Akomodasi dan Transportasi dari Riau ke Semarang

Table of Contents
simpang lima semarang
Simpang Lima Semarang dari Hotel Ciputa. Foto milik www.jalansitu.com.

Minggu lalu ada undangan pesta pernikahan mendadak di Batang, Jawa Tengah, sehingga kami hanya punya waktu sehari untuk mencari akomodasi dan transportasi. Posisi kami kemarin berada di Riau. Sementara letak Batang 90 km dari Semarang sehingga kami harus naik pesawat dulu ke Semarang.  Kebayang kan hebohnya? 

Sebenarnya kami tak biasa memenuhi undangan jauh yang mendadak begini. Kami biasa bepergian jauh dengan persiapan yang tenang. Tapi berhubung pengundang adalah senior di kantor dan tidak ada yang bisa mewakili, maka si papah memutuskan bahwa kami harus datang. Alhamdulillah perjalanan berlangsung lancar dan kami ingin membagi informasinya ke teman-teman yang membutuhkan.

Transportasi dari Duri ke Semarang

Masalah pertama adalah kami tidak tinggal di Pekanbaru, melainkan di Duri. Jika naik travel, kami akan membutuhkan lebih banyak waktu karena travel akan menjemput jauh lebih awal. Alhamdulillah ada junior si papah yang baik hati dan sering mengantar kami ke bandara dengan mobil kantor. Jika punya banyak waktu, teman-teman bisa naik travel Rajendra yang biasa mengantarkan penumpang ke Bandara Sultan Syarif Kasim II.

Pilihan pesawat kami ada 2, yaitu mendarat di Yogyakarta atau Semarang. Pilihan pertama kami adalah mendarat di Yogyakarta karena kami sudah punya langganan driver dan sewa kendaraan. Dahulu ada 2x penerbangan dengan Lion dan Citilink. Namun sekarang hanya ada 1x penerbangan dengan Lion dan tiketnya sudah habis. Entah mengapa rute Citilink ini dihapus padahal selalu penuh.

Mau tak mau kami harus mendarat di Semarang. Ternyata, tidak ada penerbangan langsung dari Pekanbaru ke Semarang sehingga harus transit di Jakarta selama 2 jam. Pesawat yang tersedia adalah Citilink. Dulu Citilink merupakan maskapai kesayangan kami karena Garuda terlalu mahal buat kami, sedangkan Lion sering delay. Sekarang rute Citilink berkurang banyak dan kondisi interiornya tak senyaman dulu karena legroom lebih mepet jadi susah bergerak.

Harga tiket Pekanbaru-Semarang (transit) 2,4 juta rupiah. Padahal  Pekanbaru-Yogyakarta cuma 1,7 juta rupiah. Tapi tidak ada pilihan lain. Kami berangkat dari Duri sehabis subuh (jam 05.30) dengan Citilink keberangkatan jam 11.15 dan bagasi maksimal 15 kg.

Transportasi di Semarang

Kami mendarat di Bandara Ahmad Yani Semarang dengan kondisi cuaca mendung. Ahmad Yani merupakan bandara kecil yang tidak jauh dari pusat kota. Bandara ini bersih, rapi dan efisien. Karena sudah capek, kami memilih naik taksi Blue Bird ke Simpang Lima dengan harga Rp120.000 fix price. Blue Bird bisa pakai argo tapi kami pikir fix price akan lebih simpel dan santai. 

Masalah berikutnya adalah transportasi selama di Semarang dan kota berikutnya. Agar praktis, kami menghubungi teman yang memiliki usaha travel. Rencana rute kami adalah Semarang - Batang - Magelang - Yogyakarta. Kami akan mulai bergerak pada pukul 11.00 keesokan harinya. Meski mulai agak siang, kami pikir tak apa menyewa untuk sehari, sekalian buat bantu usaha teman.

Ternyata hitungannya bukan harian luar kota, melainkan per trip sehingga totalnya menjadi 1,8 juta rupiah termasuk sopir dan tol dengan mobil lawas. Awalnya kami kaget. Tapi setelah semuanya selesai di Jogja pada jam 21.30 dan badan capek semua maka kami pikir harga sewanya sepadan untuk teman sendiri. Apalagi sempat macet panjang di Bedono akibat truk terguling sehingga tak tega melihat teman sendiri kelelahan.

