8 Hal Penting untuk Meningkatkan Peluang Lolos Beasiswa Erasmus Mundus

Table of Contents
Beasiswa Erasmus Mundus
Beasiswa Erasmus Mundus. Foto milik www.jalansitu.com.

Erasmus Mundus merupakan salah satu program beasiswa yang banyak diburu pelajar Indonesia. Beberapa alasan pelajar Indonesia ingin mendapatkan beasiswa ini, antara lain fully funded, reputasi yang baik, bisa berkeliling Eropa (bahkan bisa sampai Yordania), serta ada program studi ekskursi dan kerja magang. 

Contohnya adalah program Joint Masters si emesh yang membuatnya harus pindah ke 3 negara + 1 negara untuk studi ekskursi, yaitu Ceko, Belanda, Belgia dan Prancis.

Namun demikian, banyak yang gamang atau stres duluan melihat banyaknya pendaftar dari seluruh dunia. Padahal, meski pesaingnya banyak, program beasiswa di bawah Erasmus Mundus juga sangat banyak. Perlu diketahui, si emesh bukanlah top student di kampus S1-nya. Banyak yang IPKnya lebih bagus. Tapi si emesh memiliki endurance yang baik dalam melakukan persiapan.

8 Hal Penting untuk Meningkatkan Peluang Lolos Beasiswa Erasmus Mundus yang Harus Dipersiapkan

Sekarang, banyak contoh berkas pendaftaran beasiswa luar negeri yang dapat diakses di internet. Bahkan banyak pula yang membuka kelas-kelas berburu beasiswa. Bagi yang banyak uang, hal itu akan sangat membantu. Jika dana terbatas, tidak perlu patah arang. Teman-teman bisa mencari jalan lain.

Pada masa-masa pencarian beasiswa, si emesh rajin mengumpulkan informasi secara gratis di internet dan reach out awardee di Instagram atau LinkedIn. Memang tak semua awardee membalas pesan karena sebagian tidak terlalu aktif di media sosial atau sebaliknya terlalu populer dengan followers yang sangat banyak sehingga sulit membalas satu persatu. Kita tidak boleh berburuk sangka.

Untuk membantu teman-teman yang berminat mendaftar beasiswa Erasmus Mundus, berikut ini adalah 8 hal penting untuk meningkatkan peluang lolos beasiswa Erasmus Mundus yang harus dipersiapkan:

1. Motivation Letter yang Spesifik

Motivasi tiap orang ketika mengejar sesuatu itu berbeda. Motivasi boleh tinggi, tapi hindari motivasi yang muluk. Hindari pula motivasi yang umum, seperti memotivasi generasi muda, memajukan bangsa dan sebagainya. Walaupun mungkin motivasi yang umum itu memang benar-benar merupakan pendorong untuk mendaftar tapi cobalah untuk mempersempit fokusnya.

Jika bingung menentukan motivasi yang akan diangkat, pelamar dapat menggunakan beberapa hal di bawah ini sebagai pijakan:

  • Pengalaman masa lalu: kejayaan masa lalu yang ingin dikembalikan, kesulitan masa lalu yang butuh solusi atau tantangan dari masa lalu yang ingin dicabar. 
  • Kondisi sekarang: kondisi yang ingin dipertahankan, diperjuangkan atau malah dihilangkan.
  • Cita-cita masa depan: hal-hal yang bisa diraih jika berhasil menjadi awardee.

2. Memilih Program yang Sesuai dengan Latar Belakang (Meski Sedikit)

Ada program S2 Erasmus Mundus yang mensyaratkan lulus S1 jurusan tertentu, ada pula yang tidak. Untuk meningkatkan peluang diterima, meski tidak ada syarat jurusan S1 tertentu, pilih jurusan S2 yang masih berhubungan. Tujuannya adalah untuk meyakinkan panitia bahwa pendaftar tersebut memiliki dasar yang memadai untuk menuntaskan masa perkuliahan tepat waktu, serta ilmunya akan mendukung perkembangan pendaftar.

Jika mengambil program joint master seperti si emesh maka berarti akan berhubungan dengan dosen dan kurikulum yang berbeda dari 3 universitas di negara yang berbeda pula. Jika tidak memiliki dasar yang baik, terutama untuk jurusan-jurusan STEM (Science Technology Engineering Mathematics), maka harus belajar ekstra giat agar tidak ketinggalan.

3. Curriculum Vitae yang Akademik

CV untuk melamar kerja dan mendapatkan beasiswa itu sedikit berbeda. Apalagi jika dalam beasiswa tersebut tidak ada syarat pengalaman kerja. CV untuk melamar beasiswa harus mengutamakan riwayat akademik. Karena itu, selain pengalaman kerja, masukkan semua informasi tentang pendidikan terakhir, pencapaian akademik, penelitian, magang, asisten dosen, organisasi, lomba di bidang akademik, komunitas terkait dan sebagainya. 

