di sisi lain, keinginan tersebut menyebabkan antrian panjang di resto, warung, bahkan pesanan online.

Kami berada di Jogja selama beberapa hari sehingga cukup banyak menu makanan dan minuman yang kami coba. Meski tidak semua kuliner populer dapat kami nikmati tapi pengalaman seru tersebut sayang untuk tidak dibagikan.

Kuliner Lebaran di Jogja Offline dan Online

Liburan juga menyebabkan jalanan di Jogja macet. Karena itu, tidak semua resto atau kedai kami datangi langsung. Ada beberapa menu yang kami beli secara online agar tidak kelelahan. 

Berikut ini adalah deretan kuliner Lebaran di Jogja, baik yang kami datangi langsung maupun yang kami beli secara online. Untuk foto selengkapnya bisa dilihat di akun Instagram @jalansitu untuk menghemat kapasitas blog.

1. Mbok Berek Garden Resto

Ayam kremes di Mbok Berek ini lezat dan selalu kami beli setiap ke Jogja. Meski termasuk legend dan restonya bagus, tapi namanya agak redup dan underrated. Keuntungannya, kami tidak perlu antri panjang. Kali ini, kami tidak datang langsung ke restonya karena harus menjemput keluarga ke Bandara YIA. Jadi kami beli beberapa paket ayam goreng komplit melalui Grabfood untuk berbuka puasa di dalam mobil. Harganya lupa, tapi di akun Instagram-nya sekitar Rp41.000.

Mbok Berek Garden Resto
Jl Magelang Km 9, Mlati, Sleman

2. The Jogja Skyline

Cukup sulit mencari seat untuk buka puasa secara mendadak. Alhamdulillah kami masih bisa mendapatkan beberapa seat untuk paket iftar di The Jogja Skyline. Lokasinya berada di atas The Jogja Hotel. Resto ini sering lalu lalang di media sosial karena memiliki view 360° ke arah kota Yogyakarta. Namun demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Resto ini terdiri dari 3 tingkat yang semuanya memiliki view terbuka. Khusus tingkat pertama, ada bagian indoor. Makanan ada di lantai pertama ini. Usahakan booking lantai pertama jika membawa anak kecil atau lansia agar tidak perlu khawatir naik turun tangga sambil membawa piring atau gelas. Tapi jika terpaksa, ada banyak pelayan yang siap membantu. View terbaik ada di lantai paling atas. 

Kami mendapatkan seat di lantai 2 dengan harga Rp180.000/pax. Dari sini kami bisa melihat kesibukan kereta api di Stasiun Tugu, matahari tenggelam dan kembang api. 

Untuk makanan, nyaris tidak ada komplain karena semua enak dan berlimpah. Dessertnya lucu-lucu, cantik-cantik dan lezat. Yang agak kurang kami nikmati adalah kambing guling karena terlalu kering dan keras untuk gigi papah dan mamah yang tidak lengkap lagi. Overall kami puas. Bahkan keponakan-keponakan kami datang ke resto ini setelah Lebaran karena penasaran dengan view-nya.

The Jogja Skyline
The Jogja Hotel & Conference Center
Jl. Pringgokusuman No.7, Gedong Tengen, Yogyakarta

3. Toko Kopi Tuku

Sejujurnya, kami hanya FOMO karena Kopi Tuku ditasbihkan sebagai kopi terbaik Indonesia oleh netizen. Kerena itu, ketika kami lewat dan melihatnya, kami langsung mampir. Letaknya bersebelahan dengan Kalluna. Meski halamannya terlihat terbatas, tapi bagian dalamnya cukup luas. Ada halaman belakang yang kami kira kosong tapi ternyata banyak yang duduk. Kami sempat terkejut karena ada piano yang persis milik kami sebagai hiasan. Tapi piano kami lebih besar.

Di sini kami membeli Kopi Susu Tetangga dan biji kopi. Kebetulan kami punya mesin espresso di rumah. 