Hotel

Kami hanya mencari hotel di seputar Simpang Lima karena ingin memaksimalkan kunjungan yang cuma semalam. Sebelumnya kami juga mempertimbangkan Hotel Ibis Style. Akhirnya kami pilih Ciputra karena terhubung dengan mal. Kebetulan si mamah tidak siap dengan baju kondangan, jadi rencananya akan beli baju kondangan di mal Ciputra.

Kami booking kamar deluxe queen seharga 940 ribu rupiah, sudah termasuk sarapan untuk 2 orang, melalui Traveloka. Ciputra ini hotel lawas yang sekarang dikelola oleh Swiss-Belhotel International. Eksteriornya tidak banyak berubah. Tapi teknologi di dalamnya sudah update, misalnya akses lift dan pintu-pintu. Kami ada masukan untuk Hotel Ciputra agar lebih sering membersihkan kaca luar dekat pintu lift. Kaca ini menghadap lurus ke Simpang Lima. Tapi karena kotor dan buram, kami tidak bisa memotretnya di malam hari.

Lantai kamarnya menggunakan karpet sehingga sesuai dengan kesukaan kami. Amenities di hotel ini lengkap meski tidak termasuk royal. Hair dyer ada. Namun sisir tidak ada dan sikat gigi hanya satu. Di bawah kaca rias ada tulisan yang intinya, jika butuh apa-apa tinggal minta. Maka kami minta sikat gigi lagi dan sisir.

Kami tidak minta city view karena kami perkirakan sampai Semarang sudah gelap. Kami juga tidak minta bathtub yang harganya lebih tinggi tapi kami dapat bathtub. Sebenarnya pilihan tersebut bukan hanya persoalan harga tapi karena papah dan mamah takut kepleset. Untungnya Hotel Ciputra sudah memikirkan hal itu dan memberi alas di dalam bathtub agar tidak licin.

Salah satu momen yang ditunggu ketika menginap di hotel adalah sarapan. Kebetulan si mamah mengundang temannya untuk sarapan bersama sehingga harus menambah 170 ribu rupiah. Menu sarapannya cukup lengkap. Seperti biasa papah sarapan dengan menu lengkap. Sedangkan mamah tidak mengambil nasi agar tidak ada gangguan perut karena akan berada dalam perjalanan seharian. Kekurangannya hanya restorannya tidak luas sehingga kursi yang tersedia juga tidak banyak. Sebagian tamu harus duduk di ruangan lain.

Jalan-jalan

Salah satu pertimbangan memilih Hotel Ciputra adalah agar bisa jalan-jalan di Simpang Lima. Kenyataannya, kami cukup lelah setelah perjalanan sejak sehabis subuh sehingga cuma menyeberang untuk makan malam.

Di tengah Simpang Lima ada alun-alun yang ramai dengan orang, terutama anak-anak. Banyak penjual mainan yang menambah meriahnya suasana. Tapi penjual jajan tidak ada. Kita bisa duduk-duduk menikmati suasana malam. Malam itu mendung cukup tebal dan sesekali terasa ada titik-titik air. Kalau mau jajan harus menyeberang dan menyusuri trotoar Simpang Lima.

Selain itu, si mamah juga sempat ke Mal Ciputra untuk mencari baju kondangan. Mal ini tidak terlalu besar. Kios untuk busana wanita lebih banyak di area tengah atau pemeran. Sedangkan toko busananya tidak banyak. Di area tengah tersebut banyak baju cantik tapi semuanya all size. Padahal ukuran baju mamah spesial. Ada satu baju batik yang cocok tapi overprice buat mamah. Akhirnya si mamah harus menguatkan diri untuk kondangan mengenakan baju yang itu-itu lagi.

Kuliner

Di sekeliling Simpang Lima banyak kuliner menarik. Salah satu yang pernah kami coba dan lezat adalah Nasi Pecel Mbok Sador. Kali ini kami memilih Nasi Ayam Bu Widodo karena nasi ayam itu khas Semarang dan lokasinya paling dekat dengan hotel. Kami benar-benar tinggal menyeberang saja. Selain itu, kedai ini buka di jam normal. Sedangkan nasi ayam yang lebih terkenal buka jam 23.00.