Pilih salah satu atau dua item dalam CV yang paling menonjol dan berkaitan dengan program yang akan dilamar untuk ditulis dalam motivation letter. Jika merasa perlu menuliskan karakter diri maka pastikan didukung oleh CV. Contohnya ketika mengaku fast learner maka dalam CV harus menunjukkan bahwa pendaftar lulus S1 dengan cepat, kecuali jika harus jeda untuk pertukaran mahasiswa atau magang.

4. Recommendation Letter yang Kuat

Bagian ini krusial karena sering menjadi penentu. Karena itu, jika memang sudah mengincar Erasmus Mundus, maka usahakan untuk melakukan pendekatan pada pihak-pihak terkait sejak masih menjadi mahasiswa S1. 

Misalnya dengan melamar menjadi asisten dosen dan bekerja sebaik-baiknya. Makin tinggi status dosen tersebut makin baik, misalnya Kaprodi (Kepala Program Studi), Kadep (Kepala Departemen), Profesor dan sebagainya. 

Jangan lewatkan pula peluang untuk menjadi awardee IISMA (Indonesian International Student Mobility Awards) dan program pertukaran pelajar atau program beasiswa lainnya di Uni Eropa. Selama mengikuti program ini, jangan segan untuk melakukan pendekatan dengan dosen atau pengelola laboratorium di universitas yang bersangkutan. Keep in touch dengan mereka sekembalinya ke Indonesia agar mereka selalu ingat jika suatu saat membutuhkan surat rekomendasi. Meski levelnya tidak setinggi dosen dari Indonesia tapi surat rekomendasi dari akademisi di Uni Eropa merupakan nilai tambah.

5. Bahasa Inggris yang Kompeten

Jika memang ingin mendaftar program beasiswa ini, seharusnya selama kuliah S1, bahasa Inggris bukan lagi hambatan. Jika masih kurang lancar maka pendaftar harus lebih giat belajar. Biasanya standar bahasa Inggris Erasmus Mundus adalah IELTS (International English Language Testing System) dengan skor minimum 6,5 - 7. 

Tes IELTS memang tidak murah, yaitu sekitar Rp3.250.000. Jika tidak punya banyak dana maka harus rajin mencari soal-soal latihan gratis di internet dan YouTube agar bisa mencapai standar minimum dalam sekali tes. Jadi jangan pesimis dulu melihat harga tesnya.

6. Siap untuk Hidup Lintas Budaya

Di program yang dipilih si emesh terdapat 20 awardee dari berbagai negara dalam satu angkatan. Dari Indonesia cuma ada satu orang. Siap untuk hidup lintas budaya bukan berarti pernah ke luar negeri, melainkan siap menerima perbedaan di antara sesama awardee dan mampu menyesuaikan diri dengan kondisi negara tujuan. 

Selama program, awardee akan sering mendapat tugas kelompok sehingga dibutuhkan kendali diri yang baik dalam menghadapi berbagai karakter dan latar belakang manusia. Kesiapan ini makin penting jika memilih program joint masters yang mengharuskan pindah negara setiap semester. Ini berarti awardee akan menghadapi suasana kampus, dosen dan instansi yang berubah-ubah.

7. Administrasi yang Rapi

Erasmus sangat ketat untuk urusan administrasi karena bekerja sama dengan banyak pihak dari berbagai negara. Mereka juga harus bertanggung jawab kepada penyandang dana. Jika ada ketentuan yang belum jelas, Erasmus cukup responsif terhadap pertanyaan calon awardee. 

Namun usahakan untuk menggunakan bahasa yang efisien dan sopan karena mereka sangat sibuk. Email yang efisien akan mempercepat segala urusan. Lagipula kemampuan berkomunikasi dapat menjadi cermin kompetensi calon awardee.

8. Percaya Diri, Reflektif dan Realistis

Orang Indonesia sering terlalu banyak basa-basi sehingga surat menyurat dan perkenalan diri menjadi terlalu panjang lebar dan bertele-tele. Bahasa yang digunakan juga sering terlalu merendahkan diri sendiri. Misalnya, "Dengan segala kerendahan hati dan atas izin Tuhan yang Mahaesa ...."

Gunakan bahasa yang mencerminkan rasa percaya diri tapi tidak berkesan jumawa atau arogan. Harus diingat pula, calon awardee bukanlah sales sehingga tak perlu mempromosikan diri secara berlebihan karena mereka sudah berpengalaman mencari kandidat dengan kompetensi yang sesuai. Ini terbukti melalui karakter teman-teman sesama awardee si emesh yang umumnya tenang dan rajin belajar.

Kami berharap makin banyak pelajar Indonesia yang meneruskan pendidikan tinggi di negara maju untuk menularkan budaya belajar tanpa batas. Apalagi dengan biaya yang sepenuhnya ditanggung oleh negara lain sehingga dana pendidikan dari pemerintah Indonesia bisa digunakan oleh teman-teman yang benar-benar tidak bisa menembus pendidikan tinggi lainnya.

Post a Comment