TUKU
Jl Sajiono No.15 Kotabaru, Yogyakarta

4. Sofdoh

Sofdoh merupakan lafal dan singkatan dari soft sourdough. Selain soft sourdough, di sini juga ada pretzel. Kami datang ke sini juga karena FOMO. Kami beli takeaway karena lokasi toko dekat dengan traffic light yang ramai sehingga agak was-was parkir mobil di sana. 

Kami beli 3 macam soft sourdough, tapi yang paling kami sukai rasa Choco Cheese. Entah benar atau salah cara makannya, tapi menurut kami, roti ini lebih enak dimakan setelah didiamkan di kulkas.

Sofdoh
Jl. Sultan Agung No.15, Yogyakarta

5. Warung Jadah Tempe Mbah Carik

Jadah tempe tahu merupakan jajanan wajib si papah jika ke Jogja. Warung jadah tempe yang menggunakan brand Mbah Carik cukup banyak. Langganan kami yang menggunakan tambahan nama Pak Sugeng di Jl Kaliurang km 15. Kami membeli 2 paket jadah tempe tahu dan kerupuk tahu. Satu paket terdiri dari 10 jadah, 5 tempe bacem dan 5 tahu bacem seharga Rp30.000.

Warung Jadah Tempe Mbah Carik Pak Sugeng
Jl. Kaliurang Km.15, Sleman.

6. Warung di Klangon

Kami ke Klangon setelah mendengar cerita pakdhe naik Vespa ke sana. Kami datang pagi dalam keadaan lapar, gara-gara tidak terlayani oleh warung soto sebelumnya. Saat itu belum banyak warung yang buka karena Lebaran sehingga kami mencoba warung soto di Jakal. Ternyata, penjualnya tidak memiliki manajemen yang bagus sehingga terlalu lama untuk hidangan sesimpel nasi soto. Akhirnya kami membatalkan pesanan. Setelah itu kami ke Soto Pak Marto di Pakem tapi tidak kebagian tempat duduk.

Untungnya Klangon tidak terlalu ramai. Kami langsung mencari warung untuk sarapan. Kami memilih warung yang tempat duduknya menghadap tulisan Klangon karena terlihat bersih meski sederhana. Kami memesan soto ayam dan wedang gedang (pisang). 

Alhamdulillah sotonya segar. Yang wajib dipesan ketika berada di sekitar Klangon, Kaliadem dan Kalikuning adalah wedang gedang. Warung-warung yang buka tak lama setelah erupsi besar Gunung Merapi tetap menyediakan wedang gedang. Dahulu wedang gedang hanya terdiri dari air panas, gula pasir dan pisang. Sekarang, penjual mengganti gula pasir dengan gula jawa, serta memasukkan serai dan jahe. Harganya murah-murah dan ditulis dengan jelas di dinding. No scam.

7. Kopi Merapi

Kopi Merapi merupakan tempat ngopi paling populer di Cangkringan, tak jauh dari Klangon. Namun kedai ini tidak hanya menjual kopi. Di sini juga ada sate-satean, gorengan dan mi instan. Dulu kami pernah hampir sampai sini tapi jalannya berbatu sehingga tidak cocok untuk mobil kami. Sekarang jalannya sudah bagus. 

Sebenarnya, dahulu area ini termasuk yang terlarang untuk mendirikan bangunan lagi setelah tersapu lahar. Dari kedai ini tampak gerbang The Lost World Castle. Tapi kami tidak kesana karena sudah ada janji dengan budhe di kota sehingga harus segera turun. 

Jadi kami hanya memesan es bland susu, bland dan beberapa sate-satean yang tidak perlu dimasak. Harganya murah-murah kok, dibawah Rp20.000, tidak seperti di kafe. Si papah sempat tergoda dengan mi instan pesanan orang lain yang sepertinya enak tapi dilarang mamah karena harus buru-buru ke kota.