Ternyata nasi ayam itu mirip nasi liwet. Perbedaan paling mencolok adalah nasi liwet ada arehnya. Kami sih suka aja. Apalagi ada sate uritan kesukaan kami. Karena lokasinya di trotoar, maka ada yang lesehan dan ada yang duduk di kursi. Kami duduk lesehan. Kalau teman-teman ke sini, kami sarankan duduk di kursi saja supaya tidak terganggu orang lewat. 

Harga 2 nasi ayam, tambahan nasi putih, ayam paha bawah, 2 sate uritan, 3 kerupuk, teh hangat dan Teh Botol Sosro 75 ribu rupiah. Bisa bayar pakai QRIS tapi waktu itu aplikasi kami error sehingga kami bayar tunai. 

Secara keseluruhan sih kedai ini pilihan yang tepat di Simpang Lima kecuali pengin makan di jam ronda. Satu-satunya yang membuat si mamah tidak nyaman adalah karena ibu penjualnya nglihatin si mamah beberapa kali dengan pandangan datar. Mungkin karena si mamah kelihatan sibuk mengatur duduk si papah agar tidak terganggu orang lewat sehingga beberapa kali geser.

Tak ketinggalan, kami juga membeli lumpia khas Semarang dan tahu bakso. Kami membeli melalui Grab karena tidak sanggup kemana-mana lagi. Kami tahu banyak merek lumpia yang terkenal atau viral. Kami memilih Life's Joy karena ratingnya bagus dan punya paket campuran lumpia-bakso. Harganya juga tidak terlalu mahal karena ukurannya tidak sebesar lainnya. Ini justru memudahkan kami untuk memakannya.

Oleh-oleh

Sebenarnya kami bukan tipe yang heboh membawa oleh-oleh. Keluarga besar kami maklum kok. Hehehee .... Tapi berhubung kami berhutang budi pada junior si papah yang mengantar kami, tetangga depan rumah yang sering meminjami tangga, satpam dan orang tua, maka kami sempatkan membeli oleh-oleh.

Kami hanya tahu bahwa pusat oleh-oleh di Semarang ada di Jl Pandanaran. Dalam waktu yang sempit tersebut, kami tidak berusaha mencari tahu tempat lain melainkan langsung minta diantar ke Pandanaran. 

Kalau bawa mobil di sini agak tricky karena tidak boleh parkir di depan toko-toko oleh-oleh (ada garis-garis kuning). Halaman toko hanya bisa menampung 2-3 mobil. Jadi kita harus parkir sebelum memasuki Jl Pandanaran. 

Untuk menyeberang dari parkir ke toko harus ekstra hati-hati. Di sini ada zebra cross tapi para pengemudinya tidak tertib, yaitu berhenti pas atau setelah zebra cross. Pengaturan pedestrian atau trotoarnya juga aneh karena tidak ada akses ke zebra cross. Jadi kita harus melompat. Meski tidak tinggi tapi ini menyulitkan lansia, para ibu yang mendorong trolley dan penyandang disabilitas. Kalau kesulitan melompat, kita harus menyeberang tak jauh dari zebra cross, yang berarti kita jadi ikutan tidak tertib. 

Di sepanjang ujung Jl Pandanaran banyak toko dan penjual oleh-oleh kakilima. Kami memilih masuk ke Elrina karena bisa one stop shopping. Secara umum, Elrina dibagi menjadi 3 area, yaitu bandeng, snack basah/gorengan, wingko babat, swalayan dan restoran. Kami tidak masuk ke restoran yang berada di lantai 2.

Kami membeli 5 ekor bandeng presto vacuum, tahu bandeng, tahu tuna, 3 kotak wingko babat (campur dan mini) dan lemper bandeng. Kami tidak ingat totalnya tapi harga ikan bandeng vacuum 165 ribu rupiah per kg isi 3 ekor, tahu sekitar 10 ribuan rupiah, lemper 6500 rupiah, wingko bervariasi dari 45-70 ribu rupiah.

Setelah belanja oleh-oleh, kami segera menuju ke Batang. Demikian pengalaman kami minggu lalu. Semoga bermanfaat.

Post a Comment