Kopi Merapi
Kepuharjo, Cangkringan, Sleman.

8. Djoen Lama

Kami istirahat di sini setelah mengaduk-aduk Beringharjo dan Hamzah Batik. Kami perlu menyegarkan diri dulu sebelum jalan kaki kembali ke tempat kami yang tak jauh dari Malioboro. Tadinya Djoen adalah toko kue jadul yang dilayani langsung oleh pemiliknya, mamah-mamah Tionghoa. Lokasinya memang dekat dengan Ketandan, pecinan Yogyakarta. Sekarang Djoen dikelola penerusnya yang mengubah konsep toko menjadi kafe. Interior kunonya tetap dipertahankan.

Sore itu kami menikmati kopi kulina, kroket dan onbitjkoek. Harganya seperti kafe pada umumnya tapi termasuk tidak mahal. Jika teman-teman ingin mengabadikan liburan di Malioboro, di bagian depan kafe ada photobox (Snapmanner) ala koran lawas. Dengan membayar Rp35.000, pengunjung akan mendapatkan cetakan laksana koran dan file digitalnya untuk diupload di medsos.

Djoen Lama
Jl. Malioboro, Yogyakarta

9. Racikan dan Kopi Ponti

Biasanya setelah nyekar di Semaki, kami makan di sate Pak Jogo. Kali ini kami harus mengerem hidangan olahan daging karena sudah kebanyakan selama Lebaran. Setelah melihat Google Map, ketemulah dengan rumah makan yang adem berkat banyaknya pepohonan ini. Rumah makan yang rindang dengan pepohonan merupakan sesuatu yang langka di tengah Kota Yogyakarta. 

Kopi Ponti mengingatkan pada nama resto langganan si mamah dan bestie-bestienya di Sambisari. Mungkin memang ada hubungannya karena di sana juga banyak tanaman. Tapi konsepnya berbeda karena di Sambisari konsepnya prasmanan, sedangkan di Baciro harus pesan. 

Si mamah langsung memesan jenang, putu mayang dan serabi sebagai makanan pembuka. Untuk minum, kami memesan minuman-minuman biasa tapi dingin untuk menghilangkan rasa gerah, seperti es jeruk, es teh dan Sarparella. Untuk makanan, kami memesan nasi pecel, lontong cap gomeh, sop konro dan buras, dan ada beberapa lagi yang sudah lupa. Harganya normal saja untuk ukuran restoran yang bagus.

Yang paling kami sukai adalah makanan pembuka pesanan mamah. Lontong cap gomehnya lebih mirip lontong opor Lebaran, padahal kami sedang ingin ganti suasana. Yang agak membingungkan adalah sop konro karena persis rawon. Kami sampai mempertanyakan dua kali apakah benar itu sop konro. Untungnya rasanya enak, tapi sajiannya tidak seperti yang kami bayangkan sebelumnya.

Racikan dan Kopi Ponti
Jl. Melati Wetan 16, Baciro, Yogyakarta

10. Gudeg Bu Hj Amad

Gudeg merupakan menu wajib si papah. Biasanya kami membeli secara online dari Bu Mur. Sedangkan jika makan di tempat, kami lebih suka gudeg kakilima malam pinggir jalan seperti Yu Yah atau Tugu. Tapi semuanya masih tutup. Kalau sudah begini, gudeg Bu Amad selalu menjadi penyelamat. 

Kami datang mendekati jam tutup sehingga peracik gudegnya tampak sudah lelah dan tidak bersemangat melayani kami. Untuknya kasir (mungkin bu bosnya) datang dan langsung melayani kami. Cita rasa gudeg Bu Amad tidak pernah kami komplain sejak dulu. Pas nikmatnya. Hanya saja cukup jauh untuk pesan online dan selalu ramai untuk makan di tempat.

Ternyata ada keuntungannya makan gudeg malam-malam di sana karena kami dapat memesan wedang ronde dari penjual keliling yang mangkal di depannya.

Gudeg Hj Bu Amad
Jl. Agro, Caturtunggal, Sleman (belakang UGM)

11. Kedai Tjeria 90'

Info tentang kedai Tjeria kami dapat dari TikTok. Menunya terlihat unik dan direkomendasikan banyak akun (umumnnya akun anak muda atau keluarga muda) sehingga patut dicoba. Letak kedai ini agak masuk ke dalam kampung sehingga harus dibantu dengan Google Map. Meski sudah pakai Gmap, teman-teman wajib memperhatikan plang juga karena kami sempat salah belok ke perumahan sebelum belokan yang seharusnya. 

Sebenarnya ancar-ancarnya mudah, yaitu dari Jl Damai cari pertigaan Sate Klatak Pangestu, lalu masuk Jl Dayu Baru. Telusuri jalan tersebut sampai ketemu perempatan dengan plang Kedai Tjeria 90" di sebelah kiri. Kedai tersebut tak jauh dari perempatan itu.

Jalannya lebar kok. Bahkan tempat parkirnya cukup luas untuk banyak mobil. Oya, waktu parkir, kami baru tahu kalau Soto Pak Gareng cabang Jl Damai pindah ke sebelahnya persis. Meja dan kursi di Kedai Tjeria simpel untuk keperluan makan cepat. Karena itu, meski selalu ramai tapi pergantian pengunjungnya cukup cepat. Waktu kami datang langsung dapat kursi.

Cara pesannya unik, yaitu sebagian dipesan lewat pelayan dan sebagian prasmanan. Tapi tidak sampai membingungkan kok. Kami memesan nasi goreng nenek, ci cong fan oil dan original, roti bakar goela jadoel serta kopi soesoe butter. Di bagian prasmanan kami meminta boeboer ajam, bakwan, siomay dan choipan. Agak maruk sih sehingga sebagian dibungkus untuk dibawa pulang karena kekenyangan.

Harga-harganya termasuk murah tapi karena banyak pilihan dan main comot aja, akhirnya habis banyak juga. Khusus untuk ci cong fan oil ini pedas ya. Kami tidak tahu karena belum pernah makan menu ini heheheee. Kebetulan si mamah anti makanan pedas. Untungnya ada si denok yang bantu menghabiskan.

Kedai Tjeria 90'
Jl Masjid Al Jihad, Dayu, Sleman

12. Soto Pak Sholeh Godean

Setelah mengantar si denok ke bandara YIA, papah dan mamah harus mencari jalan-jalan tembus agar tidak terjebak macet. Sampai di Godean, mereka lapar karena belum makan siang. Ketika melihat warung soto dekat traffic light yang antriannya panjang, secara spontan langsung belok ke sana. Di Jogja, soto dengan nama Pak Sholeh, Pak Marto dan sejenisnya cukup banyak. Entah ini Pak Sholeh yang mana, yang jelas warungnya terlihat bersih.

Ternyata soto dagingnya segar dan clean sehingga papah dan mamah puas. Mamah juga mengambil perkedel, bacem babat, bacem iso dan tentu saja kerupuk kesukaan mamah. Harga soto daging sapi Rp18.000, nasi Rp5.000, jerohan Rp19.000, kerupuk Rp1.000, dan es jeruk Rp5.000. Alhamdulillah, setelah makan, antrian di traffic light tidak ada lagi.

Soto Pak Sholeh
Jl. Godean, Sleman

13. Waroeng Klangenan

Sudah lama kami sekeluarga tidak ke angkringan karena lebih banyak di luar Yogyakarta. Tapi malam itu, papah dan mamah pengin chill di angkringan. Perlu waktu agak lama untuk mencari angkringan yang sesuai selera si mamah di medsos maupun Gmap. Mamah tidak mau angkringan yang gelap di atas trotoar karena khawatir dengan kebersihannya. Mamah juga tidak suka dengan angkringan yang banyak menyajikan frozen food ditusuk ala sate. Tapi zaman sekarang, banyak angkringan yang memilih jalan simpel dengan menu sate frozen.

Akhirnya ketemulah Waroeng Klangenan di Gmap. Fotonya sangat menggoda dengan pilihan menu yang amat banyak. Tapi mereka tidak memperhatikan jam buka, yaitu hanya sampai jam 22.00. Tidak seperti angkringan lain yang biasanya tutup agak malam. Ketika tiba di lokasi sudah jam 21.15 alias mendekati tutup meski masih banyak pengunjung.

Si mamah tampak kecewa karena semua makanan sudah diangkut ke dalam sehingga display kosong semua. Pelayan mengatakan semua masih bisa dipesan tapi menunggu sebentar, kecuali gorengan yang sudah tidak bisa dipesan lagi. Padahal yang asyik itu comot-comotnya, ya. Kekecewaan itu terobati dengan penyajian yang unik, yaitu diberi tungku kecil dan kipas untuk memanaskan sate-satean dan sego kucing sendiri. 

Di sini sate-sateannya juga menggunakan frozen food tapi mamah tak keberatan karena terlalu gembira mengipasi tungku. Sego kucingnya minimalis alias gerehnya dikit banget. Selain itu, mereka juga memesan kunir asam dan teh hangat. Harga-harga makanannya memang sedikit lebih tinggi dari angkringan kebanyakan, tapi minumannya terbilang murah. 

Papah mamah betah banget di sini sampai mau tutup karena suasananya tenang dan enak banget buat ngobrol. Tempatnya berupa rumah lama yang disulap menjadi rumah makan. Mereka juga terperangah dengan pelayanan tukang parkirnya. Usianya tidak muda lagi. Beliau lari dari depan ke belakang atau dari belakang ke depan untuk mengiringi mobil yang akan masuk dan keluar. Bayangkan beberapa jam seperti itu. Jadi jangan lupa kasih uang parkir yang banyak, ya.

Waroeng Klangenan
Jl. Patangpuluhan 28, Yogyakarta

14. Kopi Rolas

Meskipun pengin, tapi warlok akan menghindari Kopi Klotok di musim liburan. Sebenarnya kami separuh warlok karena lebih sering di luar Jogja. Tapi seenggaknya kami masih bisa kapan-kapan ke sana. Beda dengan wisatawan yang mungkin cuma sekali atau beberapa kali ke Jogja. Lalu ke mana warlok pergi kalau pengin ramesan Jogja seperti itu?

Sebenarnya banyak pilihan lain di luar area Kopi Klotok dan Kopi Bukan Luwak. Tapi yang sering kami datangi adalah Kopi Rolas. Di zaman pra covid, ini langganan si papah dan geng gowesnya. Bahkan dulu disediakan parkir khusus sepeda. Warung ini tidak kelihatan dari jalan karena terhalang pagar tembok. Tapi makin hari makin banyak orang yang tahu (termasuk wisatawan) sehingga parkiran di dalam sering penuh. Apalagi di sini ada playground. Tapi di sini masih nyaman karena tidak ada antrian ambil makan.

Untuk menu prasmanannya, semua cocok di lidah kami. Hanya saja di sini makan dulu baru bayar. Supaya kami tidak berdosa karena ada yang tidak terhitung, kami memotret pesanan kami untuk ditunjukkan ke kasir. Sementara tamu lain ada yang membawa seluruh anggota ke depan kasir dan ada pula yang mencatatnya. Menurut kami itu kurang praktis meskipun seru.

Kopi Rolas
Harjobinangun, Pakem, Sleman

15. My Kopi-O!

Orang bilang, sekarang Jogja menjadi kota sejuta kafe saking banyaknya kafe di tiap ruas jalan. Bahkan ada yang bilang bahwa sudah terlalu banyak kafe di Jogja. Tapi yang kami lihat pada Lebaran kemarin, hampir semua kafe penuh. Yang parkirannya penuh motor biasanya langganan anak-anak muda. Yang terlihat sepi tapi banyak mobil parkir disukai orang-orang yang mengurus bisnis atau memiliki pekerjaan online. Malam itu, papah dan mamah mencari kafe yang family friendly.

My Kopi-O! dekat UGM langsung terlintas dalam pikiran mamah. Kafe ini sudah lama berdiri dan termasuk yang sanggup bertahan sangat lama di Yogyakarta melewati masa pandemi. Ruangannya luas dan tenang, tidak seperti kafe anak muda, sehingga nyaman untuk ngobrol lama. Apalagi buka sampai jam 23.00. Petugas parkirnya gercep sehingga sangat membantu, mengingat ini merupakan kawasan Sagan yang banyak resto, kafe hingga hotel. 

Menu yang dipesan, yaitu spaghetti carbonara kesukaan mamah, chicken chop with carbonara sauce, hot cappucino dan nanyang kopi kosong. Harga di sini seperti harga kafe pada umumnya.

My Kopi-O!
Jl. Candrakirana 21, Yogyakarta

16. Bubur Hayam Kotabaru Cabang Lowanu

Pagi itu si papah harus akupuntur di RSUD Yogyakarta. Mamah selalu mengingatkan papah untuk meluangkan waktu akupuntur tiap kali di Jogja. Karena berangkat agak kesiangan, papah dan mamah memutuskan untuk mencari sarapan apa saja yang dilewati ke arah menuju RSUD. Pada hari pertama weekdays setelah cuti bersama nasional tersebut, masih banyak resto atau warung tutup. Alhamdulillah mendekat RSUD, mamah melihat rumah makan ini sehingga papah memutar mobil ke arah kedai tersebut.

Di sini antrian ojolnya cukup banyak dan kami menunggu agak lama tapi masih bisa dimaklumi. Sistemnya kita pesan bubur di kasir, lalu duduk menunggu. Jika bubur sudah siap, nama kita akan dipanggil. Kuah, seledri, daun bawang, sambal dan sebagainya bisa diambil  sendiri sepuasnya di meja khusus. Overall kami suka. Hanya saja akan lebih nikmat jika telurnya ditimpa bubur seperti bubur Tionghoa. Telur di atas bubur secara visual memang lebih menarik, tapi terlalu encer untuk dimakan. Untungnya kami doyan.

Bubur Hayam Kotabaru Cabang Lowanu
Jl. Lowanu No.52, Yogyakarta

17. Soto Pak Marto Beran

Salah satu kegiatan rutin orang-orang yang mudik ke Jogja adalah mengurus administrasi, antara lain kependudukan, SIM, PBB dan sebagainya. Tak terkecuali papah dan mamah yang bermaksud mengurus digitalisasi sertifikat rumah. Tapi ternyata sosialisasi yang dilakukan BPN melalui media sosial berbeda dengan praktiknya. Jadi mereka baru pada tahap konsultasi. Pendaftarannya akan dilakukan jika mudik lagi. 

Mereka sengaja datang pas jam bukan (08.00) agar mendapatkan nomor urut 1. Setelah itu barulah cari sarapan. Tak jauh dari kantor BPN Sleman ada Soto Pak Marto yang cukup ramai. Seperti yang kami bilang di atas, warung soto dengan nama Pak Marto dan Pak Sholeh cukup banyak di Jogja. Entah kebetulan, entah cabangnya, atau memang diandalkan untuk membawa hoki. 

Warung soto ini sederhana, pelayanan cepat dan aksesorisnya komplit. Papah dan mamah menyantap nasi soto, sate usus, tempe mendoan dan kerupuk. Sayang, babat bacemnya belum siap. Untuk minum, mereka memesan wedang tape ketan hijau dan teh hangat. Harganya murah banget, hanya habis Rp60.000. Untuk rasa, sebenarnya enak. Tapi berhubung papah dan mamah sudah lama mengurangi garam, mereka merasa sotonya sedikit keasinan. Lain kali mereka akan meminta penjual untuk mengurangi garamnya.

Soto Pak Marto 
Jl. KRT Pringgodiningratan, Tridadi, Sleman

18. Bakso Cak Eko Bandara YIA

Akhirnya, waktu mudik usai. Karena waktunya tanggung, papah dan mamah memutuskan untuk makan siang di Bandara YIA saja. Biasanya kalau tidak berencana makan, mereka nongkrong di Roti O ruang tunggu. Cak Eko menjadi pilihan karena terlihat ramai. Apalagi hari itu cuaca mendung tebal sehingga bakso akan membuat badan hangat dan nyaman.

Papah memesan bakso urat sedangkan mamah bakso komplit. Untuk minum, mereka memesan teh hangat. Semua terlihat sempurna, sampai mamah tiba-tiba panik setelah menggigit salah satu bakso. Ternyata didalamnya ada beberapa cabe rawit! Bayangkan! Mamah yang anti pedas harus mengalami hal itu. Meski tidak ada yang tertelan, tak urung mulutnya terasa terbakar. Mamah mengusap mulutnya dengan tisu. Kasihan sekali. 

Rupanya ketika pesan, mamah tidak melihat brosurnya, melainkan melihat daftar menu di belakang kasir yang tidak ada deskripsinya. Ini merupakan pembelajaran agar lain waktu lebih detail lagi mencari deskripsinya ketika memesan makanan atau minuman.

Bakso Cak Eko Malang Bandara YIA
Ruang Tunggu Bandara YIA

19. Shopeefood dan Grabfood

Last but not least adalah pesan makanan lewat ojol. Biasanya kalau di Jogja, kami seharian bepergian ke saudara, tempat wisata atau sekedar muter-muter. Ojol menjadi andalan jika sudah kecapekan. Papah selalu pakai Grabfood, sedangkan mamah menggunakan Shopeefood. Mereka akan memilih yang diskonnya banyak. Biasanya jika posisi di Jogja, Shopeefood mamah yang paling banyak diskonnya.

Berikut ini adalah daftar makanan dan minuman yang kami pesan melalui ojek online.

  • Point Coffee: kopi andalan penyelamat lesu atau kantuk dimana-mana.
  • Gudeg Yu Narni: pilihan kedua karena Gudeg Bu Mur langganan kami tutup.
  • Couvee: rekomendasi utama warga Jogja, bahkan si denok membawa yang botolan ke Jakarta untuk oleh-oleh.
  • Bakpia Juwara Satoe: bakpia langganan kami karena enak, kemasannya layak untuk oleh-oleh (tidak terlalu kecil) dan harganya masuk akal.
  • Truffelogy: percobaan pertama agar oleh-oleh tidak itu-itu saja.
  • Kue Bandung: beli dari Jakal karena yang orisinal di Kotabaru belum buka.
  • Omore Coffee: pilihan random karena penasaran dengan rasa kopi kafe-kafe yang belum kami kenal tapi ratingnya bagus.
  • Es oyen: dekat rumah untuk buka puasa.
  • Gorengan: dekat rumah untuk buka puasa.
  • Bakmi Jawa Pak Yanto: percobaan pertama karena langganan kami, yaitu Bakmi Pak Sriyanto Kumis belum  buka dan antrian Pak Dhi luar biasa. Ternyata citarasa Bakmi Pak Yanto ini berbeda dengan bakmi Jogja pada umumnya.
Banyak sekali kuliner yang sudah kami nikmati selama Lebaran di Jogja. Itu hanya sebagian kecil banget dibandingkan sangat beragamnya kuliner Jogja. Semoga bermanfaat untuk teman-teman yang akan berlibur di Jogja. Selamat menikmati.

Post a Comment